Kolam Muna ( Mereka ), Bagian ke Dua

"Roh-roh itu ada yang tinggal tetap dan tak bergerak. Jiwanya terikat dan tak bisa lepas meninggalkan suatu tempat. Tapi, ada juga yang bebas, mengikuti kemanapun kita pergi." Penulis.

Kolam Muna ( Mereka ), Bagian ke Dua
Image teken from pexels.com

Udin.

Dengan lusuh dan pakaian yang telah kering di badan, Udin pulang ke rumah terpincang-pincang. Wajahnya tampak pucat dan menggambarkan ketakutan.

" Ya Tuhan, Diiiinnnn..." teriak bu Leila persis di depan pintu rumah. 

Segera dia berlari menyambut Udin, anaknya dengan pelukan hangat sambil menangis. 

"Astaga, Din. Bunda khawatir, Nak. Bunda dengar dari tetangga kalau ada yang tenggelam." katanya sambil terus memeluk Udin yang hanya diam. " Ayo, segera masuk... Bersihkan badanmu dulu, nanti kita cerita." 

Segera, ia menggiring Udin masuk ke dalam rumah. 

Sementara Udin mandi lalu berganti pakaian, dengan sigap bu Leila menyiapkan minuman teh hangat manis ditambah dengan satu sendok gula putih dalam gelas kaca bening. Ia juga membuatkan roti yang diberi selai srikaya kesukaan Udin. Lalu, semua itu diletakkan di atas meja makan kayu yang bertaplak kain kuning. Di meja makan itu terdapat empat kursi makan kayu yang dicat senada dengan warna taplak. 

"Alan, coba lihat kakakmu, bilang bunda sudah buatkan teh hangat dan roti kesukaannya." teriak bu Leila ke anaknya yang kecil, adiknya Udin, yang sedang duduk asik menonton film Unyil di televisi.

"Itu, Bunda, kak Udin barusan keluar kamar." sahutnya sambil melirik ke kamar Udin yang terletak tak jauh dari ruang tamu. 

"Kreek..." Udin menarik kursi makan lalu duduk. Dia segera menyambar roti kesukaannya itu dan langsung meneguk teh hangat buatan bundanya. Dia tampak sangat lapar. Dalam sekejap habis 3 potong roti yang telah dibuat bunda.

"Gimana, Din? Ada yang mau diceritakan ke bunda?" tanya bu Leila yang sejak awal sudah duduk di samping Udin sambil memperhatikan anaknya makan dengan lahap.

"Bunda kan udah dengar dari tetangga-terangga."

"Iya, tapi Bunda juga mau dengar dari kamu."

"Ya, itu. Ari tenggelam tadi. Aku sama teman2 bantu tolongin dia tapi ..."

Cerita Udin tiba-tiba terhenti. Matanya mulai berkaca-kaca mengingat kejadian yang baru saja menimpanya.

"Lalu?"  tanya bu Leila dengan hati-hati, dengan wajah yang tampak cemas.

"Hantu Muna, Bunda. Hantu Muna ternyata sungguhan ada. Kakiku ditarik tadi. Teman-teman yang bantu. Untung aku selamat, tapi Ari tidak." 

Dengan wajah sedih bercampur takut Udin berusaha bercerita sambil mengingat kejadian siang tadi yang hampir saja merenggut nyawanya. 

"Alhamdulilah, Nak. yang penting kamu tidak apa-apa.'' Kata bu Leila sambil mengusap kepala Udin dengan lembut. " Jangan diingat-ingat lagi ya kejadian itu. Yang berlalu biarlah berlalu."

"Iya, Bunda." 

Rumah Udin terletak di ujung kampung, berbatasan dengan kampung sebelah. posisinya agak berjauhan dengan rumah para tetangga. Ayah Udin, pak Hasan, selalu pulang malam karena pekerjaannya sebagai tukang bangunan. kadang jam 7 malam baru sampai di rumah. 

Rumah mereka bisa dibilang cukup bagus, karena bundanya Udin juga bekerja sebagai guru SD di kampung. Mereka bisa membangun rumah permanen yang lumayan, dengan dominasi cat hijau cerah dan berhalaman yang lumayan besar. Itu semua  hasil karya pak Hasan. Di depan rumah ada pagar kayu yang ditumbuhi tanaman merambat. 

***

 

Jam menunjukkan pukul 9 malam. Rumah Udin tampak sepi, karena tiap jam segitu mereka memang sudah beristirahat. Hanya lampu teras dan dapur yang dibiarkan tetap menyala. Ayah dan Bunda sudah di kamar beristirahat. Sedang Udin dan Alan adiknya tidur di satu kamar. Alan sudah kelas 3 SD tapi tidak berani tidur sendiri. Tiap malam selalu tidur bersama Udin.

Udin masih saja menatap langit-langit kamarnya dengan lampu kamar yang menyala remang, dia sulit tidur. Dengan pengalaman yang baru saja dialaminya tadi siang, mana mungkin dia bisa tidur. 

Di tengoknya Alan yang sudah tertidur pulas sambil memegang mainan Satria Baja Hitam kesayangannya. Perlahan Udin duduk di kasurnya yang beralaskan sprei berwarna hijau tua. Malam itu Udin mengenakan celana panjang kain garis-garis hitam abu-abu serta kaos putih bergambar logo sekolahnya, SMPN25. 

Dia menggulung celana panjang yang sebelah kiri, lalu mulai mengobati kakinya dengan obat merah yang tadi sempat diambilnya dari kamar bunda. Di pergelangan kaki kiri Udin terdapat banyak luka cakar, dan sebagian masih mengeluarkan sedikit darah. Kejadian tadi siang meninggalkan bekas luka pada kakinya.

Dengan wajah menahan sakit, dia mulai mengoles obat merah itu pelan-pelan menggunakan kapas. 

 

"Tok...tok."

"Tok...tok."

Suara ketokan pintu terdengar.  Udin kaget lalu langsung menutup bekas lukanya. Dia sengaja tidak ingin bunda tahu karena bunda pasti akan sangat khawatir. Dan dia pasti akan dihukum karena telah nakal berenang ke kolam Muna tanpa ijin. Semua orang tua di kampung pasti melarang anak-anak mereka berenang di situ karena memang berbahaya.

"Tok...tok."

"Bunda, Ayah?" sahut Udin di dalam kamar.

"Tok...tok." Karena tidak ada yang menyahut, Udin bergegas berdiri dan berjalan menuju pintu kamar.

"Bunda, Ayah, ada apa?" tanya Udin sambil membuka pintu kamarnya.

Saat Udin membuka pintu, di depan kamarnya tidak ada siapa-siapa. Lalu ditutupnya kembali pintu kamar itu. Saat Udin mulai berjalan menuju tempat tidurnya, suara ketokan itu berbunyi lagi namun lebih keras. 

TOK..TOK...

TOK..TOK...

Segera Udin berbalik dan membuka kembali pintu kamarnya. Namun hal yang sama dia temukan. Tidak ada siapapun di depan pintu. 

Udin berjalan menuju kamar ayah dan bunda yang letaknya berdampingan dengan kamar mereka. Dia melihat ayah dan bunda tertidur pulas. Dengan wajah kebingungan, Udin bersiap kembali ke kamarnya. Saat Udin berbalik badan berjalan  menuju kamar, dia melihat sekilas di sudut matanya seperti ada bayangan yang berlalu cepat di ruang tamu. 

"Ah, apalagi itu. Apa ayah tadi lupa mengeluarkan kucing bunda?" batinnya.

Segera dia berjalan menuju ruang tamu, menyalakan lampu dan mencari si Hitam, kucing kesayangan Bunda.

"Puuuss... puuusss." panggilnya.

Saat memanggil si Hitam di bawah meja ruang tamu, sekelibat dia melihat ada bayangan hitam yang masuk ke kamarnya. sambil berlari terpincang-pincang, Udin masuk ke kamar berusaha menangkap si Hitam.

Saat tiba di kamar, dia mencium aroma melati yang sangat kuat. Tiba-tiba Udin terdiam membatu. Seluruh tubuhnya terasa sangat dingin. Dilihatnya Alan yang masih tertidur pulas. Dia merasa seperti ada seseorang di belakangnya. Perlahan Udin menggerakkan kepalanya dan berusaha menoleh ke belakang. 

Dilihatnya sesosok hitam tepat di belakangnya.  Seluruh wajah dan tubuh sosok itu tampak hitam pekat. Mata hitamnya melotot tajam menatap Udin. Dengan sekuat tenaga Udin berlari menuju kasur. 

"Ini mimpi... ini mimpi..." katanya dalam hati berkali-kali.

Dilihatnya sosok itu bukannya menghilang malah mendekat. Jari-jari panjangnya berusaha menggapai Udin. Dia berusaha berteriak minta tolong, tapi suaranya tiba-tiba hilang. Diliriknya Alan yang masih tertidur pulas. Udin berkali-kali menjerit tapi suaranya tak keluar.

Sosok itu semakin dekat. Udin memohon dan terus berdoa. Jari-jari panjang itu menggapai Udin lalu mulai menariknya. Dia ingin membawa Udin pergi. Udin berteriak meronta-ronta saat sosok menyeramkan itu menarik tangannya dengan kuku-kuku tajam. 

Dia berteriak dan terus berteriak. Sosok itu menyeret tangan Udin hingga terjatuh dari ranjang. Udin tampak kesakitan karena kuku-kuku tajam itu menancap di lengannya. Anehnya semua yang berada di dalam rumah tak ada yang menyadari bahwa Udin sedang bergulat hebat dengan sosok mengerikan malam itu. Alan yang berada di dalam kamar masih saja tertidur lelap. 

Udin melirik adiknya dan berusaha menggapainya namun dia tak mampu. Tangan yang mencengkramnya menarik dengan sangat kuat, menyeretnya keluar dari kamar, melalui kamar orangtua Udin hingga menuju ruang tamu. 

Dia terus meronta-ronta, bayangan kolam Muna muncul dalam pikirannya dan sepertinya dia tahu ke mana makhluk itu akan membawanya. Membawanya pergi ke kolam Muna, di mana di dalam kolam itu jiwa-jiwa lainnya berkumpul. 

Saat Udin hendak diseret keluar rumah, dengan sisa tenaga yang masih ada, dia berteriak, 

"Oh, Tuhan... tolong, tolong aku."

Lalu pandangannya menjadi kabur, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit, dan pingsan.

***

 

"Hei, Udin. Udiiiiin." 

Alan menggoyang-goyangkan tubuh Udin yang tampak tergeletak di lantai. Dengan setengah sadar, Udin terbangun dan melihat Alan duduk di sampingnya. Segera dia duduk, mengucak matanya lalu memeluk adiknya dengan erat.

"Aduh, sakit. Jangan peluk kuat-kuat dong." keluh Alan. " kamu habis mimpi buruk, ya? gak bisanya tidur di lantai." lanjutnya.

" I... Iya, aku mimpi buruk semalam." sambil perlahan melepaskan pelukannya dari Alan. 

Udin sangat bahagia, ternyata kejadian semalam hanya mimpi. Dia berfikir mungkin karena kejadian mengerikan kemarin siang yang sangat membekas, makanya sampai terbawa mimpi.

"Ayo, bangun, sarapan. Bunda sudah bikin nasi goreng, lho." kata Alan sambil berdiri lalu segera berlari menuju dapur.

Udin yang saat itu masih duduk di lantai segera berdiri lalu berjalan menuju tempat tidurnya.

"Aduh..." seru Udin pelan. 

Dia merasakan nyeri di lengan kanannya. wajah Udin langsung berubah pucat dan penuh ketakutan, lengan kanannya penuh dengan luka-luka cakar. 

"Jadi semalam, itu bukan mimpi? ta...tapi bagaimana bisa?" batin Udin bercampur aduk. 

 

Segera dia mengambil jaket, menutupi luka-luka itu, lalu berjalan ke arah dapur dan duduk mengambil nasi goreng yang sudah dibuat bunda.

" Pagi, Din. Kenapa, kok mukamu pucat begitu?" 

Tanya bunda sambil meletakkan sepiring nasi goreng hangat dengan telur dadar tepat di depan mejanya.

"Semalam susah tidur, Bun."

"Ya sudah, habis sarapan istirahat saja lagi, ya."

"Iya, Bun."

Saat itu sekolah di kampung bertepatan dengan liburan kenaikan kelas, jadi anak-anak kampung libur semua.

"Aku harus ke rumah Eko, sebaiknya ku ceritakan saja rahasia ini ke teman-teman." batin Udin sambil melahap habis nasi gorengnya.

Alan yang memperhatikan Udin hanya bisa menatap heran. Ibu sedang menjemur pakaian kala itu.

***

 

BERSAMBUNG ...