Komunikasi, Si Solusi?

Tengoklah berita-berita Indonesia yang berseliweran setiap harinya. Terlalu banyak hal trending - tak bisa ditampik - adalah yang ringan, kontroversial, memecah belah, tidak begitu penting. . Tidakkah Anda ingin jadi orang Indonesia yang menyenangkan, yang bisa membawa perubahan untuk diri, keluarga, dan banyak orang?

Komunikasi, Si Solusi?

masa-kini.com

Komunikasi. Si Biang Kerok atau Si Solusi?

Bayangkan Anda tersesat di suatu negara antah berantah dalam keadaan amat haus. Anda bertemu seseorang tapi tidak mengerti bahasa satu sama lain. Anda peragakan tangan mengangkat gelas dan menuangkannya ke mulut. Si orang asing pun menunjukkan di mana tempat untuk bisa mendapatkan air minum, atau bahkan langsung memberikan minuman untuk Anda.

Bahasa tubuh manusia di seluruh dunia hampir sama. Bila seseorang melotot, dadanya membusung, hidung mengembang, tangan mengepal, mudah saja ditebak bahwa ia sedang marah. Sedangkan seseorang yang senyum disertai binar mata akan terasa keramahtamahannya. Lebih nyaman dipandang serta diajak bicara.

Indonesia dengan ribuan suku telah melahirkan pula ribuan adat istiadat. Namun ketidaksetaraan pembangunan terutama dalam bidang pendidikan menjadikan tidak setaranya tata krama. Sayang sekali, bukan? Tengoklah berita-berita Indonesia yang berseliweran setiap harinya. Terlalu banyak hal trending - tak bisa ditampik - adalah yang ringan, kontroversial, memecah belah, tidak begitu penting. Terlihat bahwa kebanyakan mayarakat Indonesia mudah diprovokasi, atau juga memprovokasi.

Sakit Komunikasi

Terbiasa mengalihkan kesalahan pada orang lain. Sifat ini ditanam sejak anak bayi belajar berjalan lalu terbentur meja. Tebak siapa yang bersalah? Orang tua memukul meja seraya bilang "Meja nakal! Cup sayang, udah tuh, udah dimarahin mejanya!" Ah, tanggapan semacam ini rasa-rasanya familiar di telinga. Atau jangan-jangan Anda sendiri pernah mengalami pengasuhan semacam ini? Tanggapan yang membenarkan sikap  'tidak terima' ketika justru si anak yang kurang hati-hati. Kemudian tanpa disadari mendarah daging menghinggapi gaya komunikasi si anak hingga dewasa, bergaul dengan lingkungannya, bersosial media, berkeluarga, beranak-pinak.

Oktolina Simatupang, dalam jurnal penelitian BBPSDMP Kominfo Medan berjudul “Persepsi Mahasiswa Batak Tentang Gaya Komunikasi Warga Kecamatan Sewon, Yogyakarta” membeberkan beberapa masyarakat bersuku Jawa yang ditemui itu, menurut analisis Stuart Hall (sosiolog sekaligus ahli teori budaya) menggunakan High Context Communication (HCC), yakni gaya komunikasi suka basa-basi, implisit, bahkan malah membicarakan di belakang. (Oops, mungkin ini nama lain team gibah. Hehehe.) Ini bertolak belakang dengan para mahasiswa Batak yang menggunakan gaya komunikasi Low Context Communication (LCC) yang eksplisit, lugas, tidak menimbulkan ambigu.

Lalu apa yang terjadi jika gaya komunikasi ‘tidak terima’ didukung lingkungan dengan HCC? Masalah kecil pun berpotensi dipendam, lama-lama membesar, dan terjadilah ledakan. Pun begitu, gaya komunikasi LCC berpotensi menimbulkan perkelahian jika ada api memantik sumbu kesalahpahaman.

Pengumpulan data dari Badan Pusat Statistik Indonesia 2020 menyimpulkan penyebab tertinggi perceraian pada 2019 akibat 'perselisihan dan pertengkaran terus menerus' sebanyak 231.872 dari 438.013 kasus. Setingkat di atas faktor ekonomi. Ya, komunikasi adalah biang keroknya, ketika dilakukan dengan cara yang tidak tepat.

Komunikasi Sehat

Anda mungkin merasa keberatan membantu seorang teman yang menyebalkan. Namun merasa senang menolong teman yang sopan santun, perhatian penuh, dan ceria walaupun tidak begitu dekat dengan Anda. Itu bukan sihir, tapi kekuatan komunikasi. Gesture Anda, penampilan, gaya bicara, semua itu adalah ruang skor untuk orang lain menilai komunikasi Anda dan menyimpannya di memori mereka selamanya. Tidakkah Anda ingin jadi orang Indonesia yang menyenangkan, yang bisa membawa perubahan untuk diri, keluarga, dan banyak orang?

Maka komunikasi harus terus dijalani sambil terus diperbaiki. Sebelum berani berkomunikasi dengan orang lain, pertama-tama berkomunikasilah dengan diri Anda sendiri dan Tuhan. Ketika berbuat baik ataupun ibadah, rasakan itu sebagai ungkapan bahwa diri Anda berarti, berharga, well being, akan selalu baik dan memperlakukan diri maupun orang lain sesuai yang dikehendaki Tuhan dalam alkitab-alkitab.

Lalu biasakan ‘maaf, tolong, terima kasih’. Tiga kata itu punya keajaiban untuk menyihir Anda jadi seseorang yang menyamankan. Orang terbaik adalah yang orang-orang di sekitarnya merasa aman dari lisannya.

Ibadah pun meningkatkan gaya komunikasi Anda menjadi penuh kesadaran. Jika telah bisa bicara dengan Tuhannya dengan baik, maka tidak ada kekhawatiran seorang manusia akan interaksi dengan baik pula pada dirinya, keluarganya, teman sekolah, rekan kerja, dan masyarakat luas.

Masalah akan selalu ada dan harus ada dalam dinamika hidup. Namun dari satu masalah selalu ada dua atau lebih solusi. Komunikasi harus dimulai, Anda harus berani usaha dan memulai. Misalnya bila Anda memiliki masalah pribadi dengan teman, kerabat, atau mungkin pasangan, dan belum berani bicara. Maka tulislah surat, chat WA, direct message sosmed, manfaatkan berbagai fasilitas yang membuat Anda selangkah lebih dekat pada keterbukaan. Berusahalah mengungkapkan isi hati sejelas-jelasnya, bukan kode. (PR lagi buat kaum hawa ;) ) Ini dia yang penting: jujur, enyahkan gengsi! 

Tuhan mempersiapkan skenario hidup kita dengan peran sesuai kehendak-Nya. Setiap orang sedang memainkan sandiwaranya. Tidak ada yang benar-benar bersifat buruk. Terkadang kita pun mendapat peran di posisi yang tidak kita inginkan. Jadi teruslah berbuat baik, berucap baik. Karena di naskah milik orang lain pun kita bisa jadi figuran yang mendorongnya jadi pemeran utama terbaik. Pemeran yang mengerti untuk apa ia diterjunkan dalam kisah. Pemeran yang bisa bekerja sama dengan lawan mainnya. Pemeran yang berhasil menjadi kebanggaan Sang Maha Sutradara.

Pada akhirnya di hari kematian Anda, tak perlu terkejut dengan banyaknya peziarah. Karena komunikasi yang Anda buat telah menginteraksi hati mereka lebih dari lisan.