KOMUNIKASI UNTUK MENYELESAIKAN HIRUK PIKUK POLITIK

KOMUNIKASI UNTUK MENYELESAIKAN HIRUK PIKUK POLITIK

 

Di era saat ini, umur bukanlah menjadi halangan lagi untuk terjun ke dunia politik.  Politik Indonesia sejauh ini sudah terstruktur dalam perangkat-perangkat hukum yang semakin mapan. Bahwa bangsa Indonesia saat ini masih belum bisa move on dari keterpurukannya, lebih banyak karena sebab para pemimpinnya tak siap menjalankan aktivitas politik dalam sistem politik demokratis-langsung-terbuka. Artinya semua posisi politik mutlak melibatkan rakyat untuk memilih. Mulai dari tingkat pusat hingga daerah, Calon Anggota legislatif dipilih langsung oleh rakyat, Presiden, Gubernur, Bupati sesampai Kepala Desa juga dipilih langsung.

Tatkala dengan sistem seperti itu, keterampilan komunikasi massa yang baik dan bijak sangatlah dibutuhkan. Sementara hingga detik ini tak ada yang bisa menggeser efektivitas dan efisiensi komunikasi tulisan dalam hal berinteraksi dengan orang banyak. Sementara, juga para politisi sepuh tak didukung kemampuan yang memadai dalam hal komunikasi tulisan ini.

Terlebih saat ini teknologi informasi sudah demikian melesatnya. Sehingga pergelutan kreatifitas dalam menulis, dapat menggandakan tulisan hingga menyebarkannya kepada khalayak, yang mana nyaris tak ada kendala. Pun hebatnya, proses komunikasi lewat tulisan secara masif ini dapat dilakukan kapan saja, murah, dan dapat menjangkau target komunikasi yang cukup spesifik.

Maka bagi kita yang bisa menulis dan menguasai teknologi informasi akan punya peluang sangat besar untuk dapat menggeser posisi politik para politis tua. Kita akan berefleksi jauh lebih baik dalam mempengaruhi, membangun komunikasi dan simpatik publik dan memperoleh dukungannya dibandingkan dengan pola komunikasi konvensional yang masih dijadikan andalan para politisi karbitan.

Terlebih menulis lewat medsos, yang mana akan menjangaku sasaran khalayak secara spesifik, massif dan real time. Lewat fasilitas Facebook Ad, misalnya sebuah pemikiran politik kalian akan dapat dikenal oleh ratusan ribu orang dalam waktu hanya beberapa menit saja. Biayanya juga akan jauh lebih murah.

Bayangkan jika kita ingin menyampaikan gagasan kepada 10000 orang lewat cara konvensional misalnya lewat cara silaturahmi, berapa uang yang akan keluar. Untuk konsumsi saja jika per orangnya menghabiskan dana Rp 20.000, maka kita akan menghabiskan uang Rp 200 juta. Namun untuk menyentuh sasaran komunikasi yang sama,  jika menggunakan fasilitas media sosial, paling banter kita hanya akan menghabiskan biaya tak lebih dari Rp 100 ribu. Jika lebih handal lagi menyenyebarkan gagasan-gagasan dengan jumlah target sebanyak itu, dapat dijangkau dengan tanpa biaya sama sekali.

Lalu jika kita memiliki energi yang besar sehingga bisa menerbitkan sebuah buku, maka citra ke-intelektualan kita akan naik secara drastis. Buku adalah indikator kecerdasan intelektual. Seseorang yang mengaku hebat secara intelektual tak akan pernah dipercaya apabila tak pernah menyusun sebuah buku. Maka dengan perihal tersebut, kita satu langkah didepan dalam menggeser eksistensi intelektual para politisi sepuh. Para politisi kolot itu, hari ini, jangankan menulis buku, menulis sebuah artikel opini saja mereka sudah sangat kelinglungan.

Oleh karena itu, jaman sekarang ini adalah jaman yang pas untuk merebut posisi politik dengan cara komunikasi lewat menulis. Menulis apa saja dan menggunakan medium apa saja. Akhirnya, semua berujung pada peningkatan popularitas dan eksistensi di publik. Dan satu hal yang pasti, dapat menyingkirkan lawan-lawan politisi tuamu lebih cepat!