Ketika Awan dan Kabut Gantian Setor Muka

Contohnya di Gunung Gajah, yang namanya awan dan kabut ternyata ...

Ketika Awan dan Kabut Gantian Setor Muka
Menanti momen untuk terbang (foto oleh Rase)

Tahukah kamu bahwa awan dan kabut itu seperti sodara kembar?

Pasti sebagian besar orang inget sewaktu duduk di sekolah dasar belajar bahwa air menguap menjadi awan. Bukan menguap gara-gara ngantuk, lho, ya? Menguap kena terik matahari.

Nah, para guru sering lupa memperkenalkan kabut. Padahal si kabut ini ternyata 11-12 sama awan.

Ketika air kena panas matahari dan langsung menguap dan ngacir ke ketinggian, namanya awan. Jika dia tidak mau jauh-jauh dari daratan, ga mau ngacir jauh ke langit, itulah si kabut. Jadi sebenernya mirip, kan? Deket daratan itu bisa termasuk di bukit. Pokoknya dekat sama tanah, bukan tinggi di langit.

Pernah nonton tokoh-tokoh film kartun bermain-main di awan? Awan terlihat bagai bantal? Ingat, itu imajinasi si penulis skrip, ya. Jika kamu ada di puncak gunung, jangan maen terjun bebas ke atas awan. Bisa terjun beneran jatuh dari ketinggian.

Cuman, tidak dimungkiri bahwa pemandangan awan putih tebal itu menggoda, ya? Seperti bantal atau kasur empuk. Rasanya pengen loncat-loncat kayak di trampolin, atau spring bedlah minimal.

Nah, ada lho yang berani loncat di ketinggian. Salah satunya adalah pilot gantole. Justru di ketinggian dia akan memegang dan mengendalikan layangannya. Kadang dia harus menembus awan. Melayang-layang di angkasa seakan anggota keluarga aves.

Tetapi, para pilot gantole ternyata juga ga sembarangan maen lompat saja di ketinggian, lho. Selain layangan dan perlengkapan dalam kondisi prima, ia juga harus memantau cuaca, terutama arah dan kecepatan angin. Tentu saja, ia dibantu oleh operator, yang selalu sigap memberikan update info penting baginya.

Nah, yang perlu diacungin jempol dari para pilot gantole ini adalah kesabarannya. Cuaca yang sering berubah menjadi latihan kesabaran untuk menunggu saat tepat untuk take off. Meskipun sudah siap di bibir bukit atau gunung alias landasan take off, si pilot bisa jadi masih harus menunggu momen.

Selain arah dan kecepatan angin, keberadaan awan dan kabut juga harus diantisipasi.

Contohnya di Gunung Gajah, yang namanya awan dan kabut ternyata bergantian setor muka. Sebentar kabut, sebentar ganti awan, eh ... sebentar kemudian cerah. Ujian bener buat para pilot gantole.

Kabut memeluk gantole yang sudah antri rapi. (Foto oleh Rase)

 

"Angin dari arah .... Kecepatan sekian ...." begitu info yang selalu diupdate via radio komunikasi. Di landasan, instruktur memastikan para pilot take off dengan aman.

Memang yang namanya kabut dan awan berkarib dengan Gunung Gajah. Keberadaan keduanya melengkapi keindahan panorama di sana. Meskipun para pilot harus sabar menunggu momen tepat untuk berlari dan melompat dari landasan; sejuk dan segarnya Gunung Gajah setia menemani penantian.

Kabut menjadikan suasana syahdu. (Foto oleh Wage)

 

Tentu saja, pemandangan itu juga boleh banget dinikmati oleh pengunjung lain. Yang datang untuk trekking, bersepeda, camping, atau sekadar melepas kejenuhan kungkungan tembok rumah. Berada di alam bebas memang sebuah kenikmatan. Apalagi kabut dan awan menemani bergantian. (rase)