Konco Saklawase

Konco Saklawase
https://jabar.idntimes.com

Puntung rokok di ujung jari Ronggo melayang keluar jendela, selagi truknya melaju perlahan di jalan berkelok antara Pemalang dan Pekalongan. Dia sengaja tak lewat Tol Pemalang supaya bisa mampir sebentar ke Pantai Ngisik dan nongkrong di Warung Makan Alpiyah.

Ronggo melirik botol hitam kecil yang tergantung di kaca spionnya. Jalanan yang tak rata membuat botol itu terguncang-guncang, dan isinya ramai bergelentingan. Jalanan itu sudah berulang kali dibetulkan, tetapi tetap gonjrang-ganjrung rasanya jika dilewati.

Truknya melambat saat melihat beberapa anak berlarian di pinggir jalan. Agak jauh, teman-teman mereka sibuk menyelepet pohon mangga yang hampir doyong karena kebanyakan buahnya. Di sebelah kanan, petak-petak sawah yang hijau melebar di bawah rentang kabel listrik panjang yang menjulur-julur. Sesekali terlihat orang-orangan sawah dari tas plastik dan kain yang berlambaian ditiup angin.

Jembatan yang melintasi sungai Pencongan sudah mulai kelihatan ujungnya.

Ronggo tersenyum, ingatannya mulai berkelana mengingat para sahabatnya ketika kecil, Lesmono dan Satrio Legowo. Dari kecil ke mana-mana bareng. Di kampung, rumah mereka bersebelahan. Dari SD sampai SMP, terus-terusan sekelas karena di sekolah orangnya cuma itu-itu saja. Saat orang tua bertani di sawah, mereka berkeliaran cari burung di hutan sebelah, nyemplung di kali Pencongan yang airnya jorok sambil tangkap kecebong, atau main gelindingan pakai rangka ban sepeda.

Walaupun di desa mereka tak banyak orang kaya, tetapi Ronggo memang yang paling melarat di antara semua temannya. Sebagai anak terkecil dari sembilan bersaudara, Ronggo selalu harus mengalah. Baju-baju dan perlengkapan sekolahnya lungsuran atau berasal dari sumbangan tetangga. Setiap hari belum tentu bisa makan tiga kali sehari, tergantung pendapatan Mbok hari itu jualan ketela.

Saat masih kecil, Ronggo sering digencet oleh anak lain karena dia paling dekil dan lusuh. Betapa tidak? Dia selalu berkeliaran di luar rumah karena capek mendengar Bapak dan Mbok bertengkar terus gara-gara duit. Kadang bisa tiga empat hari tidur di gubuk dekat tegalan sawah karena malas pulang. Tak ada yang mencarinya. Mbok dan bapaknya mungkin malah lega kalau dia tak pulang, begitu pikirnya.

 

"Kowe mbok mikiirr, Pak! Anakmu wakeh, buanyakk! Kenapa tho masih adu jago dan beli perkutut? Perkututmu kalau kugoreng cuma ngotori cangkem, ora kenyang!"

Mbok merepet panjang pendek seperti biasa.

"Kowe ra ngerti? Aku setresss iki, Mbook, setreessss! Bhendino diomeli! Aku yo nggawe nang sawah. Makanya aku pergi ngadu jago supaya ora ndhelok raimu!!"[1]

Bapak balas membentak Mbok sambil melempar gelas kaleng yang dipegangnya.

"Oooh, ternyata kowe tho sing nangkepi perkututku!! Mesti ilang terus! Aku nyesell kawin karo kowe!" geram Bapak kesal.

"Dengkulmu! Duasar mblegedhes!! Sa' karepe kalo nuduh, kowe! Nyesel, nyesel... kok nggawe bocah songo!!"[2] Mbok terus misuh-misuh ngomel, semua caci-maki berhamburan keluar dari mulutnya.

Bapak tak mau kalah, suaranya makin lama makin keras, hingga kopi di meja makan turut gemetaran.

Rejo, Pinanti, Towo, kakak-kakak Ronggo satu per satu melipir keluar, pusing mendengar orang tua mereka yang selalu ribut. Painem dan Sukinah jambak-jambakan di ranjang depan, berebut gincu pemberian Mbak Odang, TKW yang baru pulang dari Dubai. Tiga kakak Ronggo yang lain setelah kawin, entah resmi atau tidak, sudah tak pernah lagi pulang, apalagi bantu-bantu kasih uang.

Hati Ronggo selalu tersayat-sayat tiap kali mendengar orang tuanya bertengkar. Pilu rasanya. Namun hari demi hari, bulan demi bulan, situasi rumahnya tetap sama. Selapis demi selapis, lubuk hatinya mulai mengeras, menjadi sebuah pondok.

Setiap orang membangun pondok dalam hati masing-masing. Pondok yang tak pernah sungguh-sungguh ditinggalkan. Pondok Ronggo dibangun dari kepedihan yang bertumpuk, dan dipagari ruas-ruas berduri yang penuh kegetiran hidupnya. Pondok tempat hatinya berlindung dan melarikan diri makin lama makin kelam tanpa secercah pun cahaya.

Ronggo menyeret langkahnya menuju muara membawa sebuah tas plastik, isinya tampak bergerak-gerak. Di balik pohon asem, dia mengeluarkan isi tas plastik itu. Seekor perkutut, milik ayahnya. Ronggo menatap burung tak berdaya itu dengan pandangan dingin. Dia sangat benci perkutut itu. Gara-gara perkutut, ayahnya selalu menghabiskan uang dan memicu pertengkaran dengan ibunya. Tentu dia tak bisa melampiaskan murkanya kepada ayahnya.

Maka burung itu menjadi saluran amarahnya, lambang kebencian terhadap situasinya.

Tangannya yang kecil tetap memegang leher burung itu, lalu...

"Kraaakkk!" Dia meremukkan kepala perkutut itu dengan dahan besar.

"Kraaakkk! Kraaak! Kraaaak!!!" dua kali, tiga kali, empat kali...

Kepala burung itu terburai, otak dan darahnya menetes di tangannya yang mungil. Ronggo tersenyum puas, menyeringai sadis, lalu mengais-ngais tanah di sekitar kaki pohon.

Gundukan tanah terkuak, dan tampak ada beberapa bangkai burung perkutut yang sudah membusuk di sana. Tubuh perkutut yang terkulai di tangannya dilempar masuk ke liang lahat unggas berjamaah itu. Tak ada rasa iba sedikit pun di hatinya, hanya ada kepuasan, walau sejenak.

 

******

 

"Ireeng! Ireeeng!" Ronggo memanggil-manggil sambil berkeliling di pasar.

"Ireeng! Ck, ck, ck... Ke mana kamuu?"

Sudah beberapa bulan ini Ronggo mulai senang hatinya. Tempo hari saat pulang sekolah melewati pasar, ada seekor anjing buduk yang terus mengikutinya. Awalnya, anjing itu berjalan agak jauh, dan melipir saat Ronggo menengok. Tetapi setelah Ronggo memancingnya dengan sisa nasi yang berkerak, anjing itu mulai mendekat dan tak takut lagi.

Anjing itu menjilati tangan Ronggo, lalu memandangnya dengan mata riang. Ekornya dikibas-kibas, ingin bermain. Kepalanya disundulkan ke tangan Ronggo, minta dibelai. Ronggo tertawa, dan mulai mengusap kepala dan perut anjing buduk itu, dan mereka mulai akrab.

Ronggo yang tak pernah punya teman, terketuk hatinya, karena dia bisa memahami Ireng, begitu nama yang diberinya untuk si kirik, anjing itu. Ireng selalu sendirian, seperti dia. Ireng berkulit buduk, korengan, dan dekil, tak diinginkan siapa pun, seperti dia. Ronggo seolah-olah memandang dirinya sendiri dalam wujud Ireng.

Ronggo membuat bola kecil dari rotan agar bisa main lempar-lemparan bola bersama si kirik. Mereka berdua makin lama menjalin persahabatan yang unik. Rasa kasih yang tak pernah dia rasakan sebelumnya untuk siapa pun, mulai berpucuk di ujung sanubarinya.

Ireng selalu menunggunya di depan rumah, dan mengantarnya ke sekolah. Usai sekolah, Ronggo tak sabar menemui Ireng untuk bermain bersama di pinggir kali. Ronggo rela mengorek sampah di depan kedai Pak Makmur untuk mencari sisa makanan bagi anjingnya. Ireng, tak seperti namanya, sedikit demi sedikit mengubah hidup Ronggo menjadi pelangi.

Dua hari ini, Ronggo tak melihat Ireng di sekitar rumahnya lagi. Entah dia pergi ke mana. Ronggo mulai resah, dia takut Ireng tertabrak motor, atau dikepruk orang dan dibuang di kali. "Ireeng, Ireeng! Nang endi kowe?"[3] serunya sambil terus mencari-cari hingga ke pasar.

Mendadak, dia melihat ujung ekor anjing yang bergerak-gerak di belakang kedai Mbok Dalu.

Ronggo cepat menengok, dan dia mendapati Ireng sedang asyik mengerjai anjing betina dari belakang. Muka Ronggo langsung memerah, dan tanpa tedeng aling-aling, dia menjumput batu di tanah dan menimpuk kedua anjing yang sedang asyik-masyuk berasmara.

"Kaing! Kaing! Kaing!" anjing betina itu langsung tunggang-langgang kabur. Ireng terkejut, tetapi senang melihat Ronggo. Ekornya dikibaskan riang seperti biasa.

Ronggo menghampiri Ireng dan menggendongnya untuk dibawa pergi. Jalannya tergopoh-gopoh, napasnya pendek-pendek. Sambil lewat, dia melihat pisau tergeletak di depan kedai Koh Aseng, dan langsung disambarnya. Lalu Ronggo berjalan cepat, hampir berlari hingga gang belakang yang sepi. Hatinya begitu terluka, kecewa atas pengkhianatan Ireng. Ronggo begitu tulus menyayanginya, tetapi Ireng malah bercintaan dengan anjing lain? Huh!

Betapa sulit Ronggo membuka hati untuk menerima makhluk lain dalam hidupnya. Namun Ireng tampaknya begitu gampang berpindah hati. Ronggo tak bisa menerimanya.

Tanpa menunggu, Ronggo memegang leher Ireng, dan...

"Jruuuussshh..." pisau di tangannya langsung menghunus leher Ireng. Darahnya bercucuran ke mana-mana. Ronggo tak peduli. Matanya menjadi beringas, merah. Seluruh emosi dalam hatinya terluapkan, dan entah kenapa, endorfin dalam otaknya langsung menyembur, memberi perasaan puas, dan lega luar biasa.

Ronggo bangkit, dan berjalan meninggalkan bangkai Ireng yang tergeletak, tanpa ditengok lagi.

Setelah peristiwa itu, Ronggo lebih suka pergi menyendiri. Keadaan rumahnya yang selalu kisruh membuat Ronggo jadi mandiri, lebih dewasa dan matang dibanding anak seusianya. Saat sendirian, Ronggo sering ngumpet di perpustakaan sekolah, menenggelamkan dirinya dalam buku-buku bekas sumbangan LSM Pekalongan. Baginya, membaca menjadi tempat suaka, kabur dari kenyataan hidupnya. Di dalam buku-buku itu, isi kepalanya bisa melanglang buana ke mana saja, menjadi apa saja sesukanya. Entah berapa kali dia menjadi kesatria sakti mandraguna yang menyelamatkan putri raja, begawan bijak yang berhasil menggiring jutaan umat, jagoan ahli pedang yang dijunjung seluruh kerajaan, bintang film tenar, atlet jawara internasional... apa saja, asalkan bukan Ronggo.

"Kowe Ronggo, tho? Ngopo nang kene?"[4]

Ronggo dikejutkan oleh suara anak lelaki. Dia mendongak dan di depannya ada Mono dan Satrio.

"Ora popo... Tak apa-apa..." jawab Ronggo lirih.

"Opo kowe gelem iki?[5]" sahut Mono enteng sambil menawarkan kue geplak buatan ibunya. Harumnya kelapa dan gula dari kue itu menari-nari memasuki liang hidung, membuat perutnya berbunyi tanpa disadari. Ronggo terhenyak. Baru kali itu ada orang yang berbaik hati kepadanya. Biasanya, anak lain malah suka menghina, menendang, bahkan meludahinya.

"Nuwun."[6] Ronggo menerima dengan ragu-ragu. Mono cuma nyengir dan ikut ndelesot duduk di lantai.

"Kowe iso mocone?"[7] tanya Satrio kagum. Ronggo mengangguk, dan mulai membacakan buku yang dipegangnya. Mono dan Satrio menyimak dengan mata berbinar-binar mendengar lantunan suara Ronggo yang fasih berbahasa Indonesia.

Sejak saat itu, Ronggo mulai lengket dengan Mono dan Satrio.

Bapak Mono kepala desa, jadi fasilitas di desa gampang diakses oleh mereka bertiga. Kalau nonton layar tancap, mereka bisa duduk di baris depan. Ketika ada pasar kaget, mereka bisa tahu lebih awal dan datang duluan. Jika ada tamu pejabat yang mampir, mereka ngumpul di dapur balai desa, nyortir makanan sekalian dicopeti.

Anak-anak yang biasa menggencet Ronggo pun jadi mundur setelah lihat siapa yang selalu berendeng dengannya. Satrio, sesuai namanya, selalu membela Ronggo dan Mono mati-matian. Badannya yang kekar membantunya untuk menjadi pengawal pribadi kedua sahabatnya. Berkat mereka, Ronggo tak lagi merasa kesepian. Bahkan, dia lebih menganggap Satrio dan Mono sebagai saudaranya dibanding keluarganya sendiri.

Bertahun-tahun persahabatan dengan Mono dan Satrio membuat Ronggo menyadari bahwa kebahagiaan itu ternyata ada. Ronggo yang saat kecil tak memercayai lagi keeratan hubungan antara sesama manusia, kini berubah 360 derajat. Padahal kebahagiaan itu timbul dari hal-hal yang simpel. Makan rujak bareng sambil nongkrong di depan TV, bermain karambol berjam-jam sambil cekakakan, menyanyi karaoke dangdut dari video YouTube... semua itu begitu sederhana, tetapi sangat berharga baginya. Kebersamaan mereka membangun kembali pelangi di hatinya yang pernah sirna. Pondok berlapis duri di hatinya runtuh dan kini dipenuhi bunga aneka warna.

Setelah lulus SMP, Ronggo mendapat beasiswa dari sebuah LSM untuk melanjutkan ke SMK negeri. Walaupun diterima di SMK Pekalongan, Ronggo memilih untuk masuk SMK di Pemalang. Mono memaksa bapaknya untuk ikut menyekolahkan dia ke SMK yang sama. Entah berapa pejabat yang disogok bapak Mono supaya dia diterima di sana. Satrio tak mau lagi melanjutkan sekolah, tetapi juga tak mau berpisah dengan para sahabatnya. Maka dia memilih untuk jadi kenek angkudes, juga di Pemalang.

Pak Kus, bapak Mono, menyewakan rumah kecil untuk mereka bertiga di Jalan Sumbing, tak jauh dari warung lotek Mbak Yanti. Sejak saat itu, mereka selalu tinggal bersama, hingga lulus SMK dan bekerja. Tanpa biaya yang cukup, Ronggo tak bisa lagi melanjutkan pendidikannya walau otaknya mampu. Setelah beberapa tahun jadi kuli bangunan, tabungan Ronggo cukup untuk membeli sebuah truk bekas, dan beralih profesi menjadi sopir truk bangunan.

 

*******

 

Be Are The Kill As All Come Pack. Satrio sibuk membuat tulisan yang bisa ditempel di angkudesnya.

"Iki opooo, Yo?"[8] Ronggo geleng-geleng melihat tulisan yang mirip bahasa Inggris itu.

"Be are niku salah, mestine we are."[9] komentar Ronggo lagi yang sok jago berbahasa Inggris.

"Ini kan semboyan kita, Nggo. Mosok kowe ra ngerti?"[10] dalih Satrio.

"Yo ora ngonoo..."[11] Ronggo masih belum ngeh dan terus menggurui temannya.

Satrio mendengus, pura-pura tak mendengarkan, masa bodoh. Mono terbahak melihat kelakuan teman-temannya, lalu mencoret-coret di tanah. Setelah itu, dia menunjukkan ke Ronggo.

Be Are No Why, begitu tulisannya. Ronggo mendelik kepada Satrio, tak paham.

"Biarno wae." [12] ujar Mono cekakakan. Ronggo pun terkekeh-kekeh.

Satrio diam-diam merasa minder dari teman-temannya. Cuma dia yang lulusan SMP di antara mereka bertiga. Kedua orang tua Satrio petani, tetapi punya sawah sendiri, jadi mereka tak terlalu tergantung dari juragan sawah yang seenaknya kasih upah. Keluarganya bukan orang kaya seperti Mono, tetapi juga tak terlalu melarat seperti Ronggo.

Otaknya yang pas-pasan membuatnya ogah melanjutkan sekolah. Untuk apa? Dia lebih suka cari uang supaya bisa bantu-bantu membayari sekolah adiknya. Namun, berkat tinggal di rumah sewaan yang dibayari orang tua Mono, Satrio tetap bisa berhemat dan menabung. Apalagi setelah orang tuanya mulai menolak uang yang disisihkannya tiap bulan untuk mereka.

"Simpen saja uangmu, lé... Uang Ibu sudah banyak. Kamu kan perlu untuk kawin," begitu ucapan ibunya dengan sabar.

"Walah, Bu, calonku masih ora ono..." jawab Satrio sambil cengengesan dan melipat kembali gepokan uang puluhan ribunya.

Cita-cita Satrio memang sederhana saja. Punya istri dan keluarga. Istri yang penyayang, lembut hati, tak pernah mengeluh, seperti ibunya. Tak perlu cantik, asal setia, begitu pesan bapaknya. Duh, boro-boro cantik, asal ada perempuan yang mau saja, Satrio sudah seneng banget. Tubuhnya yang kekar dan kulitnya yang gelap memberi kesan ibarat dia orang yang sangar. Padahal hatinya yang paling halus dibanding teman-temannya.

"Badan Rambo, hati Rinto," begitu selalu ledekan Mono setelah melihat Satrio menangis tersedu-sedu sepulang menonton film Ayat-Ayat Cinta.

"Nek aku nduwe bojo, ora bakalan ta' madu..."[13] ujarnya lirih di antara isaknya. Mono dan Ronggo sakit perut mentertawakan Satrio, pemuda berbadan tegap dan kekar yang terus sesenggukan itu.

Beberapa bulan ini, Satrio agak berubah. Dia jadi lebih ceria, riang, sumeh, padahal biasanya sendu dan sensitif. Para sahabatnya belum tahu, tetapi Satrio sedang kasmaran dengan seorang gadis yang jadi langganan angkudesnya, Risma, yang tinggal di Wanasari.

Gadis tukang jahit di Pasar Pagi ini sudah lama jadi langganan dan kenal Satrio. Si kekar yang pemalu ini tersentuh hatinya karena Risma, dibanding gadis lainnya, tak menganggapnya seram, tetapi selalu ramah kepadanya. Satrio akhirnya memberanikan diri untuk mengajak pacaran, dan Risma, tak disangka-sangka, ndilalah, setuju. Si Rambo berhati Rinto kini semakin mendayu-dayu kelakuannya.

"Engkau adalah alienku

Yang merebut hatiku tanpa kutahu

Hatiku terus menderu-deru

Sejak bibirku tersambit oleh bibirmu

 

Setiap hari kuantar kau pulang

Lalu aku kembali sendirian

Tak sabar rasanya aku menantikan

Ketika kita pulang bersama ke peraduan"

 

"Oppooo iki??"[14] Ronggo kaget hampir tersedak saat melihat secarik kertas yang tergeletak di meja kamar Satrio.

Satrio cuma meringis, dan tersenyum-senyum bodoh.

"Kowe nduwe pacar tha?"[15] desak Ronggo lagi.

"Iyo..." jawabnya sambil cengar-cengir.

"Wong endi? Sopo jenenge?"[16] tanya Ronggo lagi.

"Wanasari... Jenenge Rismawati. Bulan depan ta' lamar..." sahut Satrio santai.

"Haaa? Kok kesusu?[17] Trus? Rencanamu apa habis itu?" Ronggo semakin bingung.

"Yo kawin! Abis itu aku pindah ke Warurejo." jawab Satrio.

Ronggo mendelik. "Dadi kowe ora tinggal bareng nang kene meneh?"[18]

"Yo ndak to... piye, kowe? Mosok kemanten anyar tinggale kanggo jomblo? Aku yo ra gelem!"[19] Satrio menyahut sambil terkekeh.

"Terus, janji kita gimana? Semboyan kita kan harus selalu kompak! Kita selalu bertiga, sejak dulu! Sekarang ada perempuan, baru kenal, kamu langsung lupa sama aku dan Mono? Apa-apaan ini??" suara Ronggo mulai meninggi, napasnya makin cepat.

Satrio terhenyak. Baru pertama kali ini dia melihat Ronggo bereaksi seperti itu. Ronggo yang biasanya pendiam dan tenang, kini jadi tampak panik, emosi, matanya bahkan jadi merah. Tangannya terus-menerus dikepal dengan keras.

"Ngopo kowe, Nggo?[20] Mestinya kan kamu malah seneng lihat aku seneng..." Satrio berusaha menenangkan Ronggo sambil memegang bahunya.

Ronggo menepis tangan Satrio dengan keras, hingga Satrio terperanjat, lalu Ronggo tergopoh-gopoh keluar dari kamar. Satrio cuma terdiam, sama sekali tak paham.

Sore itu, Ronggo kembali menemui Satrio.

"Maaf reaksiku, Yo," sahut Ronggo, tatapannya mulai tenang, walau agak dingin.

"Aku sing minta maaf, Nggo. Aku ndak kasih tahu lebih awal..." jawab Satrio, menyesal.

"Kalau mau, nanti urusan lamaran, biar aku bantu." ujar Ronggo.

"Bener toh? Wah, matur nuwun banget, Nggo!" sahut Satrio kegirangan.

"Ya, tapi sekarang ikut aku dulu ya? Bantu aku sik."

"Bantu opo?" Satrio bertanya.

"Ono wae.[21] Sudah, ndak usah tanya-tanya, ayo ikut." Ronggo berdalih sambil tersenyum.

Tanpa curiga, Satrio masuk ke dalam truk Ronggo, lalu mereka melaju ke arah kota Pekalongan, diiringi lembayung senja yang mulai beralih menjadi jingga. Sejumlah burung murai berkejaran di penghujung cakrawala, mengantar mentari yang siap-siap menyerahkan singgasananya kepada bulan purnama.

*****

Beberapa bulan berlalu. Ronggo sibuk membenahi pagar biru rumah mereka dengan palunya yang berat. Mono keluar dari beranda sambil mengambil surat kabar yang terselip di pagar.

"Nggo, ono kabar dari Satrio?" tanya Mono sambil lalu.

"Ora ono babar pisan..."[22] sahut Ronggo dengan nada rendah.

"Duh, bocah ini piye to?[23] Kancut asem..." Mono menggerutu kesal.

"Lho, salahmu dewe. Waktu dia mau pergi, kowe ndak pulang-pulang seminggu, jadi dia ora iso pamit." sangkal Ronggo santai.

"Ya kan dia masih bisa telepon... dasar alasan!" Mono terus misuh-misuh sambil membuka-buka surat kabar hari itu.

Di halaman tengah, Mono terpaku membaca sebuah artikel.

"Mayat Hanyut di Kali Comal.

Hari Kamis lalu, seorang pesepeda menemukan mayat tak dikenal yang terapung hanyut di dekat perahu di kali Comal, Pekalongan. Korban berjenis kelamin pria, mengenakan kaus merah bertuliskan 'Happy Day', bercelana jins hitam. Mayat yang menggelembung karena penuh air ini diperkirakan sudah lama tewas. Menurut forensik, ditemukan luka berat akibat pukulan benda tumpul di kepala, dan dua gigi depan bawah tampak dicabut pascamortem. Polisi masih menyelidiki identitas korban dan sebab kematian..."

"Nggo, inget ora? Satrio kan sering pakai kaus merah 'Happy Day', yo?" ujar Mono agak panik.

"Mosok? Aku ora inget," sahut Ronggo santai.

"Ada mayat di kali Comal, pakai kaus Happy Day. Iki jangan-jangan Satrio..." suara Mono mulai bergetar, ciut.

"Ah, ojo mikir sing elek-elek. Wong Satrio saiki lagi telanjangan kanggo bojone nang Wirorejo...[24] Wis, kita doakan saja. Kalo dia sudah lupa sama kita, ya sudah..." ujar Ronggo tenang.

Mono menatap Ronggo, tetapi Ronggo tak tampak cemas, hingga kepanikan Mono mereda.

"Yo wis... semoga ya..." sahut Mono, lalu beringsut masuk ke kamarnya.

 

Sejak dia tak tinggal di rumah orang tuanya, kelakuan Mono makin seperti kuda liar yang lepas kendali. Dahulu di Pekalongan, walaupun dimanja setengah mati oleh Pak Kus, ibunya masih bisa mengekangnya. Bu Kus sama sekali tak setuju dengan cara didik Pak Kus yang terlalu mengumbar Mono.

"Anak itu mesti tahu batasnya, ndak iso dituruti terus kemauannya..." begitu omel Bu Kus tiap kali kepada suaminya.

"Jaluk montor, diwenehi, jaluk omah, diwenehi. [25]Kapan dia bisa mandiri?"

"Benke wae..." begitu selalu jawaban Pak Kus. Biarkan saja, katanya. Kesibukan Pak Kus hingga dia tak pernah di rumah, membuatnya merasa bersalah kepada putra semata wayangnya. Hingga dia selalu mengungkapkan rasa kasihnya dengan harta benda yang berlebihan.

Mono, yang semakin bengal setelah pindah ke Pemalang, mulai bergaul dengan orang-orang yang salah. Miras, narkoba, rumah bordil, kini menjadi camilannya sehari-hari. Satrio dan Ronggo tak pernah curiga dengan kegiatan Mono, karena Mono selalu berdalih bahwa dia punya bisnis jamu dari Solo. Padahal, Ronggo kini menjadi salah satu antek gembong narkoba terkenal di Jawa Tengah.

"Halo?" telepon Mono berdering.

"No, gawat, No! Gawatt!!! Haduuh!!" suara di ujung seberang memekik.

"Ono opo?"[26]

"Jarot ketangkep, No!"

"Haaa??? Kapan?" Mono panik.

"Kemarin malam, di perempatan Ahmad Yani. Dia sama Manto dan Umar."

"Tiga-tiganya? Kok isoo?" seru Mono. Keringat dingin di keningnya mulai menetes.

Sejak Parno tertangkap minggu lalu, satu demi satu anggota gembongnya mulai terungkap. Tinggal masalah waktu sebelum Mono dan sisa antek lainnya bisa dibekuk.

"Kowe kudu minggat, No, saiki!!"[27] ujar temannya di ujung telepon.

Mono buru-buru menutup telepon dan bergegas mencari tas kain yang cukup besar. Dia mulai memasukkan barang-barangnya ke tas, saat Ronggo lewat.

"Mau ke mana lagi, No?" tanya Ronggo.

Mono berpaling, wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar.

"Aku mesti minggat, Nggo... aku bakal dicekel polisi..." suaranya mulai tersendat, mau menangis.

Ronggo menatapnya lekat-lekat, tak paham. Dia menghampiri Ronggo, dan meremas lengannya keras-keras.

"Kowe nglakoke opoooo???"[28] Ronggo geram dan nada suaranya makin berat.

Dengan gagap dan terpatah-patah, Mono mengakui tentang semua keberandalan dan kegiatan gelapnya bersama Jarot, menjadi gembong narkoba, dan hal lainnya.

Ronggo terduduk lemas di ranjang Mono, matanya tampak kosong, masih setengah percaya akan hal yang didengarnya. Mono jongkok di dekat tasnya yang berisi beberapa pakaian, sepatu, dan keperluan mandi.

"Jadi, kowe mau ke mana saiki?" tanya Ronggo akhirnya.

"Mbuh... pokoknya aku harus mabur," jelas Mono, masih tergagap panik.

"Ayo, biar aku antar kowe minggat..." ujar Ronggo sambil bangkit keluar.

"Bener tho, Nggo? Ayo kita berangkat sekarang! Ke mana kita, Nggo?" Mono secepat kilat mengambil tasnya dan beranjak menyusul sahabatnya.

"Ke tempat sing adhoh..."[29] jawab Ronggo singkat.

Mono mengangguk-angguk dengan cepat, tanpa menjawab. Kini, apa pun ucapan sahabatnya dia turuti, asalkan dia bisa cepat pergi.

Kedua mata burung pungguk di atas pohon beringin mengikuti kepergian truk Ronggo yang melaju ke arah selatan, menuju kegelapan malam yang kelam dan dinginnya mencekam.

*****

"Ayo toh, cepet jalanmu... kok lambat sekali sih?" Joko bersungut-sungut sambil tak henti berpaling ke Dibyo, yang berjalan lima meter di belakang.

Dibyo mengelap peluh dari keningnya. Badannya yang besar dan gemuk agak sulit mengikuti langkah Joko yang lincah berjalan. Cuaca terik siang itu tak membantunya mendaki Gunung Gajah dengan lebih mudah. Ratih, Kencana dan Patih sudah lebih jauh mendahului Joko di depan.

"Jokooo! Tunggu! Airku habis. Bisa minta minum?" seru Dibyo terengah-engah.

Joko berpaling dan mendesah. Dengan enggan, dia membuka ransel dan mengeluarkan sebotol Aqua, lalu melemparkannya ke arah Dibyo, agak ogah-ogahan.

Dibyo luput menangkapnya, dan botol itu terguling jatuh ke bawah lereng, dan masuk semak belukar. Terpaksa Dibyo melepas ranselnya dan turun mencari botol itu selagi Joko menunggunya dengan kesal.

"Aaaaah!!!" terdengar teriakan Dibyo ketakutan dari bawah lereng.

"Kenapa? Ada apa?" Joko berseru dari atas.

Dibyo tak menjawab, dan Joko buru-buru menyusul temannya turun. Setibanya di bawah, dia mendapati Dibyo terduduk ketakutan, tak bergerak, di depan tubuh seorang pria yang terbujur kaku, wajahnya sudah membiru. Ada bekas darah yang mengering di sekitar kepala dan lehernya. Matanya terbelalak, mulutnya ternganga, dan dua gigi depannya ompong.

"Halo? Ini Kantor polisi? Ya, Pak, saya dan teman-teman saya sekarang di Gunung Gajah. Ada mayat, Pak... Ya, Pak, Gunung Gajah... Laki-laki... Dekat Gua Lawa, Pak, di bawah..."

Setengah jam kemudian, tempat tersebut dipenuhi beberapa mobil polisi, sementara sirene ambulans meraung-raung memecahkan keheningan hutan di Gunung Gajah.

*****

Ronggo menyalakan rokok terakhirnya sambil memandang lautan biru yang terhampar di hadapannya. Kali itu, tak banyak orang di Pantai Ngisik, hanya beberapa warga setempat dan tukang es krim Woody yang nongkrong kepanasan.

Pemuda ini kembali menuju truknya, dan membuka terpal penutup di belakang. Tas Mono, serta koper Satrio masih teronggok di pojok. Motor Mono diikat kuat di samping truk. Palu besi dengan noda merah tersangkut di belakang roda motor. Dengan lega, Ronggo kembali menutup terpal dan berjalan menuju kursi pengemudi. Dia membuka laci depan, memeriksa belati bersarung hitam yang tergolek di antara surat-surat dan lap. Lalu dia membetulkan kaca spionnya, dan menggoyangkan botol hitam kecil yang bergantung di spion.

"Kling, klang, kling..." suara gigi Satrio dan Mono yang ada di dalam botol itu berdentingan ramai. Ronggo tersenyum sambil menatap botol kecil itu. Terbayang kembali ketika dia menghantam kepala Satrio dengan palu, persis seperti dia mengepruk kepala perkutut ayahnya. Lembutnya leher Mono yang muncrat berdarah itu rasanya sama seperti lembutnya leher Ireng ketika dia menggoroknya. Senyumannya perlahan berubah menjadi dingin.

Ronggo tak rela menerima kepergian teman-temannya, dia menganggapnya sebagai pengkhianatan dari mereka. Kini hatinya puas, karena dia tetap menepati janji untuk tetap bersama para sahabatnya. Saudara-saudaranya. Orang-orang yang paling disayanginya. Keluarganya. Orang-orang terpenting dalam pondok hatinya. Biar dekil tetap kompak. Selamanya.

 

 

 

Semua tempat dalam kisah ini adalah tempat-tempat nyata di Google Earth https://earth.google.com/

[1] Tiap hari dicereweti. Aku juga kerja di sawah, makanya aku ngadu ayam supaya tidak lihat mukamu.

[2] Seenaknya kalau nuduh. Nyesal, tapi kok bikin anak sembilan.

[3] Di mana kamu?

[4] Sedang apa kamu di sini?

[5] Kamu mau ini?

[6] Terima kasih.

[7] Kamu bisa bacanya?

[8] Ini apa?

[9] Be are itu salah, mestinya We are

[10] Masak kamu nggak ngerti?

[11] Ya, tapinya tidak begitu.

[12] Biarkan saja

[13] Kalau aku punya istri, tak mau kumadu.

[14] Apa ini?

[15] Kamu punya pacar?

[16] Orang mana? Siapa namanya?

[17] Kok buru-buru?

[18] Jadi kamu nggak tinggal bareng di sini lagi?

[19] Ya nggak dong, gimana sih kamu? Masak pengantin baru tinggal sama bujangan? Aku ya nggak mau.

[20] Kenapa kamu, Nggo?

[21] Ada aja.

[22] Nggak ada sama sekali.

[23] Gimana sih?

[24] Jangan mikir yang jelek-jelek. Orang Satrio sekarang lagi telanjang-telanjangan sama istrinya di Wirorejo.

[25] Minta motor, dikasih, minta rumah, dikasih.

[26] Ada apa?

[27] Kamu harus kabur, No, sekarang!

[28] Kamu lakukan apa?

[29] ke tempat yang jauh