Komunikasi Bisa Menyelesaikan Masalah, Jika Satu Syarat Ini Terpenuhi!

Begitu banyak masalah yang muncul akibat kurangnya komunikasi dua arah. Kembali lagi pada prinsipnya, sangat sederhana; ada yang berbicara ada yang mendengar, ada yang menulis ada yang membaca. Lantas, mengapa sulit?

Komunikasi Bisa Menyelesaikan Masalah, Jika Satu Syarat Ini Terpenuhi!
Source: https://www.pexels.com/photo/man-and-woman-sitting-on-chair-in-front-of-desk-1346197/

Semua umat manusia pasti berkomunikasi antar satu sama lain untuk bertahan hidup di lingkungan tempat mereka berada. Manusia adalah makhluk sosial, maka komunikasi merupakan elemen utama dalam hakikat kehidupan manusia dalam membangun hubungan antar sesama. Tanpa komunikasi, hidup akan terasa sepi dan hampa sekalipun bergelimang harta.

Komunikasi sendiri berasal dari bahasa latin "communicare" yang artinya "menyampaikan". Secara teori, komunikasi adalah suatu aktivitas penyampaian informasi baik itu pesan, ide, dan gagasan dari satu pihak ke pihak lainnya secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, yaitu dengan cara lisan atau verbal seperti ada yang berbicara dan ada yang mendengar. Secara tidak langsung, yakni melalui perantara media, bahasa tubuh, dan tulisan.

Dari definisi diatas, baik langsung maupun tidak langsung, komunikasi pada prinsipnya tetap sama yaitu dua arah. Komunikasi dua arah, secara konsep sebenarnya sangat sederhana. Ada yang berbicara ada yang mendengar, dan ada yang menulis ada yang membaca. Mudah, kan? Ya, memang terlihat sangat mudah. Namun, kenyataanya banyak orang yang kesulitan menerapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari - hari sehingga timbul berbagai masalah dalam hidup.

Salah satu masalah hidup akibat tidak lancarnya komunikasi dua arah yakni hubungan antara suami-istri yang berujung pada perceraian. Selama pandemi covid-19 di tahun 2020, menurut data dari Pengadilan Agama pada Juni dan Juli 2020, jumlah perceraian meningkat menjadi 57 ribu kasus dengan 80 persen kasus gugatan cerai diajukan oleh pihak istri. Berbagai masalah terjadi seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang membuat ekonomi keluarga berantakan, dan meningkatnya intensitas bertemu suami-istri di dalam rumah. Pada akhirnya, kesalahpahaman akibat komunikasi dua arah yang tidak lancar antara suami-istri membuat keduanya tak punya pilihan lain selain bercerai.

Source: https://www.pexels.com/photo/black-couple-talking-on-kitchen-5699707/

Begitu banyak masalah yang muncul akibat kurangnya komunikasi dua arah. Kembali lagi pada prinsipnya, sangat sederhana; ada yang berbicara ada yang mendengar, ada yang menulis ada yang membaca. Lantas, mengapa sulit?

Perihal komunikasi verbal, banyak orang yang fokus pada elemen berbicara. Komunikasi berarti berbicara antar satu sama lain. "Ngapain belajar komunikasi? Kan kita udah komunikasi tiap hari, dari lahir lagi", kurang lebih seperti ini pandangan masyarakat secara umum soal komunikasi. Komunikasi memang simpel, tapi tak sesimpel itu. Orang menganggap jika kita berbicara satu sama lain berarti kita sudah berkomunikasi.

Inilah pangkal permasalahannya. Hanya fokus pada poin berbicaranya namun abai dalam mendengar. Dimana - mana banyak pelatihan public speaking, buku - buku yang mengajarkan teknik berbicara untuk memengaruhi orang lain, dan konten - konten media sosial terkait skill public speaking. Memang public speaking kian banyak peminatnya untuk mempelajari dan penting sekali dalam meningkatkan kualitas hidup terutama dalam karir, itu hal yang bagus. Tetapi, bagaimana dengan teknik mendengar? Tidak ada yang namanya, public listening adanya public speaking.

Padahal manusia memiliki dua telinga dan satu mulut, namun nampaknya satu mulut ini menjadi sangat dominan dibanding dua telinga. Kurangnya mendengar itulah yang membuat banyak sekali masalah kesalahpahaman dalam, hubungan manusia baik percintaan, keluarga, pertemanan, dan professional. Maka dari itu, agar meminimalisir kesalahpahaman komunikasi, ada baiknya melatih kemampuan mendengar dengan cara yang sangat sederhana.

Salah satunya dengan cara mindful listening, yaitu menghadirkan pikiran, jiwa, dan raga dimomen saat ini (present) untuk fokus mendengarkan lawan bicara yang ada di hadapan kita. Kosongkan gelas pikiran, kurangi ego, jauhkan segala hal yang bisa mengganggu seperti smartphone, dan pilihlah tempat yang nyaman. Kemudian, hilangkan segala penilaian dan stigma subjektif terhadap lawan bicara hanya fokus saja mendengarkan setiap kata yang terucap darinya. Rasakan emosi yang terpancar dari bahasa tubuh, ekspresi muka, dan nada bicaranya agar timbul rasa empati sehingga akan lebih memudahkan dalam memahami apa yang sebenarnya orang itu ingin sampaikan.

Dari situlah, kita perlahan dapat memahami apa yang dibutuhkan lawan bicara. Apakah dia butuh diberi nasihat, atau ingin dibesarkan hatinya dengan kata - kata semangat, atau hanya sekedar didengarkan saja tanpa membalas? 

Kemudian, biasakan untuk berbicara dengan nada dan pemilihan kata yang tepat. Tidak semua orang bisa diajak bicara secara terus terang, dan tidak semua orang suka dengan gaya komunikasi yang penuh basa-basi. Dari mendengarkan ini saja, kita bisa lebih memahami karakter lawan bicara sehingga kita pun dapat memberikan balasan yang tepat.

Source: https://www.pexels.com/photo/happy-couple-talking-on-veranda-in-morning-4307727/

Dengan menerapkan mindful listening, komunikasi dua arah akan lebih lancar sehingga meminimalisir kesalahpahaman antar satu sama lain. Memang ada juga kiat lain agar komunikasi dua arah lebih lancar seperti pemilihan kata - kata dan nada bicara yang menunjukan tanda empati, dan menyelaraskan antara pikiran dan perasaan lewat metode mindfulness, namun jika terbiasa menerapkan mindful listening secara konsisten dalam komunikasi sehari - hari, maka nantinya masing - masing orang akan menemukan formulanya sendiri - sendiri dalam berkomunikasi saat menghadapi suatu masalah.

Komunikasi memang bisa membuat masalah kecil menjadi besar, tapi bisa juga memberikan dampak positif tergantung bagaimana cara menerapkannya. Bagi yang tidak terbiasa berkomunikasi dua arah saat menghadapi masalah, awalnya akan cukup sulit, tetapi jika ingin memiliki kehidupan yang lebih baik di hari ini dan ke depannya, maka menguasai teknik komunikasi dimulai dari mindful listenging akan menjadi langkah pertama yang baik.