Kisah Pemuliaan Tanaman

Kisah Pemuliaan Tanaman
Little Joe (2019) menjadi film pertama yang saya tonton, dari serangkaian film di Festival Europe on Screen 2020—berlangsung 16-30 November 2020 . Judulnya sungguh mengingatkan saya pada film seri TV lawas berlatarbelakang Wild West, Bonanza.
 
Tapi, tentu saja, film Austria karya Jessica Hausner ini tak ada hubungannya dengan film Bonanza. Yang satu ini adalah film science fiction, dengan durasi sepanjang 1 jam 45 menit.
 
Pusat cerita dalam film ini berporos pada tokoh utama bernama Alice Woodard, yang diperankan oleh Emily Beecham. Ia seorang ibu tunggal yang berprofesi sebagai pemulia tanaman, di sebuah perusahaan bioteknologi. Tugasnya, bersama dengan tim-nya, mengubah genetika tanaman. Guna menciptakan tumbuhan yang tak ribed untuk diurus, tapi bisa maksimal membahagiakan manusia. Itulah targetnya
 
Tapi, tentunya, target utama dari perusahaan adalah profit yang besar. Karena itu, ketika Alice mulai percaya bahwa ada efek negatif dari pemuliaan Little Joe—sebutan untuk tanaman itu yang diambil dari nama anak Alice, Joe—atasan dan koleganya berusaha keras, dengan cara apapun, untuk mencegah terjadinya penundaan produksi. Mereka tengah cepat mengejar kesempatan untuk memperkenalkan Little Joe dalam sebuah festival tanaman, yang akan berlangsung tak lama lagi. Demikian kira-kira jalannya cerita dari film ini.
 
Saat menonton film ini, ingatan saya langsung terbawa ke masalah GMO, genetic modified organism (organisme termodifikasi secara genetika) di dunia nyata. Sebentuk tindakan yang dilakukan untuk membuat tanaman turunan mempunyai sifat yang berbeda dari sifat alamiah orangtuanya. Demi memperbanyak profit tentunya.
 
Pertanyaannya, apakah tak ada akibat sampingan yang buruk dari campur tangan manusia pada alam seperti itu? Hasil pemuliaan tanaman itu, yang disebut untuk kepentingan umat manusia, apakah benar-benar aman untuk manusia?
 
Di film ini, Little Joe, meski 'hanya' tanaman, tapi seolah ia marah atas upaya rekayasa genetika yang dialaminya. Yang terlihat di mata kita yang menonton film ini adalah, perseteruan antara Alice dan orang-orang di tempat kerjanya, yang kemudian ditambah dengan anak kandungnya. Tapi, sebenarnya ini adalah perang antara Alice, si pelaku rekayasa; dan Little Joe, si hasil rekayasa. Menarik ini!
 
Tapi, jangan harap ada adegan balas dendam berdarah-darah ya. Saya rasa, justru yang seperti itu akan membuat film ini menjadi terlalu biasa dan murahan.
 
Yang juga menarik bagi saya adalah, tiap kali ada adegan di mana seseorang masuk ke ruang laboratorium, saya merasa seperti masuk ke ruangan yang berudara dingin. Padahal, ruang tempat Little Joe berada selalu diatur bertemperatur tinggi untuk menjaga kehidupannya. Kenapa saya merasa begitu ya? Entah. Mungkin itu haya sensasi tegang yang muncul saat menonton. Ketegangan yang tanpa saya sadari terbangun dengan sendirinya.
 
Hal lain yang saya suka dari dari film ini adalah, musik latarnya yang berupa dinamika berbagai suara seperti tak beraturan. Ada bagai suara anjing menggonggong, tifa ditabuh, mesin jet pesawat, dan lainnya. Kadang musik berbunyi bagai alunan gamelan Bali. Apapun itu, musik dalam fim berhasil membangun ketegangan pada saya saat menontonnya.
 
Misalnya, pada adegan di mana seorang anggota tim pemulia terkurung di lab, saya sempat menyangka bahwa anjingnya yang sudah ia 'tidurkan', hendak membalas dendam bersama Little Joe. Perkiraan yang lumayan dangkal sebenarnya, tapi jadi terasa seru.
 
Belakangan, melalui Q&A dengan Jessica Hasner, sutradaranya, diketahui bahwa musik tersebut sengaja dipilihnya justru karena campuran suara yang terdengat bagai tak beraturan itu. Merupakan musik yang dibuat oleh seorang musikus Jepang, sekitar duapuluh tahun sebelum film Little Joe dibuat. Jadi, itu bukan musik yang khusus dibikin untuk Little Joe.
 
Film Little Joe ini adalah sebuah film berbahasa Inggris. Tentu ada rasa heran, mengapa sebuah film Austria dibuat berbahasa Inggris. Jawaban dari sutradara Hasner enak untuk disimak.
 
Katanya, guna mengaburkan universe dari film Little Joe. Kalau berbahasa Jerman, bahasa sehari-hari di Austria, maka jadilah itu film Austria atau film Jerman belaka. Universe-nya menjadi tak cukup luas. Dengan memakai bahasa Inggris yang notabene adalah bahasa internasional, batas geografis film Little Joe pun melebur. Sungguh menarik, bukan?   =^.^=