Kita Ini Sodara! Sodara!

Kita Ini Sodara! Sodara!

Cerita lucu ini saya dapat dari Sukabumi. Karena pulang kemalaman naik motor ke Jakarta, maka seperti biasa saya sangat berhati-hati menjaga stamina. Saya ingat waktu itu sudah pukul 2:00 pagi. Jadi tiap kali merasa lelah sedikit, maka saya langsung berhenti di warung yang ada. Karakter warung di Sukabumi, seperti juga Banten, ada balai-balai tempat istirahat yang boleh dipakai oleh para musafir seperti saya. 

Nah alkisah di sebuah warung, saya menemui beberapa orang muda-mudi. Satu perempuan, dua lelaki. Dilihat dari gelagatnya, mereka dari dunia malam. Tentu mengerti maksudnya apa ya, tidak usah dijelaskan. Yang lelaki saya perhatikan matanya merah, sementara yang perempuan melekat manja ke salah satunya. 

Berisik sekali mereka, sehingga saya jadi sulit tidur di balai-balai warung. Sambil cekakak-cekikik, yang perempuan merajuk manja minta pulang. Sementara yang laki-laki sepertinya tidak merelakan dia pergi.

Maka tiba-tiba ia menghampiri jajaran motor yang sedang parkir, lalu melihat ke arah saya, dan telunjuknya ditempel di bibir, meminta saya jangan memberitahu siapapun, lalu...

SSSHHHH!!!

Bunyi ban dikempeskan. Dan tentu saja saya jadi bingung. Karena yang sedang dia gembosi itu ya motor saya!

"Lha Kang, motor saya diapain?" Tanya saya.

Dia kaget. Lalu segera ngeles. "Oh gaa.. ga saya apa-apain. Becanda saja." Lalu tanpa ba bi bu, melengos dan masuk ke warung. 

Dengan kondisinya yang terlihat mabuk ya jelas saya meragukan keterangannya. Saya segera melompat dan memeriksa ban. Agak kempes memang.... Lha kalau begini caranya tentu saya repot. Harus menunggu pagi untuk pergi ke tambal ban. Dan tidak lucu mendorong motor dalam keadaan kondisi jalan yang menanjak tajam di sekitaran Cikidang yang gelap, minim penerangan jalan. 

Sedikit menyeruduk, saya masuk ke dalam warung dan protes. "Kang, itu ban motor saya diapakan? Saya periksa kempes, lho!" seru saya setengah berteriak.

Dan reaksi orang itu mengagetkan saya.

"Kurang ajar Sampeyan! Nuduh-nuduh saya!" Matanya terlihat makin merah.

Terus terang saya juga agak ciut juga. Bukan apa-apa, orang mabuk tidak bisa ditebak reaksinya. Paling repot kalau sudah bawa senjata tajam. Mereka bisa-bisa menusuk tanpa sadar. Bisa repot saya kalau mati di sini, pikir saya. Siapa yang mau mengantar di tengah hutan ini ke Jakarta. 

"Ya saya nanya, tadi si Akang ngapain ban motor saya, saya periksa kok kempes,ya?" Saya berusaha melunakkan suara sambil memegang ban. 

"Saya ga suka dituduh-tuduh begini! Bannya tidak saya apa-apakan! Pegang aja nih, lembek ga!" Teriaknya makin kencang. Lah saya tentu memberikan keterangan sejujurnya, karena saya pikir ban itu memang agak kempes. 

"Kang, emang saya pegang rasanya emang kempes . Dan saya cuma nanya, tadi diapakan? Soalnya tadi kan saya dengar bunyi sssshhh kencang. Saya cuma nanya lho!"

"Pokoknya saya ga terima! Saya ga terima dituduh begini! Kurang ajar! Mau cari ribut? Ayo! Ribut kita!" Tapi ya lama-kelamaan saya jadi mengerti. Orang mabuk itu ya beginilah. Berisiknya saja, karena memang emosinya tidak terkontrol. Kalau lagi sadar, mungkin tinjunya sudah masuk ke pipi saya satu. Kita jadi berkelahi fisik. 

"Saya itu tadi cuma bercanda. Bohong-bohongan! Cuma saya beginiin, lihat! SHHHHH!!!" katanya sambil menirukan lagi aksinya tadi.

"Iya Kang, saya mengerti. Saya cuma memastikan tadi, akang beneran ngempesin motor saya atau ga. Soalnya saya ini kan jalan malam. Kalau kempes saya terpaksa menunggu pagi dan mendorong motor ke tambal ban. Jauh.."

"Pokoknya saya ga terima! Ayo! Ribut kita! Ribut!"

Tapi ya ini jadinya cuma perang mulut. Dan saya sebenarnya malas sekali meladeni orang mabuk. Si perempuan temannya berusaha mengelus-elus paha saya. "Lah yang ini malah cari kesempatan," pikir saya geli. Ya tapi itu mungkin memang bahasa tubuh perempuan malam, menenangkan laki-laki ya dengan elusan. 

Situasi jadi makin aneh. Tapi si laki-laki yang mabuk tadi kemudian pergi dengan berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Ibu pemilik warung mengomelinya, "Sudah... Sudah.. malu saya. Ini warung di tengah hutan. Situ teriak begitu nanti dikira ada perbuatan kriminal. Wis. Pulang! Pulang!" Sembari meminta maaf kepada saya, tentu dia mengerti saya tidak salah. 

Hingga pada jarak tertentu tiba-tiba saya dengar ia berteriak kencang bukan main. Lalu berlari menuju saya. 

"Waduh, beneran mati di tengah hutan nih kayanya," pikir saya refleks.

Komat-kamit saya mengucap doa, "Ya Allah, minimal kalau saya mati konyol malam hari buta begini, moga-moga tidak dibuang ke tengah hutan lalu hilang selamanya. Seenggaknya disimpan di kamar mayat dulu dan diidentifikasi lah, biar bisa dipulangkan ke keluarga. Ga lucu saya mati di kampung orang, Ya Allah."

Orang mabuk tadi makin mendekat. Ibu warung teriak histeris. Si perempuan dan laki-laki temannya tadi sudah buru-buru pulang. Saya tinggal menghadapi dia sendiri. 

"Aaaargh!!!!!"

Tinggal 3 cm hidung saya dan dia. Saya sudah memicingkan mata. Moga-moga kalau ditusuk tidak di tempat yang sakit. Dan moga-moga langsung luka fatal dan mati, jangan sampai tersiksa berjam-jam pendarahan, Ya Allah....

Lalu..

Si pemabuk memeluk saya. Tiba-tiba dia nangis kueeeenceng dan lama sekali.Sama sekali tidak saya duga, di berbisik di telinga saya. 

"Saya minta maaf sama sampeyan, saya ini malu sekali jadi orang Jawa!"

Lha? 

Muka saya yang sudah putih pucat tiba-tiba bengong. 

"Iya, mohon maafkan. Ora pantes saya teriak-teriak kaya tadi. Saya mabuk. Maafkan saya. Yang tadi itu sama sekali bukan saya. Saya khilaf," 

Lha tapi ya matanya masih merah, dan bedirinya masih sempoyongan, dari mulutnya tercium alkohol menusuk hidung. Apa orang mabuk emang begini ya, tiba-tiba marah lalu dalam sekejap nangis-nangis?

"Iya udah. Wong Jowo, tho. Saya panggil Mas apa ya?" Dia memperkenalkan diri. Sebut saja Misno.

"Mas Misno sudah, saya tadi itu cuma bertanya. Karena saya lihat mas seolah menggembosi ban saya. Kalau tidak dilakukan ya bilang saja baik-baii. Mungkin ban saya jadi agak kempes karena udaranya dingin. Tidak apa-apa."

Mas Misno masih meraung-raung minta maaf. 

"Ngopi yuk mas?" ajak saya sambil memesan kopi kepada ibu penjaga warung. Semua bingung dengan perubahan sikapnya yang begitu tiba-tiba. 

Saya kemudian memberinya sebatang rokok yang lalu dihisap dalam-dalam. 

"Malu saya mas. Orang Jawa harusnya dihina sekalipun tidak marah. Entah kenapa, mungkin karena mabuk, saya jadi mudah sekali emosi. Di luar kendali saya," Ulangnya lagi.

"Ga apa-apa. Minta maaf juga, saya ini orang Sumatera. Kita kalau nanya ya tidak pakai basa-basi. Blak-blakan saja, ya atau tidak. Mohon maaf kalau bagi mas itu terasa menuduh," saya merangkul bahunya. 

Ia kembali menangis. 

"Jowone ning ngendi, Mase?" Saya berusaha berbahasa Jawa seadanya, sok akrab lah. Ya jelas, hampir kehilangan nyawa, apa lagi yang bisa saya rasakan selain bersyukur karena tiba-tiba ia berubah pikiran.

"Di Sukoharjo,Mas!"

"Lha, Wong Solo tho?"

"Nggih!"

"Wong Solo pasti dukung Pakde, Tho?"

Dari awalnya sedih, mukanya tiba-tiba terukir senyum lebar.

"Pakde Jokowi?! Woiyaaaaaa!!! Saya pentoan relawannya di sini! Hahaha. Di Sukabumi mana ada yang dukung Jokowi, saya aja yang serius kampanye di sini Mas!"

"Lha, sama.. saya juga relawan pakde. Tapi di media sosial."

"Main FB sama twitter gitu mas?"

"Nggih..." jawab saya. Saya tidak mengerti mana yang bahasa Jawa halus atau kasar. Sudah apa saja kata yang teringat ya diucapkan saja. Mungkin dia ketawa dalam hati mendengar kosa kata saya yang berantakan.

"Kalau gitu kita ini sodara! Sodara! Hihihi!" Dia tiba-tiba teriak girang dan kembali memeluk saya. Lagi-lagi perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba membuat saya kebingungan. 

Mas Misno melanjutkan ceritanya panjang lebar sambil terus menghisap rokoknya di tengah udara yang dingin sekali malam itu. Berulangkali dia memmperlihatkan fotonya berdua dengan Pak Jokowi dengan penuh bangga.

"Di Sukabumi ini yo hampir semua kadrun, Mas. Saya beberapa kali bersitegang dengan orang-orang sini karena terlalu ngotot kampanyein supaya pilih Pak Jokowi saja. Nanti tanyakan saja sama orang istana, siapa yang mati-matian kampanye di Sukabumi, pasti tahu nama saya," katanya menyebut salah satu nama pejabat penting. Tidak enak saya sebutkan di sini.

"Ya saya juga mas. Di Sumatera Barat cuma dapat 13 persen suara. Hahaha," percakapan kami begitu cair malam itu.

"Terus kok mas main ke Sukabumi, ada keperluan apa?" Tanyanya menyelidik.


"Ya rekreasi saja. Bertualang, sembari menulis soal petani kecil, sekalian membina hubungan dengan relawan-relawan seperti Mas Misno ini," jawab saya. Saya lalu menceritakan nasib para relawan yang kini banyak yang kesulitan hidup karena gelaran pilpres sudah usai. Karena kebanyakan bukan anggota partai, sekedar orang-orang biasa yang menyuarakan dukungannya, maka begitu selesai pemilu, selesai pula kegiatan mereka. Hanya beberapa gelintir yang masih sempat membina jaringan dan mendapat posisi. Itu pun bisa dihitung dengan jari. 

Padahal banyak sekali tuduhan relawan hidup enak sebagai buzzer, yang berarti dibayar untuk suaranya. Lah kenyataannya mayoritas ya seperti Mas Misno ini. Relawan-relawan yang kiprahnya kemudian terlupakan. 


"Apalagi saat pandemi begini, banyak yang kehilangan pekerjaan. Hampir tidak ada lagi yang memperhatikan nasib mereka. Saya keliling, menjenguk mereka yang mengeluh kesulitan. Ada beberapa yang sudah menyatakan niat bunuh diri karena problem kesehatan atau ekonomi," saya menyambung cerita.


"Nah iya bener itu mas. Kaya saya ini sekarang luntang lantung. Mau kerja, ga ada yang nawarin," mukanya mendadak sedih lagi. 


"Yang sabar ya, Mas. Saya yakin semua orang itu sudah ada pintu rezeki masing-masing," saya mencoba menghibur.


"Kalau ada yang bisa saya kerjakan, beri tahu ya mas. Apapun saya mau," tanyanya dengan muka penuh harap.


"Insya Allah. Moga-moga ada pekerjaan yang bisa saya bagikan. Beritahu saja saya nomor Whatsappnya dan kita jalin silaturahmi. Nanti kalau ada pekerjaan yang sesuai, saya infokan."
Panjang lebar betul cerita Mas Misno malam itu. Hingga fajar mulai menyongsong dan masjid--masjid sekitar mulai memperdengarkan pengajian, Mas Misno baru pamit, hendak balik ke rumahnya. Saya pun jadi ingat harus segera kembali ke Jakarta. 


Banyak sekali cerita yang ingin saya share mengenai Sukabumi. Salah satunya bisa dibaca mengenai pembangunan jalan pintas ke Pelabuhan Ratu, karena maraknya perkebunan sawit di daerah sini. Saya percaya tidak ada satupun perjalanan yang sia-sia, pasti ada banyak kisah yang bisa diceritakan.


Karena kita ini semua sodara, sodara....