Kue Ku, Kue-mu, Kue Kita Semua

Selamat Tahun Baru Imlek 2021. Gong Xi Fa Cai. Damai di hati damai di bumi untuk kita semua.

Kue Ku, Kue-mu, Kue Kita Semua
Konon, kata ‘kue’ merupakan satu kata serapan dari Bahasa Hokkian, Tionghoa. Kata aslinya adalah koé. Lalu, ‘kue ku´ yang merupakan salah satu kue kegemaran saya, konon juga merupakan kue yang berasal dari daratan dan/atau budaya Tiongkok.
 
Nama lain kue ku adalah kue thok, dan disebut juga sebagai kue kura-kura merah—meski ada juga yang berwarna hijau. Bentuknya bulat atau lonjong, ukurannya kecil saja. Bila diletakkan di telapak tangan, muat sudah. Bagian bawahnya selalu dialasi daun pisang. Dibuat dengan cara dimasak dengan metode pengukusan.
 
Bagian luarnya terbuat dari campuran ubi jalar dan tepung beras ketan. Mengkilap karena mengandung minyak. Kenyal apabila digigit, tapi enak. Isinya yang manis, bagaikan hadiah yang menyenangkan setelah susah payah mengigit bagian kenyalnya. Tak sulit-sulit amat sih sebenarnya memutus kekenyalannya dengan gigi.
Bagian isinya yang lembut, manis, dan paling enak itu; terbuat dari kacang hijau atau kacang tanah tumbuk yang dicampur gula.
Berakar dari budaya Tionghoa, di Indonesia kue ini sudah masuk ke kehidupan orang Indonesia yang terdalam. Selalu hadir dalam berbagai hajatan. Tergolong sebagai kue basah yang tergabung dalam kelompok jajan pasar.
 
Ada cetakan khusus untuk membentuk bagian atasnya yang seperti cangkang kura-kura. Tadinya, saya pikir itu adalah bentuk semacam mata uang Cina kuna.  Kesimpulan yang saya peroleh, setelah melihat beberapa kenyataan kasat mata.
 
Misalnya, karena warnanya yang merah. Imlek yang diharap membawa banyak rejeki, selalu identik dengan warna merah. Warna merah memang melambangkan kemakmuran. Banyak orang yang menghitung rejeki sebagai keuntungan secara finansial, bukan?
 
Kue ku juga selalu diletakkan di meja persembahan. Meja khusus yang selalu ada di setiap rumah para keluarga yang merayakan imlek. Saya perkirakan, maksudnya adalah untuk memberi uang secara tak bentuk kepada para leluhur. Demikian alasan-alasan yang menguatkan pendapat saya bahwa bentuk kue ku adalah lambang uang.
 
Ternyata, alasan kenapa ia selalu berada di meja persembahan adalah, karena rasa manis dari kue ini merupakan harapan akan keberuntungan dan kesehatan sepanjang tahun. Bentuk kura-kura ternyata sebagai lambang dari doa untuk umur panjang seperti binatang tersebut.
 
Berhubung kue sarat makna ini adalah kue kesukaan saya, maka bila ke pasar, di bagian jajan pasar, kue ku adalah kue yang pertama saya beli. Di berbagai hajatan, ia menjadi kue pertama yang saya sambar. Apalagi kalau imlekan.
 
Dulu saya bekerja di satu perusahaan kecil milik sebuah keluarga Tionghoa. Batas antara rumah dan tempat kerja sangat cair. Lebih disebabkan karena keterbatasan tempat saja. Saat imlek, meja persembahan dipasang dekat lokasi lalu lalang orang.
 
Pada masa itu, jaman orde baru, imlek tak dianggap sebagai hari libur resmi. Maka, kantor buka seperti biasa. Girang hati saya saat pagi hari melihat sejumlah besar kue ku turut hadir di kantor-rumah itu. Disusun di piring lonjong besar, lalu diletakkan di meja sembahyang.
 
"Kue ku-nya bisa dimakan?" tanya saya sambil menelan air liur.
 
"Tentu bisa," jawab ibu bos tanpa melihat ke saya, sehingga ia tak tahu betapa saya mupeng.
 
Wah, senangnya! Kerja hari itu penuh dengan semangat tambahan. Gara-gara ada kue ku di meja persembahan. Tak mengapa permukaannya kena abu hio, saya sebul-sebul saja. Entah berapa banyak tuh kue ku yang saya makan dari pagi sampai sore.
 
"Eeeeeeee, ni kue ku-nya pada ke manaaa!!!" tiba-tiba terdengar mami-nya ibu bos menjerit panik.
 
Dengan kaget, para bos langsung lari mendatangi si mami. Beberapa pegawai yang ikutan kaget juga mengikuti. Termasuk saya.
 
"Ada apa, mam?" tanya ibu bos.
 
"Ini lihat, piring kue ku-nya kosong begini. Ke mana isinya?"
 
"Aduh! Apa diambil Popo dan Mimu ya?" ibu bos bertanya pada dirinya sendiri.
 
Popo dan Mimu adalah anjing-anjingnya para bos.
 
"Nggak mungkin, mana mereka doyan," kata pak bos.
 
"Barangkali saja...," ibu bos berkeras.
 
"Saya pernah coba kasih dulu, boro-boro, diliat aja nggak," pak bos berkeras.
 
“iya ya, lagi pula, kalau mereka sampai naik ke meja persembahan, pasti semuanya sudah berantakan,” ibu bos berselidik bagai detektif kriminal—padahal dia penggemar berat horor Stephen King.
 
"Ah, saya juga ikut makan beberapa," saya nyeletuk.
 
Tiba-tiba ruangan menjadi sunyi lan senyap. Semua mata memandang saya. Semua rahang bawah jatuh ke lantai.
 
"Tapi kan atasnya penuh abu hio?" salah satu pegawai berucap heran.
 
"Ditiup-tiup aja sebisanya,” saya menjelaskan sambil memperagakan gerakan meniup ke telapak tangan kanan yang menengadah.
 
"Lu gila ya! Itu kan makanan buat tepekong!!!" maminya ibu bos bersuara lagi.
 
Tepekong itu kalo nggak salah artinya dewa. Eh, saya makan makanan buat dewa!?
 
Kesunyian pecah oleh tawa semua orang, yang semua matanya masih melekat ke saya.
 
"Gawat si Nina, kue ku-nya dihabiskan semua," ibu bos berkata sambil menyeka matanya yang berair karena tawa kerasnya.
 
"Tapi kan semua pasti juga pada ambil. Nggak mungkin cuman gue sendiri yang makan," kata saya membela diri.
 
"Nggaklah. Semua kecuali kamu tau koq kalo itu makanannya tepekong," sahut pak bos yang juga masih tergeli-geli.
 
Saya memang yang paling baru di situ. Satu-satunya yang pertama kali mengalami imlekan bersama di rumah itu. Tapi, eeeh, masa sih itu semua saya yang makan? Waduh... Ya tapi bagaimana, enak sih! Makanan untuk dewa memang premium!
 
"Tadi saya tanya sama ibu bos, kue ku-nya bisa dimakan apa nggak, dijawab 'bisa'," saya membela diri.
 
"Saya kira kamu bertanya itu kue betulan yang bisa dimakan, ataukah plastik alias mainan," jawab ibu bos.
 
Waaaaah... Tengsin!!!
 
"Minta maaf sana!" goda pak bos.
 
Entah maksudnya minta maaf pada si mami, atau pada tepekong.
 
Mami ibu bos ngomel panjang buntut ular pendek buntut kodok. Kurasa, beliau mungkin kemudian yang minta maaf dalam sembahyang-nya. Maafkan saya ya, tepekong…
 
Sisi baik dari kejadian itu, setiap kali si mami membeli atau membuat kue ku, beliau akan menyisihkan yang khusus buat saya. Semua diwanti-wanti untuk tidak menyentuh bagian saya itu. Kemudian, masih dua kali lagi saya mengalami imlek di situ. Tiap kali, si mami pasti juga akan menyisihkan kue ku khusus buat saya.
 
"Nina, nih buat lu. Jangan lagi lu ambil jatah punya tepekong," katanya.   =^.^=