Komunikasi Intrapersonal: Menulis Sebagai Cara Self Healing

Siapapun pasti pernah atau sedang mengalami suatu masalah karena ia selalu datang tak pandang bulu. Terjebak dalam suatu permasalahan bukan hal yang diinginkan setiap orang, alhasil menghindar kerap kali dilakukan. Bukannya mencari solusi dengan dalih tertekan dan stres, masalah yang terjadi justru bisa jadi ruwet. Menulis menjadi salah satu solusinya. Sebuah cara yang bisa menjadi pendekatan terhadap diri sendiri.

Komunikasi Intrapersonal: Menulis Sebagai Cara Self Healing
Ilustrasi oleh LUM3N dari pixabay.com

Setiap manusia selalu bertumbuh dan bertambah. Tidak dipungkiri dunia pun seakan mengikuti arus pertumbuhan manusia yang cepat. Dunia yang semakin kompleks menimbulkan banyak kekhawatiran yang dirasakan masing-masing individu. Tuntutan global yang memaksa harus terus berkembang dan menciptakan inovasi baru seringkali memunculkan perasaan jenuh. Kejenuhan tersebut bisa bermuara pada perasaan tertekan atau bahkan stres. Di samping itu, semakin dewasa masalah yang terjadi pun akan semakin kompleks dan beragam. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah yang dialami.

Masalah menurut KBBI adalah sesuatu yang harus diselesaikan. Oleh karena itu ketika mendapatkan masalah hendaknya segera diselesaikan. Salah satu cara yang bisa dilakukan apabila kita merasa tertekan atas suatu masalah ialah dengan writing therapy. Sudah banyak jurnal ataupun penelitian mengenai writing therapy yang memaparkan menulis dapat mengurangi tekanan dan meregulasi emosi yang dialami. Hal ini bisa disebabkan karena menulis adalah suatu kegiatan mengekspresikan pikiran atau perasaan melalui tulisan. Dalam konteks ini menulis dapat mendeklarasikan masalah yang dialami.  Kegiatan menulis yang dimaksud bisa dalam bentuk yang beragam, seperti puisi, cerita, atau sekadar menulis bebas serta bisa melalui media elektronik ataupun manual. Menulis sebagai komunikasi yang dilakukan guna melimpah emosi, perasaan, atau pikiran yang sedang dialami.

pexels-anete-lusina-5239793.jpg

Ilustrasi oleh Anete Lusiana dari pexels.com

Komunikasi didefinisikan oleh B.F Skinner sebagai suatu perilaku berbentuk verbal maupun simbolik agar pelaku mendapatkan efek yang diinginkan. Berdasarkan simbol atau lambang yang digunakan komunikasi dibedakan menjadi dua jenis yaitu komunikasi verbal dan nonverbal. Merujuk pada hal tersebut menulis termasuk ke dalam komunikasi verbal dimana komunikasi dilakukan melalui perantara bahasa. Dapat dikaitkan bahwa saat mengalami suatu masalah maka dilakukan suatu komunikasi–komunikasi verbal–sebagai suatu perilaku verbal untuk melimpahkan emosi, perasaan, atau pikiran yang dialami agar mendapat efek tertentu melalui perantara bahasa. Sebagai contoh ketika seseorang memiliki kekesalan pribadi terhadap orang lain–secara terbuka ataupun tertutup–emosi negatif akan menguasai pikiran dan bisa mengarahkan ke hal-hal buruk. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi letupan emosi adalah dengan menulis. Tulislah apapun yang dirasakan sebagai cara menuangkan emosi agar bisa tersalurkan. Hal ini sudah saya coba ketika beradu argumen dengan seseorang dan akhirnya saya menyerah berdebat kusir dengannya. Kemudian saya menulis sebuah puisi sebagai cara saya menyalurkan emosi dan terbukti mampu menenangkan saya.

Selain itu, tulisan yang kita tulis kelak dapat dibaca ulang sebagai bahan refleksi. Cara ini pernah saya terapkan ketika sedang merasa terpuruk setelah mengalami kekalahan dalam suatu kompetisi. Saya yang berambisi memenangkan kompetisi itu harus menelan pahitnya kekalahan. Sempat mengalami masa berhenti melakukan hal produktif yang kemudian saya paksakan untuk bangkit. Saya menulis semua yang sudah dialami selama setahun belakangan yang mengantarkan saya di titik tersebut serta membuat saya menyadari bahwa saya sudah berjalan sejauh ini maka akan sia-sia jika terus putus asa.

Kaitan antara menulis, self healing, dan komunikasi intrapersonal

man-424967_1920.jpg

Ilustrasi oleh John Hain dari pixabay.com

Menulis menurut KBBI ialah melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan. Dalam paparan sebelumnya sudah disinggung mengenai kaitan menulis sebagai salah satu cara menyelesaikan masalah yang dialami. Lalu, apa kaitannya dengan self healing dan komunikasi intrapersonal?  Dalam ilmu psikologi, self healing adalah cara pemulihan yang melibatkan diri sendiri untuk bangkit dari masalah yang dialami. Setiap orang dianugerahi kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri.

Menurut Notoatmodjo (2005) komunikasi intrapersonal ialah komunikasi yang terjadi di dalam diri sendiri atau saat seseorang sedang memikirkan suatu masalah. Komunikasi intrapersonal menurut Rakhmat (2009) terbagi menjadi empat proses yaitu sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Sensasi akan menangkap stimulus yang terdiri dari berbagai informasi kemudian mengantarkan pada suatu persepsi. Persepsi sendiri nantinya menyimpulkan dan menafsirkan suatu informasi yang disimpan dalam memori. Berujung pada tindakan berpikir yang melibatkan proses sensasi, persepsi, dan memori.

Dari ketiga pengertian tersebut ditarik suatu keterkaitan bahwa ketika seseorang mengalami suatu masalah–terlebih masalah batin–maka menulis bisa menjadi cara mengungkapkan pikiran dan perasaan. Pada hakikatnya, saat mengalami suatu masalah tidak semua orang sanggup mengomunikasikan apa yang dirasakan dengan baik. Kemungkinan terburuknya ialah kesalahan dalam menemukan pelarian sebagai cara menghindar. Banyak orang yang akhirnya melakukan perilaku buruk yang malah semakin merugikan diri sendiri maupun orang lain. Tak jarang juga orang yang hanya memendam masalah itu sendiri tanpa berusaha menyelesaikan. Maka penyelesaian terbaik adalah melibatkan diri sendiri (self healing). Komunikasi perlu dilakukan sebagai langkah penyelesaian. Komunikasi yang dimaksud ialah komunikasi intrapersonal karena diri sendiri sebagai pelaku dan penerima. Hal ini tentu berkaitan dengan self healing. Terjun ke dalam suatu masalah bukan maksud memperburuk keadaan, tetapi ditujukan sebagai cara berdamai dalam mencari penyelesaian masalah.

Komunikasi sebagai muara penyelesaian masalah

Pepatah klise yang menyatakan bahwa dunia itu berputar seperti roda menjadikan setiap orang mustahil terhindar dari berbagai masalah, baik masalah pribadi maupun masalah dengan pihak lain. Penyelesaian suatu masalah ialah dengan komunikasi yang baik. Apabila dianalogikan suatu masalah sebagai proses komunikasi intrapersonal maka bermula dari stimulus yang menyerap suatu informasi dan kemudian ditafsirkan sebagai suatu persepsi. Informasi yang diserap stimulus berupa suatu permasalahan yang melahirkan persepsi negatif. Memori akan menyimpan persepsi negatif sebagai sesuatu yang menganggu maka terjadi suatu proses berpikir yang melibatkan ketiga proses sebelumnya. Berpikir dapat dituangkan dalam sebuah tulisan yang nantinya menguraikan masalah yang dialami. Akhir kata, komunikasi intrapersonal sebagai bentuk respon atas suatu masalah diselesaikan melalui kegiatan menulis sebagai upaya self healing.

 

Referensi :

Muchlisin Riadi, Komunikasi Intrapersonal (Pengertian, Proses, dan Faktor yang Mempengaruhi), https://www.kajianpustaka.com/2020/10/komunikasi-intrapersonal.html diakses pada 1 Januari 2021 pukul 14.16 WIB

Wisnubrata, Self Healing, Menyembuhkan Luka Batin dengan Bantuan Diri Sendiri, https://lifestyle.kompas.com/read/2020/05/29/092426020/self-healing-menyembuhkan-luka-batin-dengan-bantuan-diri-sendiri?page=all diakses pada 1 Januari 2021 pukul 14.08 WIB

Eril, Pengertian Komunikasi, Tujuan, Fungsi & Macamnya, https://qwords.com/blog/pengertian-komunikasi/ diakses pada 1 Januari 2021 pukul 14.31 WIB

Rani Ayuna, Menulis Sebagai Self Healing, http://www.raniayuna.com/2020/04/menulis-sebagai-self-healing.html diakses pada 1 Januari 2021 pukul 15.05 WIB

Churiyah, Yayah. Tanpa Tahun. Komunikasi Lisan dan Tertulis, diakses versi pdf pada 2 Januari 2021 pukul 16.21 WIB

Nurkhalisa Ersyafiani, Self Healing: Sebuah Perjalanan Menyembuhkan Diri, https://pijarpsikologi.org/self-healing-sebuah-perjalanan-menyembuhkan-diri/ diakses pada 2 Januari 2021 pukul 16.30 WIB