KETENTUAN YANG TAK PERNAH SALAH, SEBUAH MAKNA IDUL ADHA

KETENTUAN YANG TAK PERNAH SALAH, SEBUAH MAKNA IDUL ADHA
Photo: Pixabay

Idul Adha kali ini terasa sangat berbeda. Bukan karena kita tak lagi bisa sujud bersama-sama sejak kepergianmu, namun karena bayang-bayangmu masih sangat nyata. Aku tak mau larut di dalamnya tapi aku belum mampu untuk mengusirnya seketika. Tak akan sirna tampaknya sampai nanti kita berjumpa. Pertemuanku dengan Ibu Guru si Bungsu satu hari sebelum Idul Adha menyiratkan itu semua.

“Maaf Bu, Bapak meninggalnya kenapa? Bukan karena Covid, kan?” Tanya Bu Guru langsung namun sangat berhati-hati saat aku dan si Bungsu sudah berkenalan dan bertatap muka untuk pertama kalinya kemarin.

“Bukan, Bu. Sudah hampir setahun ini Bapak sakit kanker ginjal dan sudah menyebar sampai ke otaknya, Bu” jelasku tanpa basa-basi dan membuat Bu Guru terdiam sesaat.

“Ooo, maaf sekali ya Bu, saya memberanikan diri bertanya karena kita sama. Saya juga sendiri sekarang Bu.” Sekarang gantian aku yang jadi terkesima.

Tanpa canggung Bu Guru menjelaskan belahan jiwanya mengalami kecelakaan yang merenggut jiwanya. Dua putra putri yang dimilikinya masih sangat kecil ketika ditinggalkan tujuh tahun lalu, tanpa aba-aba. Baru satu setengah tahun usia si Bungsu saat itu. Tenggorokanku begitu tercekat, mulutku tak dapat berkata bagai tersumbat. Diceritakannya bagaimana perjuangannya sebagai orang tua tunggal dengan putra-putrinya yang menjadikan hari-harinya penuh semangat.

“Tak usah khawatir ya Bu, semua pasti ada jalannya.” Bu Guru menutup pertemuan kami yang memang tak bisa panjang karena batasan ruang dan waktu yang berlaku.

“In sya Allah. Tetap semangat ya Bu.” Aku berpamitan sambil menyemangati. Jujur, itu perkataan yang ditujukan pada diriku sendiri.

***

Aku jadi teringat ketika hari pertama si Bungsu memulai pembelajaran jarak jauh, dia sedikit mengalami keterkejutan yang membuat hatinya ciut untuk berhadapan dengan para guru di sekolah barunya.

“Gurunya galak, Ma” katanya pada hari itu usai pertemuan melalui zoom dan diskusi melalui whatsapp bersama guru dan teman-teman satu kelasnya.

“O gitu, Nduk? Ada kejadian apa?” Aku berusaha keras untuk menanggapi dengan tenang walau suaraku tak dapat menyembunyikan keterkejutanku.

Lalu diceritakannya bagaimana Gurunya meminta para siswa untuk ‘diam’ karena dia ingin bicara. Terbayang olehku bagaimana teman-teman si Bungsu saling bersahutan untuk bicara sementara Bu Guru harus menyampaikan sesuatu. Ini terjadi pada saat diskusi di grup whatsapp. Aku jadi geli sendiri. Pesan tertulis bisa membawa implikasi yang berbeda pada pembacanya.

“O, maksud Bu Guru minta perhatian supaya apa yang mau disampaikan diperhatikan semua temen-temen Genduk.” Aku berusaha menjelaskan pada si Bungsu agar dia tak terlalu khawatir dengan ketegasan gurunya.

Si Bungsu masih harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Lumayan tantangannya, dari dunia kanak-kanak menuju pra-remaja, dari lingkungan sekolah swasta terjun ke sekolah negeri, dari kebanggaan Bapak hingga ketiadaan Bapak. Semoga menjadi sebuah proses pembelajaran hidup yang bermakna.

 

***

Idul Adha, waktu yang tepat untuk memaknai suatu pengorbanan, cinta, ketulusan dan keikhlasan. Bagiku bukan sebuah kebetulan kami dipertemukan dengan seorang Guru Wali Kelas yang mendapat ujian serupa, kepergian seorang kepala keluarga.

Ketegaran yang diperlihatkannya saat berbicara, menguatkan tekadku untuk bersikap serupa. Kejujurannya untuk mengakui kami ‘sama’, menunjukkan padaku bahwa berbagi duka tak ada salahnya. Kesetiaannya selama tujuh tahun menjadi Ibu tunggal, membuktikan padaku cinta sejati itu bukan bualan belaka. Keramahan dan kasih sayangnya yang ditunjukkannya pada Si Bungsu, melegakanku untuk menitipkan si Bungsu di sekolahnya.

Yang pasti, Sang Maha Penentu tidak pernah salah dalam menentukan. Semua mozaik kehidupan akan terhubung dengan sempurna pada waktunya. Segala bentuk pengorbanan, cinta dan kasih sayang, ketulusan dan keikhlasan akan kembali menjadi milik kita yang memudahkan dan mengindahkan perjalanan kita hingga menuju titik akhir keabadian.

 

Dursa, 12 Dzulhijjah 1441 H