Handuk Basah Bersaksi

Handuk Basah Bersaksi
Image by pixabay.com

Kali pertama aku mengumpat, dengan intonasi 8 oktaf aku sampaikan bahwa aku tak pantas untuknya. Dengan gemetar gigi dan terpaksa aku layangkan satu tamparan bahwa aku sangat benci teramat benci dengan sesosok lelaki yang ada di hadapanku.

Aku tahu saat ini bukan waktu yang tepat untuk dia membela diri, sekian banyak Bahasa yang dia sampaikan tak ada satupun yang dapat membuatku tenang.

 

“Kamu dengar baik-baik ya, ini adalah kali terakhir aku memintamu hadir, ini adalah kali terakhir kau ada untuk aku dan ini adalah kali terakhir kau terpaksa datang untukku.”

 

“Aku tidak terpaksa, aku memang mau datang. Kenapa kamu harus terus biarkan emosimu meletup?”

 

Kubalikkan badan, aku tak sanggup untuk melihat matanya. Betapa aku sangat mencintainya dan betapa aku sangat menginginkan dia selalu ada untukku.

Dan itu sangat tidak mungkin.

 

“Pergi kamu, aku benci.”
“Berulang kali kamu katakan, berulang kali pula aku tahu bahwa kamu tak pernah mau aku pergi’”

 

Plak…aku tambahkan kembali. Setidaknya agar seimbang.

“Apa ini tidak cukup?”. Nanar aku tatap wajahnya, rona marah tak sanggup aku sembunyikan.

“Sini…!”

 

Ryan kecup keningku, lama.

“Ada doa untukmu. Aku mau kamu baik-baik saja”

 

Dia tarik tanganku, karena kaget maka aku lepaskan dengan paksa. Rupanya gerak reflex yang aku buat efeknya sangatlah tidak bagus.

 

“Kamu maunya apa?, sakit tahu ga?”

Ryan dekap dengan kuat,aku mau kamu tahu bahwa aku peduli denganmu.

 

#

 

Kubiarkan Nada meninggalkanku. Dengan dada yang belum tenang dan mulut komat kamit kubiarkan dia pesan Ojek tanpa biarkan aku bertanya mau kemana dia setelah ini.

 

Seharusnya kularang dia pergi. Aku tahan dan kudekap kembali. Entahlah, mungkin terlalu cepat gerakannya atau aku yang tidak becus menjadi laki-laki. Yang pasti aku kehilangan Nada hanya dalam hitungan detik.

 

Setelah ini aku yakin, Nada akan block nomorku, lalu uninstall Telegram dan Whatsappnya.

Kalau aku tanya alasannya, dia akan jungkir balikkan jawabannya.

“Kenapa kamu harus heran?, bukannya kamu yang ajarkan aku untuk blocked semua?.

Aku ga ngerti sama kamu, waktu itu kamu bilang kalau aku block WA dan IG maka artinya aku sudah menjerumuskanmu ke dalam lobang yang tidak dikehendaki. Sekarang kamu yang block aku dan aku ga boleh balas?. Dasar lelaki atau dasar cemen.”

 

Panjangnya Nada kalau aku biarkan marahnya meluap.

Tapi, apa iya aku yang sampaikan itu?. Rasanya ingatan Nada memang sangat bagus. Mungkin melalui Nada aku harus ingat segala yang aku ucapkan agar tidak serampangan.

 

Bingung harus mulai darimana, bingung juga harus bagaimana sampaikan ke Nada tapi aku paham betul aku memang teledor. Dari ketelodaran itu emosi Nada selalu memuncak, apalagi bila ada sangkut paut tentang apapun yang Nada tidak kehendaki.

 

Semenjak itu, hubunganku dengan Nada sedikit tidak baik, banyak janji yang aku sampaikan tak bisa aku tepati hingga saat Nada menagihnya aku hanya bisa jawab, ”aku tak pernah sampaikan itu”.

Maka dengan lantang Nada menghardikku, aku selalu ingat yang kamu sampaikan, jangan sekali-kali kamu mendebatku.

 

Ya, ya hapal aku dengan jawaban Nada. Aku berkilah dengan jawaban “maaf, sepertinya aku tak bisa penuhi itu, tidak mungkin”.

 

Terbayang dong, bagaimana respon Nada bila aku jawab seperti itu.

“Dasar lelaki kamu ya, peka sedikit bisa ga sih”.

“Inilah aku’”

“Pembelaanmu ga ada yang lain?. Paham ga jawabanmu bikin aku makin benci sama kamu.”

“Kalau memang kamu benci aku, silakan tinggalkan aku.”
“Oh jadi maumu begitu. Bilang aja langsung kamu sudah tidak mau dekat aku lagi. Bilang saja kalau kamu memang ga punya keberanian, bilang saja kalau memang aku ga punya arti buat kamu.”

 

Hufffttt, Tuhan mesti bagaimana aku timpali Nada.

Kamu itu menyebalkan Nada, tapi kamu buatku rindu dan aku tak bisa berhenti memikirkanmu.

 

#

 

Dasar laki-laki dimana – mana sama brengseknya. Lama-lama aku pacarin cewek juga.

 

“Dih, apaan sih Nada. Sadar woy sadar. Cemen amat lu jadi Mahluk Tuhan, jangan sampai Tuhan nyesel udah bikin kamu hadir di dunia ya’”

 

Nada diam, manyun. Kira-kira 10cm Panjang bibir Nada. Wohoooo hak sepatuku kalah panjangnya.

Nada ini perempuan tangguh, dia selalu klaim bahwa dia adalah Wonder Woman. Dan aku sangat setuju.

Sayangnya perkenalan Nada dengan Ryan sedikit membuat Nada menjadi lembek. Aku tak berhak untuk tidak suka sama Ryan, tapi semakin Nada manyun semakin banyak pertanyaan yang ingin aku sampaikan sama Ryan.

 

Bersahabat dan satu kamar kost dengan Nada, aku paham betul karakter Nada. Perempuan yang tidak pernah mengeluh tiba-tiba tak punya semangat hidup kalau sudah beradu mulut dengan Ryan. Ryan ini laki-laki macam apa? Aku tak paham.

 

Kutinggalkan Nada otak atik laptopnya, Cuma gerah aja aku lihatnya. Sebenarnya Nada ini tipe perempuan macam apa ya? Bisa jadi banyak hal yang Nada sembunyikan dariku.

 

Ah, Okto. Ya Okto adalah teman dekat Nada yang sudah belasan tahun temani Nada patah hati.

Okto adalah tempat Nada membuang kesal. Ko bisa ya Okto sesabar itu dengerin keselnya Nada.

Kata Okto, Nada itu Cuma mau didengarkan, dia ga pernah marah kalau ga kepepet. Dia juga ga perlu orang lain dengarkan. Dia hanya ga mau kaya orang gila, marah, emosi tapi ga ada lawan. Ya udahlah aku aja yang jadi lawan.

 

“Okto, lo dimana?”

“Hei, Mel Masih di kantor nih, kenapa?. Roman-romannya ada yang ga beres dengan Nada.” Okto menebak arah pembicaraanku malam ini.

“Yah, gitu deh.”

“Kayanya gue butuh ketemu lu deh. Kalau by phone gini, khawatir Nada kelar mandi terus dia tahu aku telpon kamu terus dia malah marah sama aku.”

 

 

 

Starbuck Kelapa Dua, 19.59

 

“Aku memang kenal dekat dengan Nada, tapi kamu jangan salah Mel. Nada selalu hati-hati kalau bercerita apalagi soal laki-laki. Dia tidak mau dan paling gengsi kalau ketahuan tergila-gila cowok, maka aku ga pernah tanya detail . Biar aja Nada bercerita semaunya dia.”

 

Kalau kata Nada, tengkyu ya Okto lu selalu bisa jadi tong sampah gue. So, menurutku karena Nada tak bisa bicara sembarangan, maka aku simpan semua rahasia dia dengan baik maka sampai saat ini dia selalu mencariku kalau udah kepepet pengen teriak-teriak.

 

“Kamu ga masalah cuma dijadikan tong sampah sama Nada?”

“Engga sih, memang kenapa. Aku sayang sama Nada. Buatku melihat dia kembali tertawa sangat penting. Its OK.”

 

Tiba-tiba aku kagum dengan Okto, Nada ko bego ya. Sama Ryan dia rebut terus, nah ini ada Okto yang selalu setia nemenin dia ketawa ko di sia-siakan.

 

Kalau aku perhatikan, Okto ganteng lo. Apalagi kalau dia lagi senyum sendiri mengingat kekonyolan Nada. Sumpah, ganteng deh. Kumis tipisnya bikin dia makin manis.

 

Niatku ketemu Okto adalah ingin bicara soal Nada. Siapa tahu dengan Okto bisa transparan, jadi aku tahu harus ambil keputusan apa untuk Nada jika dia cerita lagi soal Ryan.

Cerita?

Rasanya Nada ga pernah cerita soal Ryan. Aku saja yang terlalu ingin tahu dan gerah lihat lama-lama Nada nangis di kamar mandi, bahkan pernah dia coba sakiti diri sendiri, kalau aku terlambat sudah putus dia punya Nyawa.

 

Menurutku, dibanding dengan Ryan mending Okto keman-mana  deh. Apa sih istimewanya Ryan.

Heran.

 

“Woi…ngelamun. Udah belum nih?, Urusanku masih banyak Mel”

“Kamu ko ganteng sih. Ko Nada ga sama kamu aja yah?”

“Laaah, sadar Mel sadar. Udah ah hampir tengah malam nih. Kamu aku anter pulang ya, nih liat chat dari Nada. Dia cariin kamu.”

 

Jam sudah menunjukkan 00.10 ternyata ngobrol sama Meli asik juga. Kenapa Nada dari dulu ga pernah kenalin Meli yah.

Kan Nada tahu kalau aku susah cari pacar. Rasanya dibilang ganteng sama Meli ko langsung kembang kempis hidungku.

 

“Loh kenapa nih To, ko mati. Kamu berhenti becandanya yah, ini udah hampir jam 1. Jangan main-main ah.”
“Aku ga main-main Mel, ga tau kenapa mati nih mesin.”

 

OMG, Jam 1 malam eh pagi dan aku masih di jalan. HP ku low bat dan aku lupa bawa power bank.

 

Damn, gimana nih.

Cari Taksi, taksi …taksiiiii.

 

“Panik Mel?”. Santai aja kali.

“Ya kamu bisa santai, kan kamu cowok ditemenin Dunhill pula. Lah aku beneran panik nih. Jam segini mana ada taksi’”

 

Aku juga panik sih, bisa aja Meli langsung focus ke Dunhill yang sudah habis 3 batang ini.

Jam terus melaju, bengkel tak bisa dihubungi. Cari taksi susahnya minta ampun.

 

“Mel, sorry nih ya. Taksi susah. HP kita sama-sama mati. Lagi kalau pulang, gerbang kostmu kan sudah di gembok.Kita ke seberang aja yuk, biar mobilku aku pinggirkan. Aku ngantuk Mel.”

“Alpa?. Kamu mau rebahan di Alpa?. Terus aku?”

“Bukan Mel, sebelahnya”

 

Ibis. Okto ngajak cek in? Kurang ajar Okto. Maksud dia apa? Apa jangan-jangan dia sengaja bikin mogok mobilnya.

 

“Udah deh Mel, aku ngantuk. Aku ga akan ngapa-ngapain kamu. Kita perlu istirahat. Besok kita kerja lo Mel.

 

Aku tak punya pilihan, kali ini aku harus iyakan.

 

#

 

Kamar 325.

 

Aku dan Okto berpandangan saat membuka pintu kamar. Karena niatnya benar-benar untuk melepas Lelah maka kami hanya pesan 1 kamar dengan perjanjian aku di ranjang dan Okto tidus di sofa.

 

Kata Okto, tidak perlu khawatir kalau kita sama-sama tidur. Yang perlu dikhawatirkan adalah bila kita sama-sama bangun. Lagi juga kita ga ada perasaan apa-apa kan Mel? Okto menegaskan.

 

Karena aku percaya dengan Okto, maka aku putuskan untuk jawab Iya.

 

Ake bersih-bersih, walau dengan baju yang sama setidaknya kalau aku mandi dulu, tidurku mungkin akan lebih nyenyak.

 

Rasanya, durasi mandiku tidak sampai 15 menit. Aku sudah berpakaian lengkap dan sekarang giliran Okto yang bersih-bersih. Tapi…

 

Okto sudah terlelap.

Di ranjang.

 

Bagaimana ini, aku tidak mau tidur di sofa, pasti pegal saat bangun nanti.

 

Dengan menyebut nama Tuhan, aku tidur satu ranjang dengan Okto. Semoga iman kami kuat.

 

Matahari sudah mulai ngintip.

Duh aku malu dengan Okto, mukaku berantakan. Eh, Okto mana ya?

 

Mel, aku duluan ya. Biar cepat kelar mobilku aku perlu ke bengkel pagi-pagi

 

Menyebalkan ya Okto, meninggalkan aku begitu saja. Cuma pesan ini doang yang dia tinggalkan.

Aku ko ga diapa-apain sih.

 

Hey cermin, memang aku kurang cantik ya dibanding Nada, masa Okto ga ada sukanya sedikit gitu. Kasih pesan apa gitu. Kesalnya pagi ini.

Cueknya Okto.

 

Nada, sorry semalam aku ada kecelakaan sedikit. Aku di Ibis yang dekat Starbuck kesukaanmu.

 

Tok tok tok…

Buset Nada, belum sampai 30 menit kamu sudah sampai saja.

“Mana bajuku?” Nada masih cemberut, aku segera ganti baju untuk segera ke kantor.

“Aku ga ke kantor ya, males. Ijinin ke si Bos ya”

 

Bodo amat, malas debat. Aku iyain aja.

“Nad, Check out jam 12 ya, lu rebahan aja gih sayang sisanya”

“Iyaaaa…”

 

#

 

Kamu di mana? Aku mau ketemu

 

Mau apa lagi ini orang, sudah ga minta maaf, seolah semua baik-baik saja. Mesti ya aku sumpahin kamu.

 

Kamu di mana? Aku mau ketemu

 

Hufft, aku share loc saja. Pingin tahu respon dia apa ya, kalau aku kabarin pagi-pagi begini ada di sini.

 

Tok…tok…tok.

“Room Service…”

 

Duh, baru mau rebahan.

“Ga usah mas, nanti saja.”

“Room service…”

Ya Tuhan bandelnya ini room boy. Berat langkah aku buka juga pintunya.

 

“Hai…”

Ryan, ngapain di sini. Dalam hati aku senangnya bukan main. Senyumnya aku sungguh merindu. Tapi aku masih kesal. Kebiasaan dia itu, meredam marah dengan segala kejutannya.

“Ngapain kamu ke sini?”

 

Ryan tutup pintunya dan lagi-lagi dia lancarkan kecup yang dalam lalu aku meleleh.

“Aku kangen sama kamu. Please, stop marah-marah. Aku kangen”.

 

Dia pikir aku ga kangen . Dasar lelaki lempengnya bukan main.

 

Ryan kembali mendekap erat, sangat erat. Aku bisa rasakan rindunya dia yang tertahan, aku bisa rasakan betapa Ryan pun ingin benar-benar bertemu aku.

 

Tapi aku rasa kali ini Ryan sedikit nakal. Pertemuanku tidak saja dihadiri oleh babak kecup bibir dari Ryan. Lebih.

 

Aku menikmatinya dan aku tenggelam di dalamnya.

Permainan Ryan sedikit menaikkan adrenalin, aku mampu imbangi dengan baik. Melenyapkan kekesalan, meniada kegundahan dan meletupkan rindu di balik segala ocehan yang sempat merusak aku dan kau menjelang kita.

 

Setan menang. Iblis tertawa.

 

Bersalah, iya. Menyesal apalagi.

 

Segera kubersihkan dan kubiarkan badanku lenyap di balik shower.

Entah apa namanya. Ada lega saat kulihat Ryan di cermin, ada luluh saat kutatap dalam matanya dan ada takut saat aku tahu besok adalah hari yang berbeda.

 

Kulempar handuk basahku. Aku ingin bertanya, apakah kamu akan bertemu aku kembali?

Atau kisahmu selesai sampai di sini?

 

#Bandung