Komunikasi Sebegai Perekat Organisasi di saat Pandemi

Di dalam organisasi, komunikasi adalah visi untuk mencapai misi organisasi yang ideal.

Komunikasi Sebegai Perekat Organisasi di saat Pandemi

Memasuki tahun 2020, kita dengan bangga mengatakan bahwa wabah di negara tetangga adalah sesuatu yang akan sembuh dalam semalam. Seperti guyonan belaka dan tidak jarang disebut-sebut sebagai sebuah keajaiban bahwa bangsa kita memiliki kekuatan magis yang bisa menangkis virus. Mustahil terjadi, tapi kita lebih suka mengamini daripada antisipasi.

Tepat di awal bulan Maret, seluruh negeri dikejutkan dengan adanya pasien pertama positif COVID 19. Untuk sesaat, seluruh tatanan negara panik dan menjadi berantakan. Segala kegiatan mendadak diberhentikan. Operasi kampus, pabrik, kantor dan korporasi harus berhenti saat itu juga.

Hal yang paling berdampak dan membuat saya sangat kecewa adalah goal dan planning yang sudah saya rancang matang-matang tahun itu juga beberapa harus dicoret, untuk mentoleransi pandemi. Saya yakinkan diri sendiri bahwa bukan hanya saya, tapi orang lain pun merasakan hal yang serupa sehingga pemerintah mulai menyerukan kampanye Work From Home. Mendadak dalam semalam, saya dipaksa untuk memasuki dunia baru, dunia dengan segala hal dilakukan dengan virtual. Mulai muncul istilah-istilah baru seperti kelas daring dan webinar yang belakangan banyak sekali bertebaran di lini masa media sosial.

Lalu apa yang membuat komunikasi menjadi ujung tombak untuk survive di pandemi? Mau tidak mau, organisasi mahasiswa ikut merasakan dampak negatif dari pandemi. Pertemuan yang biasa dilakukan di tempat terbuka, kumpul bersama, membicarakan proker (program kerja) sampai larut malam, membahas isu-isu terkini dengan berbagai sudut pandang, dan terpenting tidak ada batas ruang komunikasi antar satu dengan yang lain. Komunikasi dalam bentuk ini disebut komunikasi secara langsung, yaitu dengan lisan/verbal sehingga memudahkan kedua belah pihak untuk saling mengerti. Sedangkan komunikasi tidak langsung adalah melalui media tertentu, seperti bahasa tubuh, tulisan, telepon, radio, dan lain sebagainya. Sehingga di masa pandemi, perubahan komunikasi dari langsung menjadi tidak langsung dinilai sebagai upaya preventif yang tepat terhadap penularan virus.

Dalam organisasi sendiri, komunikasi adalah hal yang sangat penting untuk membangun sebuah rasa percaya dan kerja sama tinggi untuk mewujudkan misi dan visi  sebuah organisasi. Komunikasi adalah darah kehidupan organisasi. Kalau saja arus komunikasi dapat diambil dari organisasi, organisasi itu pasti tidak akan ada lagi (Rogers, 1976: 7)

Fungsi penting dari komunikasi di dalam organisasi diantaranya: pertama, komunikasi memungkinkan orang-orang untuk saling bertukar informasi; kedua, komunikasi membantu menghubungkan sekelompok anggota dalam organisasi yang terpisah dari anggota lainnya.

Dalam kegiatan work from home, poin kedua adalah yang sering sekali gagal untuk diwujudkan. Walaupun teknologi sudah memadai, tidak jarang miskomunikasi terjadi diantara sesama anggota organisasi. Dalam pengalaman saya, miskomunikasi ini adalah hal yang fatal jika tidak segera diluruskan. Kesalahan dalam komunikasi bisa mengakibatkan rusaknya sistem kerja dalam organisasi tersebut.

Pernah suatu waktu saya memegang posisi penanggung jawab penting untuk sebuah event di salah satu organisasi. Di dalam prosesnya, komunikasi yang terjadi diantara saya dan tim tidak berjalan dengan baik sehingga menimbulkan miskomuniasi dan berdampak pada kinerja yang kurang maksimal. Hal ini bukan karena salah siapa. Bukan tentang saya yang tidak pernah bisa memahami kemauan tim, atau tim yang tidak bisa menyampaikan tujuan dengan baik. Tetapi cara komunikasi yang salah menjadi penyebab terhambatnya kerja sama tim.

Kita pasti pernah berkomunikasi melalaui aplikasi pesan dengan maksud yang baik tapi menjadi maksud yang berbeda ketika orang tersebut menerimanya. Hal ini bisa terjadi diantaranya: informasi yang disampaikan tidak menggunakan susunan kata yang baik dan benar sehingga timbul kesalahan dalam penyampaian informasi; atau informasi tidak dapat dipahami oleh penerima informasi dikarenakan tidak adanya tanda baca atau tidak berurutan sesuai kronologi.

Lalu, bagaimana solusi dari masalah tersebut? Permasalahan dalam organisasi tidak bisa diselesaikan bila tidak adanya komunikasi. Namun perlu diketahui bahwa komunikasi bisa menjadi tambahan masalah yang harus dihadapi. Oleh sebab itu, perlu adanya teknik komunikasi yang baik untuk mencapai solusi tersebut.

Pertama, ketahui dulu apa harapan dan tujuan dari organisasi tersebut. Kedua, pentingnya menemukan teknik komunikasi yang baik sesama sumber daya manusia yang lain. Saya lebih suka pembicaraan secara langsung seperti telefon atau video call dengan tim daripada bertukar pesan untuk menyampaikan informasi. Cara ini terbukti efektif untuk mengurangi kesalahpahaman di dalam tim. Ketiga, jujur dalam berkomunikasi. Jika ada hal yang dirasa tidak dimengerti, sampaikan maksud tersebut dengan baik. Karena jika tidak ada kejujuran dalam komunikasi, hal ini tentu bisa menjadi penghambat yang tentunya akan merugikan diri sendiri dan organisasi.

Porong, 10 Januari 2021