KISAH DIBALIK KASIH (RESENSI BUKU)

KISAH DIBALIK KASIH (RESENSI BUKU)

Status sosial kerap kali menjadi kelas tersendiri. Kelas satu. Kelas dua, kelas tiga dan seterusnya. Dalam dunia pekerjaan, kelas-kelas tersebut kerap kali digunakan untuk memilah dan memilih. Sebut saja di dalam dunia pegawai negeri sipil atau PNS. Membagi tunjangan untuk kelas dalam golangan tingakat satu, dua, tiga dan seterusnya. Tatkala hal itu, seseorang secara tidak sadar men-sekat-sekat status sosialnya secara linier. Kaya dengan si kaya, miskin dengan si miskin, itu kebanyakan orang yang berasumsi seperti itu.

            Melihat fenomena seperti ini, terkait dengan status sosial. Seorang anak muda yang digambarkan oleh Puthut EA dalam kisahnya yang berjudul kisah RIO yang dikenal sebagai dosen universitas di Yogya ini, mencoba menceritakan kejadiannya terkait status sosialnya yang tak patut untuk di tiru. Seakan, status sosial sebagai bahan candaan ketika dirinya menceritakan kisahnya kepada temannya. Tidak dapat dipungkiri, di mana kehidupan seperti sekarang tatkala hanya sebagai bahan konten subuah prank yang sedang marak-maraknya.

            “Akhirnya saya putuskan untuk mendekati mereka berdua. Lalu saya tanya,es krim mana yang mau dibeli? Si Anak kemudian menunjukan es krim di sebuah kotak penyimpanan. Saya mengambil satu, sambil bilang kepadanya akan saya bayar dulu di kasir. Ibu anak itu terharu. Sampai menitikan air mata.

            “Balik dari kasir, saya jongkok. Saya buka bungkus es krim itu. Begitu si Anak siap menerima es krim itu... Hap! Langsung es krim itu saya makan! Saya makan dengan lahap!”

            ....

            “Mereka harus tahu bahwa di dunia ini, banyak orang kejam sepertiku. Bahwa lebih kejam lagi juga banyak!” (Hal 04).

            Tulisan yang padat, ringkas, dan sesekali menyindir. Bahkan tidak jarang, dengan status sosial yang terlihat tinggi, dirinya mampu melakukan sebuah tindakan prank. Akan tetapi penulis menyampaikan bahwa, masih banyak kekejaman diluar batas yang seharusnya di ungkap dan dihakimi. Mungkin saja ada beberapa hal yang terungkap kasus kekejaman yang lebih berat, seperti tindakan korupsi atau kekerasan seksualitas. Namun kejadian seperti itu hanya seperti angin lalu, semusim lalu menghilang, dan apakah itu termasuk ke dalam golongan kesenjangan sosial?

            Disisi lain, penulis juga menghadirkan arti dari toleransi, dimana kelas sosial tak harus melulu dihadirkan adanya diskriminasi sosial. Dalam bukunya yang berjudul Kelakuan Orang Kaya ia menghadirkan berbagai kisah-kisah sederhana. Kisah yang hampir detemui di berbagai kejadian nyata.

            “Ya sudah. Tolong jangan dibikin rebut. Kasihan. Dia orang kecil. Bebaskan dia. Minta dia perbaiki mobil boksnya, aku yang menanggung ongkosnya.” (Hal 88)

            Penulis melihatkan bahwa, masih banyak orang yang memiliki simpati serta rasa kemanusiaan, tanpa harus membeda-bedakan status. Terlihat dalam kisah yang ia tulis dalam judulnya Kelaluan Orang Kaya.

            Tidak hanya itu, penulis juga menampilkan berbagai kisah-kisah religus di dalam bukunya. Dirinya menciptakan kisahnya dalam berbagai tokoh, kejadian, serta latar belakang yang berbeda-beda. Ia menjelaskan bahwa, dalam kisahnya ia tulis sederhana dan menarik untuk di kupas dalam berbagai sudut pandang.

            “Orang alim yang sombong, lebih berbahaya dari harimau yang lapar di kandang kambing.” (Hal 127)

            Maraknya media sosial atau kebebasan untuk berpendapat menimbulkan berbagai aspek kehidupan. Seperti halnya untuk ajang menampilkan sisi terbaik dari dalam diri. Sama halnya kesombongan atau besar kepala ketika seseorang yang baru saja mendapatkan sebuah reward atau pencapaian. Tatkala, semua hanya sebuah kesombongan yang mana akan merusak hati. Tidak jarang dari mereka berlomba-lomba menampilkan sisi terbaiknya hanya demi sebuah pengakuan semata.

            “Mencari rezeki itulah selingan kita. Sebab intinya adalah sujud syukur...” (Hal 130)

Banyak orang beranggapan bahwa, ibadah masih saja sebagai sebuah selingan. Sedangkan pekerjaan adalah sebuah aktivitas paling utama. Sementara di sisi lain, kita dibiasakan menghabiskan waktu untuk bekerja dan meluangkan sedikit waktu untuk beribadah.

            Penulis menampilkan kisah-kisahnya dalam berbagai sudut pandang yang sering kita alami di kehidupan seperti ini. hadirnya buku ini secara tidak langsung menyadarkan kita arti pentingnya menyikapi berbagai kehidupan dari segala aspek. Mengambil segi positif dan menghiangkan sisi negatifnya. Sangat mengkritik serta menyadarkan kita arti kehidupan. (*)

 

 

 

 

 

 

 

IMG_8603.JPGJudul                           : Kelakuan Orang Kaya

Penulis                         : Puthut EA

Penerbit                       : Mojok

Cetakan                       : Agustus, 2018

Tebal Halaman            : 225 Halaman

ISBN                           : 987-602-1318-71-3