KOMUNIKASI MEMBUAT RUMAH LAYAK DIHUNI UNTUK SELAMANYA

Pandemi ibarat angin yang membuat berantakan seisi rumah. Setiap rumah tangga harus menata ulang isi rumahnya agar kembali rapi dan layak dihuni untuk selamanya, bukannya malah membiarkannya tetap berantakan dan mencari rumah yang baru. 

KOMUNIKASI MEMBUAT RUMAH LAYAK DIHUNI UNTUK SELAMANYA
Pict : pixabay.com

Dalam sebuah obrolan ringan, seorang teman pernah mengusulkan agar tahun 2020 di skip saja dari kehidupan dikarenakan banyaknya kegagalan dalam pencapaian masyarakat akibat pandemi Covid-19. Gagal dalam pekerjaan atau bisnis, bahkan gagal dalam pernikahan. Banyak media memuat berita tentang tingkat perceraian di beberapa daerah yang meningkat selama pandemi di tahun 2020. Beberapa diantaranya juga menyuguhkan potret antrian yang mengular di Pengadilan Agama untuk mengurus perceraian. Fakta menariknya adalah, perceraian meningkat justru saat keluarga lebih banyak memiliki waktu bersama di rumah setiap harinya. Work From Home (WFH) yang membuat intensitas pertemuan suami dan istri meningkat, tidaklah menjamin bahwa keintiman dalam rumah tangga juga meningkat. Sebaliknya, semakin banyak pertemuan maka peluang datangnya konflik juga semakin besar. Bisa jadi, WFH hanyalah sarana yang membuat konflik rumah tangga, yang sebelumnya sudah ada dan tersamarkan oleh kesibukan masing-masing di luar rumah, menjadi tampak jelas. Pada akhirnya, rumah tangga menemui tantangan baru dalam berkomunikasi. Untuk mempertahankan keharmonisan, mereka tidak lagi dituntut untuk mampu menciptakan komunikasi yang intim di tengah sedikitnya waktu bertemu tetapi justru di tengah kebersamaan yang melimpah. 

Jauh sebelum pandemi Covid-19, seorang teman -yang menjalani hubungan jarak jauh dengan suaminya karena suaminya harus bekerja di luar pulau- bercerita bahwa kebahagiaanya adalah saat suaminya pulang. Tetapi itu cukup satu minggu saja. Teman saya akan tidak bahagia jika sudah lebih dari seminggu suaminya tak kunjung kembali bekerja. Ketika saya tanyakan alasannya, dia mengatakan bahwa dia sudah terbiasa hidup bebas tanpa harus bangun pagi-pagi menyiapkan kopi dan sarapan untuk suaminya, leluasa pergi tanpa harus memikirkan ijinnya. Jadi rupanya seminggu adalah durasi maksimum baginya untuk bisa bertahan menghadapi kondisi yang tidak 'biasa' itu. Sedikitnya, kisah itu mirip dengan suasana rumah tangga pada umumnya di era pandemi. Selain masalah kebiasaan yang berubah, sebenarnya ini berbicara tentang fungsi peran masing-masing. Ada beban yang harus dipikul masing-masing seiring fungsi perannya sebagai suami atau istri. Konflik akan muncul saat terjadi penambahan beban atau saat salah satu atau masing-masing dinilai tidak mampu memenuhi fungsi perannya. Alhasil, pertemuan yang terus menerus antara suami dan istri akan menjadi tidak seindah yang dibayangkan. Konflik bisa dipicu karena rasa lelah istri yang merasa bebannya bertambah saat di rumah saja; memenuhi kebutuhan makan suami dan anak-anak sepanjang hari, menjadi 'guru' saat anak sekolah online disamping bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sedangkan suaminya sedang menganggur karena terkena PHK. Atau karena suami yang merasa sudah bekerja sangat keras sementara sang istri selalu menuntut dan mengeluhkan kekurangan. Jika sudah begitu, maka tidak ada pilihan lain : komunikasikanlah!

Skill atau Kebiasaan?
Saya pernah tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh seorang teman, sepulang kami dari menjenguk seorang kerabat di rumah sakit. Dia menelepon suaminya sambil menyeberang jalan hanya untuk memberitahu bahwa kami akan pulang menumpang mobil si A, (saat berangkat kami naik mobil Si B). Saya tahu suaminya sedang bekerja. Dan saya bertanya dalam hati : "Harus ya? Bukankah itu bukan sesuatu yang penting dan mendesak? Bukankah bisa diceritakan nanti setelah sudah sama-sama di rumah?". Tetapi itu hanya pertanyaan saya dalam hati dan sesaat saja karena nyatanya setiap pasangan adalah unik. Apa yang menjadi kebiasaan sebuah pasangan bisa saja menjadi sebuah keanehan bagi pasangan lainnya. Hal mendasar yang perlu dipahami adalah latar belakang dan kepribadian memang cukup berpengaruh dalam cara berkomunikasi seseorang jadi tidak seharusnya kita membanding-bandingkan diri dengan pasangan lain. Selanjutnya, tugas setiap suami dan istri adalah menemukan cara yang sesuai untuk berkomunikasi dengan pasangannya lalu menerapkannya setiap hari. Mengapa harus setiap hari? Ya, karena setiap hari mereka adalah suami istri.

Love Language-nya Gary Chapman bisa saja diterapkan oleh suami dan istri untuk menambah keintiman dalam berkomunikasi. Bahwa ada 5 macam “bahasa cinta“ yang dimiliki dan dipahami oleh seseorang, yaitu : 
1) Word of affirmation,  kata-kata yang penuh kasih sayang dan menggambarkan apresiasi. Contoh: mengatakan “I love you”; “Kamu suami/istri yang baik.” 
2) Quality Time, menghabiskan waktu berdua, sekedar mengobrol atau beraktivitas bersama. Misalnya seperti memasak bersama, meluangkan waktu makan siang bersama meskipun sedang sibuk.
3) Physical Touch, memberikan sentuhan mesra. Contoh: membelai, memeluk, mencium. 
4) Act of Service, memberikan pelayanan pada pasangan. Contoh: membuatkan sarapan atau kopi sepulang kerja, memijit kaki atau punggung.
5) Gifts, menunjukkan perhatian dan kasih sayang dengan hadiah.

Bagaimanapun, berkomunikasi adalah salah satu cara menghargai suami atau istri. Baik tidaknya komunikasi bukan bergantung pada pandai tidaknya seseorang berbicara, berkarakter pendiam atau periang, introvert atau ekstrovert tetapi tentang komitmen untuk menjadikannya kebiasaan dalam rumah tangga. Apa yang dilakukan oleh seorang teman sepulang dari rumah sakit tadi memberi definisi tersendiri tentang komunikasi. Komunikasi adalah sebuah investasi, hal yang tampak kecil saat dilakukan tetapi besar manfaatnya saat diperlukan, terutama saat konflik datang. Kebiasaan untuk saling berkomunikasi membuat suami istri lebih luwes dalam menghadapi konflik, bukannya mudah panik dan gugup, apalagi emosional. Kesediaan masing-masing untuk meluangkan waktu mencari solusi dari sebuah konflik adalah awal yang bagus yang bisa meningkatkan optimisme tersendiri. 

Berkomunikasi dengan Hati
Sejatinya, komunikasi bukan hanya melibatkan mulut (berbicara), anggota tubuh lainnya (gesture) dan otak (pikiran) saja, tetapi juga hati (perasaan). Ini yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang. Berkomunikasi dengan hati wajib dilakukan bukan hanya kepada pasangan, tetapi kepada sesama manusia lainnya juga. Dalam sebuah rekonsiliasi setelah terjadinya konflik, hati nurani wajib dilibatkan untuk menemukan solusi yang menyejukkan. Hati nurani sering kali menemukan solusi yang tidak ditemukan oleh logika. 

Ada sebuah kisah milik seorang teman. Suatu hari dia didatangi seorang penagih hutang. Penagih itu menagih hutang dalam jumlah besar yang bukan miliknya tetapi milik istrinya. Beberapa waktu kemudian peristiwa itu terulang lagi. Sampai-sampai bisnisnya bangkrut karena harus membayar hutang istrinya yang mencapai ratusan juta. Rupanya sang istri secara diam-diam berhutang ke rentenir untuk kebutuhan pribadinya, tanpa sepengetahuan sang suami. Sang suami begitu marah kepada istrinya dan shock karena terpukul. Tetapi beberapa minggu kemudian teman saya itu memutuskan untuk mengampuni istrinya. Benar-benar solusi yang tak masuk logika pada umumnya. Hati nuraninya menuntunnya untuk rendah hati mencari kesalahannya dalam kesalahan yang dilakukan istrinya. Menurutnya, sekecil apapun, dia pasti punya andil dalam kesalahan istrinya itu. Melalui proses merenung, instropeksi diri dan berdoa tidak mustahil seseorang bisa mencapai tahap ini. 

Konflik adalah bagian dari hidup berumah tangga. Besarnya konflik jangan sampai membuat perhatian suami dan istri terfokus pada konfliknya terus menerus sehingga tidak fokus pada cara menyelesaikannya. Pandemi ibarat angin yang membuat berantakan seisi rumah. Setiap rumah tangga harus menata ulang isi rumahnya agar kembali rapi dan layak dihuni untuk selamanya, bukannya malah membiarkannya tetap berantakan dan mencari rumah yang baru.