Ketidakpastian

Satu satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. Ketidakpastiaan sudah menjadi hukum alam yang terjadi dalam hal apapun. Masalahnya, naluri kita itu cenderung lebih suka buat melawan hukum. Termasuk hukum alam.

Ketidakpastian

Satu satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian.

Ketidakpastiaan sudah menjadi hukum alam yang terjadi dalam hal apapun. Masalahnya, naluri kita itu cenderung lebih suka buat melawan hukum. Termasuk hukum alam.

Buktinya walaupun ketidakpastiaan sudah menjadi hukum alam, kita cenderung lebih suka sesuatu yang pasti pasti.

Kita selalu pengen kepastian atas apa yang sudah kita miliki, bahkan kita pengen kepastian atas apa yang AKAN kita miliki.

Nggak percaya? Buktinya kalau ada orang yang mengatakan dia akan memberikan sesuatu yang bagus buat kita, naluri kita akan langsung bilang “Bener? Janji ya!”

Walaupun Janji juga sebenernya nggak ngasih kita kepastian apa apa sih. Berapa banyak Janji yang tidak ditepati dan komitmen yang dikhianati?

Termasuk soal penghasilan juga kita akan cenderung lebih suka yang pasti pasti. Sebagian besar dari kita akan takut ketika penghasilan kita nggak pasti. Padahal pengeluaran kita nggak akan pernah bisa pasti. Jadi kenapa harus takut?

Gue ngga lagi ngomongin UU Cipta Kerja. Gue bukan ahli hukum dan gue belum pelajari UU ini secara mendetail dan seksama. Jadi gue gak akan mengomentari UU ini sedikitpun. Tapi tulisan gue ini berangkat dari kegelisahan gue setelah mengamati apa yang terjadi pasca pandemi ini.

Banyak temen temen gue yang udah dapet pekerjaan yang pasti harus kehilangan pekerjaannya. Banyak kontrak proyek yang udah pasti harus dibatalkan. Banyak bisnis yang udah dapet pasar yang pasti kehilangan pasarnya. At the end ternyata ngga ada yang pasti juga, kan?

Coba dipikirin lagi betapa banyak pengorbanan yang harus dikeluarkan karena kita cenderung berusaha mempertahankan kepastian?

Berapa banyak orang yang harus berada dalam toxic relationship karena mengharapkan kepastian? Toxic relationship dengan kantornya, dengan rekan kerjanya, dengan pasangannya.

Berapa banyak Opportunity Cost yang harus dibayar ketika kita menyianyiakan kesempatan yang lebih besar karena kita berusaha mempertahankan sesuatu yang lain atas nama kepastian?

Mungkin ada baiknya kalau kita mulai membiasakan diri dengan ketidakpastiaan ini. Jangan terlalu terikat dengan sebuah kepastian yang sebenaranya juga kepastian itu fana.

Gue liat liat juga orang-orang yang berhasil selamat lebih cepat dari pandemi ini juga orang-orang yang bisa lebih cepat menerima keadaan dan berusaha beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Bukan yang paling cerdas, atau punya tabungan paling banyak.

Banyak orang yang akhirnya melakukan hal hal baru. Jualan Pizza dan chinese Food yang tadinya di restoran berAC jadi di pinggir jalan. Ibu-ibu yang tadinya masak cuma buat suami dan anaknya, jadi masak porsi besar untuk dijual. Orang produksi jadi belajar jualan. Orang sales jadi belajar produksi, dll.

Ingat, dinosaurus punah bukan karena dia lemah. Karena yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang bisa beradaptasi.

Tentunya adaptasi juga bukan barang murah. Banyak harga yang harus kita bayar untuk beradaptasi. Kita harus bayar waktu dan pikiran buat belajar hal baru, kita harus melakukan effort lebih untuk hal baru, dll. Bahkan gak sedikit orang yang mengorbankan waktunya buat keluarga demi hal baru ini.

Mahal banget kan biayanya? Tapi kan emang kalau kata Bob Marley “Everyday we pay the price with a little sacrifice”.

Nah, orang orang yang mau membayar harga untuk beradaptasi ini biasanya adalah orang-orang yang sudah bisa menerima keadaan.

Makannya tadi gue bilang orang-orang yang lebih cepat selamat dari pandemi ini ya orang-orang yang bisa menerima keadaan. Menerima keadaan kalau kepastian-kepastian yang tadinya dia punya itu ya sebenernya nggak pasti pasti amat.