Ketika Saran Justru Menghancurkan

Ketika Saran Justru Menghancurkan
Sumber: Pixabay.com

Dalam kondisi sulit pasti seseorang membutuhkan penyemangat untuk melaluinya. Proses melalaui dan cara mengatasi masa sulit tersebut bisa datang dari beragam cara. Salah satu cara yang sering dijumpai adalah pemberian saran dari orang sekitar kita.

Saran merupakan bentuk komunikasi sebagai wujud simpati orang-orang di sekitar terhadap musibah yang dihadapi. Saya yakin Pembaca pernah mendapat saran saat dirundung musibah. Saran  seperti “yang sabar ya semua ada hikmahnya” atau “bersyukur saja masih banyak yang kurang beruntung dari kamu” pasti sering di dengar Pembaca.

Dalam kondisi tertimpa musibah dan mendapat saran semacam itu mungkin akan menjadi penyemangat bagi sebagian Pembaca. Sebagian? Yup, sebagian karena beberapa penelitian dalam bidang psikologi menunjukkan hal yang sebaliknya. Pemberian saran dalam kondisi tertentu justru memperburuk penerima saran, dan Penulis salah satunya dan sering mengalaminya.

Beberapa bulan lalu, tepatnya pertengahan 2018, penulis pernah mengalami satu dari sekian pengalaman pahit yang berhubungan soal saran. Awal tahun 2019 menjadi pengalaman terburuk penulis saat menjadi salah satu pegawai di perusahaan penerjemah bahasa asing di Surabaya.

Penulis bekerja di perusahaan tersebut sebagai karyawan produksi. Waktu awal masuk perusahaan, Penulis tidak merasa janggal dengan perusahaan tempat penulis bekerja. Bahkan setelah tiga bulan bekerja, Penulis diangkat sebagai analis di perusahaan tersebut.

Memasuki akhir bulan Desember 2018, penulis mulai ragu untuk meneruskan bekerja di perusahaan tersebut. Beberapa kejanggalan yang penulis temui salah satunya banyak karyawan yang sudah resign, sebelum penulis bergabung, berdemo di depan kantor meminta kejelasan soal gaji yang belum dibayar.

Selain itu, jam kerja di perusahaan tersebut dan lemburan yang ditetapkan, bagi penulis, tidak manusiawi.

Pernah suatu ketika penulis bekerja lembur hampir 16 jam, karena ada proyek masuk dan dengan deadline yang mepet. Dan, di penghujung tahun 2018 atau sekitar awal 2019, penulis memutuskan mengundurkan diri dan gaji untuk bulan Desember tidak dibayarkan.

Dalam kondisi sulit dan serba kekurangan, Penulis ingin sekali menumpahkan keluh-kesah yang membuncah. Pilihan pertama yang penulis lakukan adalah mengajak ngopi salah satu teman penulis sembari ngobrol soal musibah yang penulis hadapi.

Singkat cerita, setelah penulis mengungkapkan kondisi sulit yang penulis alami kepada teman penulis, bukan pencerahan yang didapat tapi justru kehancuran. Batin penulis terasa hancur saat teman penulis dengan enteng berkata “yang sabar semua, masih mending kamu sudah pernah kerja. Masih banyak yang nganggur nggak ada pengalaman kerja.”

Penulis bukan bermaksud menjadi hamba Tuhan yang durhaka yang tidak pandai bersyukur, tapi tolonglah saran yang semacam itu justru terdengar menghakimi di telinga Penulis. Apakah keluhan Penulis soal lembur sampai 16 jam itu terlihat sepele? Apakah gaji selama sebulan yang belum dibayar masih bisa dicari sisi positifnya?

Pengalaman pahit menceritakan keluhan serta saran yang justru menjatuhkan ternyata bukan hanya dialami Penulis saja, karena ada banyak kasus serupa. Mungkin, Pembaca ada juga yang pernah mengalami?

Dalam kajian psikologi yang Penulis baca dari beberapa sumber, saran yang justru menjatuhkan terebut merupakan salah satu bentuk Toxic Positivity. Dikutip dari laman Kompas.com, Toxic Positivity adalah ungkapan yang digunakan untuk menjaga perilaku optimisme, harapan dan suasana yang baik, meskipun dalam kondisi negatif atau stress.

Perilaku Toxic Positivity menjadi sangat berbahaya karena kita dipaksa, oleh lingkungan, untuk menutupi emosi diri yang dianggap negatif. Beberapa emosi yang dianggap negatif seperti marah, kecewa dan sedih masih dianggap tabu untuk diungkapkan di tengah masyarakat. Padahal mengekspresikan emosi negatif tersebut perlu agar tidak menumpuk dalam diri.

“Emosi yang ditekan terus bisa jadi penyebab atau pemberat ganggua psikis. Yang paling sering terjadi ya, gangguan kecemasan atau depresi mayor,” ujar dr. Jiemi Ardian, residen psikiatri di RS Marwadi Solo (Tirto, 26 Februari 2019).

Dalam tulisan ini penulis bukan bermaksud mengatakan bahwa memberikan saran itu hal yang buruk, tapi pemberi saran harus melihat kondisi orang yang sedang membutuhkan saran, dan yang paling penting cara penyampaian saran tersebut.

Mengatakan bahwa “Ambil hikmahnya, masih banyak yang kurang beruntung daripada kamu.” Terkesan menyepelekan kondisi sulit yang sedang dialami seseorang. Sederhananya, bagaimana jika posisinya ditukar? Apakah pemberi saran tersebut masih bisa teguh dan mempraktikan apa yang diucapkan?

Jika memberikan saran justru tidak memberikan semangat baru bagi peneriman saran, bagaimana dengan pembaca agar tidak terjebak perilaku Toxic Positivity bagi orang terdekat yang sedang mengalami kesusahan?

Jadilah Pendengar yang Baik

Alternatif yang bisa dilakukan bagi pemberi saran adalah biarkan orang yang sedang curhat mengenai kesulitanya tersebut meluapkan kesedihanya, jadilah pendengar yang baik.

Dikutip dari laman Sehatq.com, ada beberapa cara mudah untuk menjadi pendengar yang baik di antaranya; Pertama, setelah mendengarkan keluh kesahnya, tanyakaan apa penyebab utama kesedihanya; Kedua, pastikan anda fokus mendengarkan apa yang diutarakan; Ketiga, tunjukan gesture tubuh yang menandakan Pembaca turut bersimpati dengan maslah yang dihadapi; Keempat, berpikirlah dahulu sebelum memberikan tanggapan.

Dalam kondisi semacan itu, orang yang sedang mengalami kesusahan butuh ruang untuk didengarkan.

Hal kecil yang bisa dilakukan sebagai orang terdekat ketika saudara atau teman sedang ada masalah adalah menegaskan bahwa kita di sini ada untuk menemani. Terkadang tindakan kecil terasa besar manfaatnya, daripada ucapan besar tapi tidak ada manfaatnya.

 

Sumber

Tirto.com. (2019, 26 Februari) Toxic Positivity: Saat Ucapan Penyemangat Malah Terasa Menyengat. Diakses pada 13 Desember 2020, dari https://tirto.id/toxic-positivity-saat-ucapan-penyemangat-malah-terasa-menyengat-dhLM

Kompas.com. (2020, 24 Desember). "Toxic Positivity", Pikiran Positif yang Berakibat Buruk bagi Mental. Diakses pada 13 Desember 2020, dari https://lifestyle.kompas.com/read/2020/10/24/082611320/toxic-positivity-pikiran-positif-yang-berakibat-buruk-bagi-mental?page=all

Sehatq.com. (2019, 20 Desember). Bagaimana Menjadi Pendengar yang Baik? Diakses pada 14 Desember 2020, dari https://www.sehatq.com/artikel/bagaimana-menjadi-pendengar-yang-baik