Kepingan Potong Rambut

Kepingan Potong Rambut

Tiba-tiba, teringat akan sesuatu yang dulu sering dilakukan dan baru saja terjadi lagi, seakan mengulang memori dan ternyata masih sangat melekat erat hingga mengundang rindu. Mari mundur agak jauh, ketika aku masih berseragam putih biru.

 

-

 

Pagi di akhir pekan dengan riuh suara kartun favorit, dapur yang sibuk, dan bau detergen menyengat. Aku menunggu ayah agak santai, karena setiap Sabtu atau Minggu pagi, ayah selalu pergi ke pasar, beres-beres kebun, atau berkegiatan bapak-bapak lainnya. Padahal, beliau baru saja pulang dari ibukota malam sebelumnya. Setelah agenda paginya selesai, aku masuk ke agenda ayah yang selanjutnya: potong poni.

Dulu memiliki poni adalah keharusan, biar terlihat imut dan super cute ketika difoto atau ngobrol sama gebetan. Seperti hormon yang sedang bergejolak ketika masa pertumbuhan, begitu pula rambut yang terlalu cepat panjang. Gak asik dong, lagi siap-siap mau genit tapi mata kecolok poni. Jadwal potong poni bisa sampai sebulan sekali, bahkan dua minggu sekali. Aku juga dulu kebingungan, kenapa tumbuhnya cepet banget. Jadi ayah sudah ahli untuk memangkas poni yang sudah off-side ini, sisir dan gunting tersedia, tinggal tunggu aba-aba.

Dengan membawa kursi bakso, aku menunggu ayah di teras rumah dan poni siap untuk dieksekusi. Kadang jadi tegang dan cemas, takut poni kependekan atau ujung gunting gak sengaja kena mata, tapi kan bukan srimulat ya. Ayah selalu potong dengan hati-hati dan teliti. Gak sampai lima menit, pandanganku udah gak terhalang lagi dan hasilnya selalu rapi, semacam pakai cetakan baskom kalau kata orang. Sehabis itu, giliran aku yang bekerja untuk sapu sisa-sisa rambut di lantai.

 

-

 

Sekian waktu berlalu. Wajah ini gak perlu lagi poni untuk terlihat lucu, bahkan udah gak peduli model rambut apa yang sedang tren saat ini. Semenjak memilih jalan untuk berhijab, model bob pendek jadi juara. Siapa juga yang peduli? Sekalipun botak, gak akan ada yang lihat.

Beberapa waktu lalu, ada masanya rindu rambut panjang. Yang dikata orang hitam, panjang dan tebal bak model-model iklan shampoo di televisi. Semenjak itu, aku memutuskan kembali untuk membiarkan rambut ini tumbuh tanpa dipangkas, berharap masa kejayaan rambutku kembali seperti dulu. Sayangnya kondisi gak seprima zaman sekolah, usia bertambah, pikiran juga. Ditambah konsumsi obat yang menyebabkan rambut berguguran, memenuhi lantai dan berserakan setelah disisir. Rambut panjang jadi salah satu faktor, terlalu berat katanya. Terpaksa harus potong pendek lagi seperti beberapa tahun ke belakang.

Di saat krisis tanggal tua, pergi ke salon untuk sekadar potong rambut pun jadi perkara. Kebetulan ayah sedang di rumah, kemudian aku membuat permintaan yang sama saat dulu masih sekolah. Aku khawatir, apa beliau masih ingat cara memotong rambut anaknya? Dan ternyata, rasanya masih sama. Saat menempatkan posisi di kursi bakso dan terdengar suara gunting di sebelah telinga, banyak memori yang terpanggil. Aku merasa masih sangat belia yang merengek minta poninya digunting. Tegangnya masih sama, tapi sekarang lebih takut hasilnya gagal dan ujungnya harus tetap ke salon. Sekitar lima belas menit, operasi selesai dan setelahnya aku sapu bersih rambut-rambut yang habis digunting.

Meskipun dengan hasil seadanya, tapi ikatan itu masih erat. Kepingan kenangan sekitar sepuluh tahun lalu masih tertanam dan masih sangat jelas dibayangkan. Aku masih anak perempuan kecil ayah, yang masih banyak minta. Dan kejadian ini menimbulkan pertanyaan: akankah ketika aku dewasa, ayah akan berbuat sama?