KETAKUTAN, KONSPIRASI, DAN NEW NORMAL

Apa hubungan antara ketakuran, konspirasi dan new normal? Temukan jawabannya di dalam artikel ini.

KETAKUTAN, KONSPIRASI, DAN NEW NORMAL

Saat ini kita sedang dihadapi sebuah rasa ketakutan. Ketakutan yang melanda seluruh dunia, bukan hanya Indonesia. Ketakutan yang memunculkan permasalahan-permasalahan lain dalam hidup manusia, menghancurkan ekonomi masyarakat, menghancurkan tatanan sosial, sehingga masyarakat menjadi merasa serba kekurangan, kekurangan harta, dan kekurangan jiwa.

Ini semua nyata dan apa adanya.

3 bulan lebih kita dihadapi ketakutan ini. Rumah ibadah, sekolah, perkantoran, pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, fasilitas umum, semua ditutup dan dibatasi sehingga memunculkan rasa bosan pada diri kita.

Keinginan bisa kembali beribadah bersama, bisa kembali belajar di sekolah, bisa kembali bekerja, bisa kembali berkumpul dengan teman-teman tanpa adanya batasan seperti sebelumnya selalu muncul di benak kita. Untuk mereka yang sadar dengan hal ini, mereka bersabar dan memilih untuk berada di rumah dari pada nantinya di rumah sakit, mereka memilih untuk tetap berkumpul dengan keluarga di rumah saja daripada akhirnya di rumah duka, melakukan segala hal dari rumah. Semua dijalankan dengan sabar hingga akhirnya kita akan menghadapi new normal, era di mana kita akan punya kebiasaan lama tapi baru untuk menghadapi ketakutan ini, ketakutan akan tertular virus COVID-19.

Kebiasaan untuk menjaga kebersihan merupakan salah satu elemen kunci di dalam new normal yang sebenarnya sudah ada sejak dulu.

Sejak kecil kita selalu diajarkan untuk menjaga kebersihan, dari bangun tidur sampai akan kembali tidur. Kita mandi sebelum dan sesudah beraktifitas seharian, cuci tangan sebelum makan dan ketika tangan dirasa kotor atau berkeringat, serta mencuci kaki sebelum tidur. Itu semua hal yang dianjurkan oleh orang tua kita sedari dulu, hingga sekarang hal ini akan jadi normal baru buat kita. Ditambah dengan jaga jarak dan menggunakan masker.

Tapi sebagian dari kita ada yang tidak peduli dengan hal ini. Mereka lebih peduli dengan bagaimana cara menghilangkan rasa bosan setelah selama 3 bulan lebih berada di rumah. Keinginan untuk refreshing, bukan untuk mencari nafkah menjadi alasan mereka untuk keluar rumah dengan mengabaikan protokol kesehatan yang ada. Semua mereka lakukan jauh sebelum penerapan new normal ini berlaku.

Mereka pergi ke sana ke mari tanpa mematuhi peraturan yang ada, tanpa menggunakan masker dan tanpa adanya jaga jarak. Mereka lebih memilih untuk menyerah pada rasa bosan, memilih untuk memuaskan rasa keinginan mereka yang selama ini terkurung di hati dan pikiran mereka.

Sebagian dari mereka lebih percaya bahwa virus ini adalah permainan elite global yang mau menguasai dunia, permainan para mafia-mafia dunia yang mau mempermainkan manusia, permainan segelintir orang yang mau menaklukan dunia.

Bagi mereka yang percaya bahwa ini adalah permaian elite global, mafia-mafia dunia ataupun segelintir orang yang mau menaklukan dunia, sehingga mereka tidak mau mematuhi protokol kesehatan yang ada atau mengabaikannya memanglah hak mereka, tapi setidaknya mereka harus sadar akan beberapa hal bahwa, jika ini terbukti permainan elite global apakah virus ini akan langsung menghilang? Apakah mereka yang terinfeksi akan langsung sembuh? Dan apakah mereka tidak bisa terinfeksi virus ini?

Maka mari kita lihat lagi, nyatanya ada sekitar 20 ribu orang lebih yang terinfeksi di Indonesia dan semua masih bisa terus bertambah, ada ratusan bahkan ribuan tenaga medis yang tidak pulang dan berkumpul dengan keluarganya di rumah selama berbulan-bulan, ada seribu lebih korban jiwa dan setiap harinya bertambah, itulah kenyataannya.

Jadi jangan pernah meremehkan virus ini, patuhi peraturan dan himbauan pemerintah saat ini untuk selalu menjaga jarak, selalu mencuci tangan, dan selalu mengunakan masker.

Pemerintah saat ini memilih untuk menerapkan new normal, memilih untuk berdamai dengan corona, memilih untuk bisa hidup berdampingan dengan virus ini sampai nantinya ditemukan obatnya.

Sebagian dari kita mungkin kesal dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah, menganggap bahwa mereka lamban dalam bertindak, salah dalam melangkah, tapi apa dengan meluapkan rasa kesal ini semua akan berubah? Dengan meluapkan rasa kesal, mereka yang terinfeksi langsung sembuh? Lalu apakah yang menjadi koban jiwa akan kembali hidup?

Hadapi kenyataannya bahwa ada nyawa yang harus diselamatkan dan ada ekonomi yang harus dipertahankan. Semua berjalan beriringan. Jika mereka memilih salah satu apakah mereka sebagai pemimpin sanggup? Atau apakah kita sebagai rakyat akan sanggup?

Hal yang bisa kita lakukan saat ini adalah menjalankan kehidupan new normal sesuai dengan protokol kesehatan karena faktanya kita bisa menjadi orang tanpa gejala, kita bisa menjadi pembawa virus tersebut untuk orang-orang disekitar kita.

Jangan menjadi orang egois yang tidak mau mengikuti anjuran protokol kesehatan karena percaya bahwa pandemik ini adalah sebuah konspirasi, mengabaikan protokol kesehatan karena kesal dengan pemerintahan sekarang.

Mari kita lakukan yang bisa kita lakukan, sadar bahwa virus ini ada disekitar kita, sadar bahwa kita harus selalu melaksanakan protokol kesehatan yang sudah dianjurkan dalam menjaga kebersihan, menjaga jarak dan menggunakan masker. Sadar bahwa kita harus selalu melindungi dan mengingatkan kepada orang-orang disekitar kita. Sadar bahwa hanya ini yang bisa kita lakukan sekarang.

Jangan kita remehkan pandemik ini, mari kita saling mengingatkan dan menjaga diri.