Ketika IA Memanggil

Perjalanan Haji tahun 1988 dan pertemuan keluarga

Ketika IA Memanggil

IKala itu 1988. Bulan Juli.  Perjalanan kami tidak langsung ke Tanah Haram, sebelumnya  kami menikmati beberapa negara Benua Biru sebelum menjejakkan kaki ke tujuan akhir.  Kebetulan saat itu kami tidak hanya berlima (Papa,Mama, kedua adik lelakiku dan aku). Ada kawan Papa beserta istri dan anak perempuannya. Kami menikmati rangkaian perjalanan itu. Perjalanan yang diniatkan untuk beribadah memenuhi panggilanNYA.    

Sebelum berangkat dari tanah air, sepanjang ingatanku, Mama mengingatkan bahwa rangkaian perjalanan itu akan berakhir pada ibadah haji. Alhamdulillah orangtuaku dimampukan Allah SWT membawa kami berlima, sekeluarga.  Maka, berniat untuk menjalani ibadah dalam urutan rukun Islam terakhir: ibadah haji (jika mampu).

Menyadari bahwa dari rangkaian perjalanan kami merupakan kali pertama menapaki daratan Eropa dan menikmati beberapa kota di sana kemudian bertolak dari bandara Frankfurt Am Main menuju Bandara Jeddah. Sebelum berangkat di titik embarkasi (pribadi) Frankfurt, Mama mengingatkan kami untuk niat selalu dipasang untuk ibadah Haji itu.  Sungguh, itu membuat aku merasa bahwa aku akan memenuhi panggilanNYA menuju Baitullah, rumahNYA.  Yaa Allah, Allahumma... mohon ampuni segala dosaku.

Ada hal yang patut kuingat dan akan kuingat selalu dalam pengalaman ibadah itu bahwa tahun yang sama salah satu adik perempuan Papa, Tante Can--aku memanggilnya--dan suaminya, Om Amrin, juga melaksanakan ibadah haji, kalau tidak salah, musim haji tahun itu disebut Haji Akbar.  (Catt. Begitu dikabarkan pula di Majalah Tempo  https://majalah.tempo.co/read/agama/26242/memburu-haji-akbar?hidden=login. ) 

Urutan kegiatan di Tanah Dua Masjid Suci itu pun tak kuingat jelas ... kalau tidak salah, setelah Jeddah kami langsung masuk kota Makkah al-Mukarramah, pemandu kami menemani kami melakukan tahapan awal, thawaf selamat datang (thawaf Qudum). Selesainya thawaf, kami mencari sedikit ruang untuk kami sholat sunah, yang sungguh pengalaman yang tidak dapat dilupakan pula, melihat Ka’bah pertama kali, berpegangan tangan harus tak boleh terlepas, berdesakkan dengan orang-orang dari segala penjuru dunia, pengalaman kepala kami menjadi tumpuan orang lewat ketika kami duduk dalam sholat. Sungguh, saat sholat kali itu, selesai salam, wajah tertuju pada Ka’bah dan seketika itu aku melihat Tante Can dan Om Amrin melintas ... dan aku panik berteriak “Mama...Papa... itu Tante Can...Tante Can” antara memanggil kedua orang tuaku dan tidak ingin kehilangan Tante Can, kuteriakkan nama Tante Can berulang-ulang dan Tante Can berhenti dan menengok, buatku itu adalah pengalaman yang sungguh mengharukan... dari begitu banyak manusia, kami bisa bertemu. Saat tiada ponsel dan apapun... Hanya IA yang mempertemukan kami, Allahu Akbar Maha Besar Allah.   Begitu pula ketika suatu malam kami diantar oleh pemandu kami mencari penginapan Om dan Tante saat Mama berulang tahun 21 Juli 1988. Alhamdulillah...berkahNYA mempertemukan kami lagi. Dan bukan itu saja... setelah thawaf Wada’ kami pun dipertemukanNYA kembali. Beribu syukur takkan cukup. Alhamdulillah. Segala puji syukur bagiMu, Yaa Allah. 

Labbaik Allahumma Labbaik.Labaika Laa Syarika Laka Labbaik. Innal Hamda Wan Ni'mata Laka Wal Mulk. Laa Syarika Lak. 

"Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milik-Mu, begitu juga kerajaan adalah Milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu."

Rangkaian ibadah Haji telah kami sempurnakan... Yang aku ingat, pada saat di Arafah, panasnya tak terhingga, rasanya kepala gatal...ada yang bilang tak boleh menggaruk. Namun... apadaya... Ya Allah, ampuni aku.  

Pada saat lontar jumroh, sendal putus. Ah kalau dikenang sungguh tiada kata selain alhamdulillah. Kuingat juga, adikku yang tengah sempat kumat alerginya. Potong rambut setelah semua prosesi... . Ya Allah...semua adalah berkah dariMu. 

Sesungguhnya, bagiku, ada ketakutan tersendiri jika ada orang mengetahui bahwa aku telah melakukan ibadah haji. Anggapan kebanyakan orang yang sudah naik haji adalah orang yang pemahaman agamanya lebih dari yang lain. Sungguh itu menjadi momok sebenarnya. Namun kini aku memahami itu adalah cambuk diri agar dapat berbuat lebih baik di hadapan makhluk ciptaan Allah dan Allah sendiri.  Yaa Allah bimbinglah aku... 

Yaa Allah Yaa Rahman... berilah aku kemampuan untuk senantiasa dapat introspeksi diri dan mengubah diriku senantiasa ke arah kebaikan dalam kehidupan fana ini. Lindungi aku, Ya Allah... agar banyak bekalku nanti dalam alam penantian menuju kehidupan keabadian. Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim, Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Agung.

 Ciniru, 30 Juli 2020: Mengenang Haji, 32 tahun lalu.