KESEMPATAN VS KEPENTINGAN

Kesempatan tidak datang dua kali, itu yang sering Kita dengar. Memanfaatkan momentum sebaik-baiknya juga potensi menimbulkan resiko terutama kepentingan. Apa yang dilakukan apabila kesempatan bertolak belakang dengan kepentingan

KESEMPATAN VS KEPENTINGAN

“Saya merasa belum puas dengan pekerjaan yang sekarang” Demikian Jawaban mba Reski saat ditanya tujuannya melamar ke Perusahaan Kami.

“Belum puas?” tanya pewawancara kembali.

“Ya. Saya butuh tantangan lebih untuk mencapai impian Saya” Jawab Reski yakin.

“Hmmmm, apa impianmu?” lanjut pewawancara.

“Saya ingin menjadi seorang Trusted Advisor!” Kata Reski sangat mantap.

“Trusted Advisor? Apa itu?” kejar pewawancara, seolah tidak mengerti.

“Saya ingin membuat kehidupan orang lain lebih baik” Jawab Reski dengan meyakinkan.

“Sangat mulia. Sebelumnya pernah kerja dimana?” lanjut pewawancara.

“Saya punya bisnis kecil-kecilan” katanya mengejutkan.

“Ooooh Kamu pebisnis. Terus apa bisa bagi waktu?”

“Apa tidak ada konflik kepentingan?”

“Apa Kamu bisa Komit dengan tugas?”

 Beruntun pertanyaan dari pewawancara terhadap pernyataan terakhir dari Reski.

 

Begitulah perjumpaanku dengan Reski. Sebagai Observer Aku jatuh cinta dengan Smart profilenya dan berharap Reski bisa bergabung dengan Tim kami. Aku sangat gembira ketika para pewawancara memutuskan untuk menerimanya sebagai seorang Prosessional Account Manager, meskipun ada catatan terutama dengan integritas dan komitmen untuk perusahaan.

 

“Selamat datang Reski, semoga enjoy dan siap menjadi Bintang” sambutku ketika menerima kedatangannya pertama kali.

“Terima kasih sudah diijinkan bergabung dengan Tim Bapak” jawabnya santun.

 

Hari itu Aku membawa Reski keliling Kantor untuk memperkenalkannya dengan seluruh unit yang akan menjadi tim pendukung Mba Reski ke depan. Terlihat memang Reski sudah matang dalam berkomunikasi dan punya kemampuan melakukan Intimacy dengan baik. Kami kembali ke ruanganku untuk mendapat penjelasan detail berikutnya.

 

“Saya masih penasaran dengan impian Anda. Apa yang bisa Kami bantu untuk mencapai impian tersebut?” Tanyaku penasaran.

 “Saya senangnya kerja dengan orang banyak. Perusahaan ini kan perusahaan besar Pak. Saya yakin dengan bekerja di Perusahaan ini akan bisa membantu orang banyak” jawabnya secara implisit.

 

Hari pertama Mba Reski bekerja lebih banyak berdiskusi tentang program yang akan Dia jalani dan diskusi tentang Budaya perusahaan.

 

“Untuk menjadi seorang Trusted Advisor maka Kemampuan membangun relasi menjadi syarat mutlak. Gimana menurut Anda” Kataku memulai.

“Setuju Pak. Karena kalo Kita sudah punya relasi, maka ada Chemistery, sehingga pemahaman akan kepentingan satu sama lain bisa ditemu kenali secara baik” Reski memberikan pandangannya.

“Nah! Ada beberapa target yang harus Anda capai dalam 3 bulan ke depan. Anda harus bisa memaintain relasi dengan beberapa pelanggan dan mendapatkan beberapa pelanggan baru. Kira-kira Apa yang akan Anda lakukan” Tanyaku membuka pembicaraan tentang program.

“Saya akan mapping Profile pelanggan yang ada maupun calon pelanggan” jawabnya lugas.

“Dari pengalaman Anda berbisnis. Kira-kira apa hubungan antara relasi dengan penjualan?” Tanyaku lebih serius.

“Kalo menurut pengalaman Saya, relasi yang Valuablelah menciptakan transaksi. Bukan transaksi yang menciptakan relasi” jelasnya secara meyakinkan.

“Saya punya klien Pak Haji Sobar, Beliau memiliki beberapa bisnis antara lain: Hotel, Restoran, Sekolah Umum, Madrasah dan beberapa bisnis property lainnya. Awalnya Saya hanya mensupply kebutuhan alat tulis dan peralatan sekolah di madrasahnya” Reski memulai bercerita pengalamannya berbisnis.

“Ada perkembangan setelah itu?” Aku menimpali keterangannya.

“Saya coba mencari tahu obsesi Pak Haji dan berusaha untuk dekat dengan bu Haji dan keluarganya. Aku dapat info Pak Haji itu punya penyakit Darah tinggi dan Jantung dimana setiap bulannya harus melakukan pemeriksaan di Rumah sakit. Saat Saya ngobrol dengan bu Haji Sobar, ternyata Beliau sangat khawatir dengan penyakit Pak haji. Selain itu Pak haji memiliki kebiasaan makan yang kurang sehat, senang makanan berlemak dan kurang menyukai sayuran”. Sambungnya kemudian.

“Terus Apa yang Anda lakukan?” tanyaku ga sabaran.

“Saya mendekati beberapa Dokter dan berusaha mendapatkan informasi tentang proses yang tepat untuk meyakinkan Pak haji tentang manfaat hidup sehat. Saya bekerja sama dengan bu haji dan Putra/putrinya untuk bisa mempengaruhi Pak Haji” Jelasnya lagi.

“Hasilnya gimana?” lanjutku bertanya lagi.

“Karena Kita komunikasikan bareng dengan keluarganya, akhirnya Pak haji mau mengikuti gaya hidup sehat. Ia mulai rajin berolahraga, mengkonsumsi makanan sehat dan terlihat lebih sehat. Hal ini membuat Saya dan keluarganya sangat dekat. Ia menganggap Saya sebagai Putrinya dan membuat komunikasi menjadi sangat intens. Kedekatan Saya dengan keluarga Pak haji berdampak kepada peningkatan proyek yang Aku dapatkan. Saat ini Saya masih menangani beberapa kebutuhan Hotel dan Madrasah. Pak haji dan Bu Haji hanya percaya kepada Saya. Kalaupun pake orang lain, tetap harus lewat Saya” Kata Mba Reski dan membuat Saya tertegun.

 

“Wow, Aku dapat Mutiara niiiiiiih” setengah berteriak kepada mas Amru. Saya menyadari sebagai orang legal, tidak serta merta Ia setuju dengan pendapatku. Bukan tidak punya alasan, karena Ia pernah mendapatkan seorang Talent yang diam-diam menusuknya dari belakang. Oleh karena itu wajar kalau Ia pesimis dengan informasi yang baru kusampaikan.

 

“Elo Ga ’khawatir dengan Professional yang punya bisnis lain di luar sana?” Mas Amru mengingatkan Aku.

“Hmmmm, maksud Elo gimana Boss?” Aku sedikit bingung dengan pertanyaannya.

“Bukan Parno siiiiiih. Tapi ini jaman digital. Coba deh Elo cari tahu dulu siapa Dia sebenarnya!” Mas Amru mengingatkanku.

“Gua udah searching sih, baik-baik aja” jawabku memberi alasan.

“Profil di sosmed aja belon cukuuuuup Entong!. Kita hidup dijaman data berlimpah. Banyak orang yang mampu membuat profil di sosmednya menakjubkan. Karena merasa sudah cukup, Kita enggan untuk menelusuri lebih jauh. Saat orang itu diperlukan, eeeeeh malah kabur sekalian bawa data yang bisa dijual. Jangan sampe kejadian Gua berulang di Elo!!” Kata mas Amru dengan kalimat yang sangat menohok.

“Yaaa, Elo jangan Suudzon napa!” kataku mengingatkan.

“Justru karena Elo terlalu positif jadi Bablas!! Apalagi Si Eneng itu punya bisnis yang mirip dengan bisnis Kita. Apa ga’mungkin terjadi konflik kepentingan. Setahu Gua yaaa, salah satu karakter seorang Trusted Advisor itu bisa memilah antara kepentingan personal dan professional. Apa Elo yakin Dia bisa!!” Mas Amru semakin tajam dan mulai mendebat.

“Elo bener juga” jawabku pelan.

“Nah Analisa Gue bener kan!” sambar mas Amru seolah menang.

“Bukan itu maksud Gue” balasku untuk menenangkan suasana.

“Terus apa dong” cecar mas Amru.

“Gue mo kasih Dia kesempatan, sambil dimanage secara baik dan benar” jawabku tajam.

“Hari gini ngomongin memanage?” sambar Mas Amru tajam.

“Elo tahu ga’ obsesinya Reski apa?” tanyaku balik.

“Yaaaa. Obsesi tinggal obsesi Bro. Anak buah Gua yang dulu juga obsesi setinggi langit. Begitu Gue percaya apa jadinya!” Kata Mas Amru sambil beranjak dari tempat duduknya dan bersiap-siap keluar.

“Gue pengen bantu Dia menggapai obsesinya” jawabku mengakhiri debat Kami hari itu.

“Hmmmmmmm, Good Luck deeeeh!” kata mas Amru sambil melongos pergi

 

Memang masih terjadi perdebatan tentang profesi ganda dalam dunia kerja. Ada yang berfikir seperti mas Amru dimana loyalitas dan integritas ditunjukkan oleh kehadiran seseorang dalam setiap aktifitas perusahaan.

 

Tapi Kali ini Aku kok pengen beda yaaa.

Obsesiku justru memiliki Tim dengan banyak profesi di luar sana. Aku haruskan Mereka membangun komunitasnya sebanyak-banyaknya.

 

Aku ingin mendorong Mereka untuk tumbuh dan berkembang dengan memiliki jaringan yang luas. Kebiasaan Mereka berinteraksi dengan Networknya akan meningkatkan keterampilan dan Kemampuan dalam menghadapi tantangan bisnis. Yang pasti Mereka akan terbiasa berkolaborasi, disiplin, spartan dan punya pengalaman dalam memecahkan masalah. Akhirnya Mereka akan bisa memilah dengan baik antara kepentingan personal dengan professional.

 

Nah kalau sudah punya Tim yang Super seperti itu, So What?

Kembali ke Laptop!