Komunikasi Menyelesaikan Segala Masalah, Bukan Hanya Romansa

Komunikasi Menyelesaikan Segala Masalah, Bukan Hanya Romansa

Sumber gambar: https://pixabay.com/illustrations/dispute-pair-man-woman-discussion-1959751/

Sepasang muda mudi terlihat baru datang di sebuah kafe.

                “Sayang, aku sayang kamu, meskipun kamu nyebelin banget.”, Meysa langsung membuka percakapan dengan sarkasme.

                Galih mengerutkan dahi, “Hey! Itu ucapan pertama kali setelah tidak bertemu selama seminggu?”

                “Iya. Gimana aku gak sebal, apa susahnya sih nge-chat ‘selamat pagi’ atau nyapa apa kek. Seminggu gak ada kabar!”, Meysa mendengus

                “Kenapa bukan kamu yang nyapa duluan?”, desak Galih.

                “Udah. Tapi kamu cuek. Aku males dong nge-chat lagi kalau aku dicuekin!”

                “Oke. Aku minta maaf. Aku yang salah.”

                Setelah percakapan itu, keduanya hanya diam, sibuk dalam pemikirannya masing-masing. Galih mengingat-ingat seminggu yang lalu dia memang terlalu sibuk bekerja karena harus membiayai sekolah adiknya dan keluarganya. Dia ingat pernah membalas chat Meysa dengan sangat cuek karena sudah capek bekerja. Hari ini dia ingin meminta maaf. Namun inilah yang terjadi. Tidak lama kemudian, mereka akhirnya pulang tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. THE END.

                Ada banyak kasus serupa yaitu pelebaran masalah bersama, alih-alih selesai. Selain orang yang melakukan hubungan romansa, masalah yang melebar juga dihadapi oleh orang secara pribadi maupun berkelompok. Masalah tersebut bisa berupa perbedaan pendapat di organisasi, konflik dengan orang tua, bahkan konflik dengan diri sendiri. Namun, mengapa sih masalah tersebut justru melebar?

                Masalah yang dihadapi secara bersama-sama akan melibatkan banyak pemikiran antara satu orang dengan orang lainnya. Melebarnya sebuah masalah terjadi jika kita justru memicu timbulnya konflik di antara orang-orang yang akan menyelesaikan masalah. Pada contoh ilustrasi di atas, Galih dan Meysa punya masalah soal hubungan yang merenggang karena kesibukan Galih. Namun, alih-alih mencoba berkomunikasi untuk menyelesaikan masalah, mereka justru melebarkan masalah karena sebuah miskomunikasi. Berdasarkan KBBI, komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Sedangkan, miskomunikasi merupakan komunikasi yang tidak mencapai tujuan berkomunikasi berupa pesan yang dapat dipahami.

                Bagaimana dengan masalah pribadi yang melebar? Apakah itu sebuah miskomunikasi juga? Setiap pribadi menyimpan informasi masing-masing. Jika sebuah masalah pribadi melebar, maka sebuah miskomunikasi terjadi di dalam diri. Mungkin seseorang kurang berkomunikasi dengan dirinya sehingga dia belum berhasil mengenali dirinya dan terjadilah masalah pribadi.

                Miskomunikasi akan menghasilkan masalah yang melebar, kebalikannya, komunikasi asertif berpeluang lebih mudah dalam menyelesaikan masalah. Komunikasi asertif merupakan komunikasi aktif namun tidak agresif. Pada kenyataannya, kita tidak bisa tidak berkomunikasi. Selain ungkapan yang disampaikan secara langsung maupun taklangsung, pesan yang disampaikan saat berkomunikasi juga dapat hanya berupa ekspresi, seperti tersenyum, mendelik, sedih, bahkan hanya sekadar kontak mata juga merupakan komunikasi. Karena kita akan terus berkomunikasi, maka kita perlu membiasakan komunikasi asertif agar kita lebih sering bisa menyelesaikan masalah yang ada di sekitar kita.

                Menurut Thomas Kilmann Model(1), ada lima cara berkomunikasi untuk menyelesaikan suatu masalah, antara lain:

  1. Avoiding (menghindar), hal ini dilakukan untuk memecahkan jenis masalah yang tidak terlalu perlu dibahas, seperti perbedaan prinsip masing-masing orang.
  2. Compromising (mencari jalan tengah), hal ini dilakukan untuk memecahkan jenis masalah antara beberapa pihak dan ada batasan tertentu sehingga penyelesaian masalah tidak benar-benar memuaskan masing-masing pihak.
  3. Collaborating (win-win solution), hal ini dilakukan untuk mencari solusi yang membuat setiap pihak puas dengan keputusannya.
  4. Accomodating (mengalah), istilah paling umumnya, mundur sedikit untuk membiarkan orang lain maju agar mendapatkan solusi.
  5. Competing (Win-Lose), ini adalah salah satu komunikasi untuk penyelesaian masalah yang paling dihindari.

Dari penjelasan di atas, mari kita bahas kisah di awal tulisan ini. Jika sedikit saja Meysa atau Galih ada yang bisa mencari jalan tengah di antara keduanya, mungkin masalah tidak akan melebar. Coba kita buat percakapannya seperti ini:

“Malam sayang! Apa kabar?”, Meysa membuka percakapan.

“Ah.. iya, baik. Kamu gimana?”, Galih membalas.

“Baik sih. Tapi aku lagi sebal sama kamu, masa seminggu gak ada kabar?”, Meysa manyun sedikit sengaja memajang ekspresi kecewa namun dengan nada pelan dan menggoda.

“Aku sibuk banget minggu ini, sayang. Maaf, ya!”, Galih memelas.

“Sesibuk apa pun masa gak sempet ngucapin selamat pagi atau apa gitu, Yang?”, Meysa bertanya dengan tenang.

“Okedeh, Yang. Besok aku lebih bisa bagi waktu lagi deh. Kamu udah gak sebal kan?”, Galih menjelaskan.

Nah, pasti terasa bedanya bukan? Dasar dari komunikasi asertif adalah sebuah pemahaman satu sama lain. Tentu saja cara komunikasi yang dipilih dapat disesuaikan berdasarkan lima cara komunikasi yang dipaparkan oleh Thomas Kilmann Model. Di ujung tulisan ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa komunikasi bisa menyelesaikan baik masalah pribadi maupun kelompok tergantung bagaimana pendekatan komunikasi yang digunakan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Carnegie, Dale. 2009. The 5 Essential people skills – Menjadi Pribadi yang Tegas dan Mudah Memahami Orang Lain, dan cara menyelesaikan Konflik. Terjemahan oleh Sugianto Yusuf. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Website https://challengingcoaching.co.uk/conflict-and-challenge/ diakses pada 25 Desember 2020