Komunikasi Solusi di Tengah Pandemi Covid-19

Peran komunikasi sangat membantu masyarakat dalam mengembangkan bisnis di tengah pandemi. Selama tahun 2020 hingga saat ini perubahan perilaku masyarakat mendadak melek digital. Berbagai bisnis dari kalangan kreatif berkembang pesat saat Indonesia masih dilanda Covid-19.

Komunikasi Solusi di Tengah Pandemi Covid-19
Bisnis Tanaman Hias yang menjanjikan di Tengah Pandemi

Komunikasi Solusi di Tengah Pandemi

 

 

Raih keuntungan lebih dari media sosial. Komunikasi menjadi salah satu hal terpenting di masa pandemi. Komunikasi merupakan faktor penting bertahan di tengah pandemi. Komunikasi juga menjadi solusi untuk meraih keuntungan dan mengembangkan bisnis.

 

YULITAVIA, Batam

 

Peran komunikasi sangat membantu masyarakat dalam mengembangkan bisnis di tengah pandemi. Selama tahun 2020 hingga saat ini perubahan perilaku masyarakat mendadak melek digital. Berbagai bisnis dari kalangan kreatif berkembang pesat saat Indonesia masih dilanda Covid-19.

 

Tidak lagi menggunakan cara konvensional, ditengah pembatasan yang dilakukan pemerintah, masyarakat harus beralih dan memutar otak agar komunikasi tidak saja terjadi tatap muka, melainkan juga daring.

 

Roda pemerintahan harus tetap berjalan, pelaku usaha juga dituntut harus bertahan. Berbagai pertemuan ditiadakan dan digantikan dengan berbagai cara agar tetap menjaga komunikasi. Mulai dari pemerintah pusat hingga daerah, tidak bisa berhenti karena pandemi. Upaya pemanfaatan komunikasi daring menjadi solusi agar roda pemerintahan, penyaluran bantuan, hingga ke dunia pendidikan tetap bisa berjalan normal, meskipun belum maksimal.

 

Selama hampir satu tahun ini, masyarakat mulai aktif berkomunikasi di media sosial. Perubahan perilaku ini merupakan solusi agar informasi tetap tersampaikan, ketika pertemuan tak bisa digelar. Begitu juga dengan nasib ribuan pelaku usaha yang turut terdampak Covid-19.

 

Perlu strategi adaptasi bisnis dan digitalisasi UMKM di era pandemi ini. Hal ini agar pelaku usaha bisa bertahan. Perubahan perilaku masyarakat yang cenderung berbelanja daring merupakan tantangan bagi pelaku usaha untuk lebih pintar dalam mengembangkan bisnis mereka.

 

Kepala Dinas KUKM Batam, Suleman Nababan mengatakan ada hal positif yang bisa dilihat selama era pandemi, khususnya bagi pelaku usaha. Perlahan semuanya melek teknologi. Mereka yang selama ini hanya menunggu pembeli datang, sekarang dituntut lebih aktif dan inovatif dalam berbisnis.

 

"Salah satunya komunikasi, kalau selama ini berjualan tatap muka saja, sekarang tidak lagi. Mereka lebih rajin pamer produk dan berkomunikasi dengan pembeli di media sosial. Hampir sama, tetap bisa tawar menawar, detail produk, namun pasarnya lebih luas, sehingga keuntungan yang didapat juga lebih," kata dia.

 

Selama pandemi pertumbuhan bisnis yang memanfaatkan komunikasi melalui daring meningkat lebih dari 60 persen. Awal pandemi, pelaku usaha lesu, bahkan ada yang menutup usahanya. Melihat perubahan perilaku masyarakat yang mulai gemar berbelanja kebutuhan online, pelaku di berbagai sektor usaha mulai beralih. 

 

"Meningkat sangat tajam. Itu tak lepas dari faktor komunikasi di media sosial. Pemanfaatan media sosial hingga platform jua beli sangat membantu bertahan dan bangkit di tengah pandemi. Termasuk mereka yang berada di bawah naungan Telkom Batam, apalagi sekarang banyak produk layanan Telkom yang bisa membantu pengembangan bisnis online mereka," ujarnya.

 

Ia menyebutkan sedikitnya 35 ribu pelaku usaha di Kota Batam mendapatkan bantuan dari Kementerian Koperasi dan UKM. Artinya semakin banyak bisnis bermunculan. Sehingga pemerintah menaruh perhatian khusus bagi pengembangan penopang ekonomi bangsa ini.

 

Pelaku usaha kreatif juga diminta bisa mengambil peluang yang ada. Untuk saat ini selain bisnis kuliner, bisnis berdasarkan minat juga tumbuh subur di era pandemi. Sebut saja bisnis tanaman hias, selama pandemi berbagai jenis tanaman viral, penggila tanaman hias bermunculan. Ini merupakan peluang bagi industri kreatif, dan di era pandemi ini sulit melakukan transaksi jual beli konvensional. 

 

"Jadi komunikasi daring melalui media sosial dan market place itu yang tumbuh sekarang. Hal ini terbukti konsumsi internet meningkat tajam selama pandemi. Jadi tidak melulu negatif, ternyata dampak positif dari pandemi ini juga ada. Tergantung bagaimana memanfaatkan peluang tersebut," sebutnya.

 

Seperti yang dilakukan Gita Ardila Marisca, komunikasi merupakan hal penting dalam memasarkan produk miliknya. Sejak beberapa bulan ini, ia mulai menggeluti bisnis jual beli tanaman yang tumbuh subur di tengah pandemi. Bisnis ini menjadi salah satu penopang perekonomian keluarganya di tengah kesulitan yang masih berupaya dipulihkan pemerintah.

 

Di tengah pembatasan yang dilakukan pemerintah dalam mengendalikan Covid-19, ia mulai memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dengan pembeli. Pemanfaatan media komunikasi ini menurutnya sangat membantu memasarkan tanaman hias miliknya hingga ke luar kota. Hal ini tentunya tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan komunikasi di dunia maya.

 

”Dulu awalnya penjualan tanaman hias ini hanya dari mulut ke mulut, dan hasilnya tidak banyak, sebab terbatas. Sekarang, dengan berselancar di media sosial saya bisa berkomunikasi dengan pembeli dari luar kota. Dan imbasnya sangat luar biasa. Komunikasi di media sosial sangat mempengaruhi bisnis yang saya geluti saat ini," bebernya.

 

Tidak saja itu, berkomunikasi melalui media sosial juga memangkas biasa sewa toko bunga. Karena berjualan bisa dilakukan di rumah, ia hanya perlu menggunggah tanaman hias miliknya di media sosial, dan menunggu pembeli. ”Sudah pasti lebih untung. Karena di tengah pandemi ini kita harus smart dalam berbisnis, salah satunya memanfaatkan komunikasi melalui media sosial dan berbagai platform jual beli," terang Gita.

 

Menjamurnya pecinta tanaman menjadi kesempatan untuk menghasilkan uang di tengah sulitnya perekonomian karena Covid-19. Memanfaatkan media sosial, keuntungan berlipat bisa didapatkan dari bisnis jual beli tanaman hias.

 

Karimun Plants Addict merupakan brand bisnis tanaman yang tengah digelutinya saat ini. Seperti Palm licuala mapu yang cukup langka. Jenis tanaman ini ini dijual mulai Rp 300 ribu, Calathea Crimson Rp 200, Philodendron Michan dan Philodendron badak. Seperti Tortum yang harganya bisa melebihi Rp 500. Jenis tanaman ini didatangkan dari Thailand. 

 

"Kebetulan di sini ada agen yang impor tanaman dari Thailand, jadi kami ambil dari sana. Ada juga Caladium dari Thailand juga harga Rp 300an ke atas dan masih banyak jenis tanaman lainnya termasuk uang lagi viral alognema," sebutnya.

 

Perempuan yang biasa berprofesi sebagai pengajar ini terpaksa memutar otak karena usaha bimbingan belajarnya tidak bisa berjalan seperti biasa. Selama pandemi orangtua memilih untuk menjaga anak-anak mereka tetap di rumah demi menghindari penyebaran virus.

 

"Awalnya bingung juga mau buka usaha apalagi. Tapi melihat makin menjamurnya peminat tanaman saya mencoba mengambil peluang ini, agar dapur tetap bisa ngepul," kata dia saat dijumpai di kediamannya.

 

Siapa sangka hobi yang sudah digeluti sejak masih muda ini, kian berkembang dan banyak mendapatkan pesanan. Pandemi membuat banyak aktivitas terhenti, sehingga ada kejenuhan. Tanaman menurutnya salah satu yang membantu masyarakat dalam menghadapi pandemi yang belum berakhir ini.

 

Ia menceritakan awalnya pemasaran tanaman hias dilakukan di kalangan tetangga, dan teman. Karena melihat peluang bisnis ini, seiring menjamurnya pecinta tanaman hias. Masa pandemi adalah puncaknya. Setiap hari ada saja orderan yang ia terima melalui media sosial tempat ia memasarkan tanaman hias miliknya.

 

"Media sosial sangat membantu, karena kalau untuk pesanan melalui WA itu biasanya orang sekitar tempat tinggal atau tidak jauh. Namun kalau media sosial orang luar kota pun bisa lihat. Jadi pesanan juga makin banyak," ujarnya.

 

Pandemi, lanjutnya memang membuat aktivitas menjadi terbatas. Meskipun tempat tinggalnya merupakan zona hijau, masyarakat tetap berhati-hati agar tidak terpapar virus yang menyerang saluran pernafasan ini. Hal ini pula yang melatarbelakangi ia mencoba mengambil peluang untuk serius menjalankan bisnis tanaman hias ini. Menurutnya meskipun pandemi belum berakhir, masyarakat tetap harus produktif agar bisa bertahan hidup.

 

Tidak saja menjual tanaman hias, perempuan kelahiran 1 Desember 1991 juga belajar mengembangkan jenis tanaman melalui proses cangkok. Hal ini merupakan yang baru baginya untuk memperkaya jenis tanaman hias miliknya.

 

"Susah-susah gampang juga. Perlahan mulai belajar, jadi saya tidak mau berhenti di pemasaran saja, tapi juga lebih produktif lagi. Sampai saat ini sudah ada beberapa jenis tanaman yang sudah berhasil dicangkok," ujarnya.

 

Ia menceritakan, peran media sosial cukup membantu menjangkau pembeli secara nasional. Walaupun tinggal di pulau dan adanya pandemi, ia mengaku lebih termotivasti untuk memperkenalkan kalau Karimun juga punya jenis tanaman yang bagus dan bisa dikirim seluruh Indonesia.

 

"Jadi kalau jual offline itu pasarnya hanya tetangga, teman yang tinggal satu daerah. Namun karena media sosial produk Karimun Plants Addict bisa dikenal dan mendapatkan pembeli dari luar kota.

 

Bermula dari pandemi ini lah, dan semakin menjamurnya pecinta tanaman hias, membuatnya termotivasi untuk mengambil kesempatan untuk meningkatkan perekonomian keluarga.

 

"Jadi karena melihat tingginya permintaan, teman-teman yang juga melakoni hal yang sama untuk ikut aktif memasarkan tanaman hias milik mereka, terutama melalui media sosial dan berdampak pada pendapatan mereka ujarnya.

 

Keberadaan media sosial cukup memberikan kemudahan untuk memasarkan tanaman hias miliknya. Media promosi yang mudah diakses melalui telepon genggam ini membantu dalam penjualan dan menambah pembeli baik lokal maupun luar kota. Biasanya mereka lihat koleksi tanaman di Instagram @karimunplants_ addict. Sedangkan untuk Facebook juga ada Karimun Plant, biasanya tanaman hias juga dijual melalui forum jual beli atau grup.

 

"Kadang ada yang bertanya soal lama pengiriman, mungkin karena mereka belum familiar dengan Karimun. Namun beberapa kali pengiriman keluar Alhamdulillah responnya bagus," imbuh Gita.

 

Ia menyebutkan selama pandemi dalam satu minggu bisa menerima sampai lima pesanan dari luar kota. Namun karena keterbatasan tenaga, usaha jual beli tanaman hias belum bisa terakomodir semua.

 

"Karena saat ini masih kerja sendiri dan masih dikerjakan sendiri. Jadi belum semua orderan bisa dikerjakan," ungkapnya.

 

Perlahan bisnisnya mulai merambah berbagai kebutuhan seperti rak tempat bunga. Jadi peluang itu selalu ada, tinggal bagaimana agar direalisasikan. "Awalnya hanya coba-coba saja buat rak untuk bunga di rumah, ternyata setelah di posting banyak yang berminta. Jadi bisnis tidak lagi jual beli bunga, melainkan juga rak bunga. Dan modelnya pun harus mengikuti pasar, agar memiliki daya jual," tutupnya.