Keping Ketiga: Gadis di Meja Nomor Tiga

Keping Ketiga: Gadis di Meja Nomor Tiga

[Kindly play, Tom Misch—Movie]

Seperti raga yang selalu merindukan jiwa yang mengisinya, kita bisa merindukan kehidupan dan masa-masa ketika kita menjalaninya.

Manusia mengalami berbagai fase kehidupan, di mana situasi dan lingkungannya berubah-ubah. Begitupun dengan apa yang dirasakan. Pada tiap fase itu, kita juga mengenali berbagai orang, berbagai situasi, berbagai pribadi, beradaptasi dengan mereka, dan mengambil pelajaran bermakna.

Luna merindukan fase hidupnya ketika Ibu masih di sampingnya.

Tidak seperti orang yang sudah meninggal, yang dapat dikunjungi makamnya setiap waktu, Luna tidak bisa melakukan itu untuk Ibu. Karena ibunya tidak meninggal.

Setidaknya begitulah yang Tante dan Omnya bilang. Dia tinggal dengan mereka karena dititipkan oleh ibunya saat berumur Sembilan tahun. Luna tidak ingat bagaimana persisnya, tapi setelah itu ia tak pernah lagi bertemu Ibu.

Ibunya betul-betul hilang. Seperti ditelan bumi.

“Lun, kamu nggak sarapan dulu?”

Luna tersadar dari lamunannya. Tante berdiri di belakangnya, membawakan sepiring nasi goreng hangat. Tiba-tiba saja gadis itu ingat kalau dirinya hampir terlambat.

“Astaga, Tante, aku sudah telat. Nanti aku makan di kantin saja. Aku berangkat!”

[*****]

Jam kuliah sudah selesai. Kini waktunya Kala pergi ke kafe untuk bekerja. Kala adalah pegawai yang rajin yang diberi jam kerja spesial oleh pemilik kafe. Dia bisa bekerja mulai kapan saja asal durasinya tepat delapan jam. Kadang ia akan mulai bekerja di sore hari seusai kuliah, atau tengah malam jika insomnia membuatnya tak bisa terlelap. Jadwalnya tidak teratur.

Pintu belakang terbuka. Ia langsung disambut oleh beberapa kawannya. Sambil sesekali membalas senyum, lelaki itu pergi ke loker untuk mengambil apron dan mengganti bajunya dengan kemeja putih seragam kafe. 

Kala memandang penjuru kafe yang cukup ramai sore ini dari balik konter. Kafe yang letaknya di dekat kompleks kampus terkenal di daerah Bandung itu membuat mahasiswa cukup sering memenuhi tempat itu. Selain menu dan harganya yang lumayan, kafe bernama Kuning itu menyediakan tempat yang nyaman.

Ruangannya berukuran lumayan besar dengan sofa di masing-masing sudutnya, tersedia bagi siapapun yang ingin duduk santai. Di tengah ruangan ada meja untuk dua orang atau untuk kelompok yang lebih besar. Dindingnya terlapisi ornamen batu bata cokelat tua, membuatnya terkesan antik dan cantik. Lampunya berwarna kuning, membuat kehangatan terasa di dalam ruangan.

Ada meja bar yang merupakan tempat barista meracik kopi, yang di depannya disediakan pula kursi tinggi untuk duduk. Di samping meja bar itu, ada meja kecil tempat kasir duduk dan mengoper pesanan makan ke dapur melalui jendela di belakangnya. Jangan lupakan juga poin penting dalam kafe yaitu sudut ruangan yang memuat banyak sekali buku dalam rak kayu yang tinggi.

Rak bertingkat empat itu memuat berbagai genre buku, dari roman sampai politik. Selain buku yang dibeli oleh kafe, ada pula buku yang disumbangkan oleh pelanggan setia mereka. Semua pengunjung bisa membaca buku-buku itu sambil bersantai minum kopi. Banyak juga yang terkadang merekomendasikan beberapa judul buku pada kafe untuk ditambahkan sebagai koleksi. Banyak orang yang menjadikan sudut baca itu sebagai alasan mereka menyukai Kafe Kuning. Seperti Kala.

Pada hari-hari tertentu ketika kafe sepi pengunjung, Kala dapat ditemukan di balik meja bar, menunduk dalam diam sambil matanya menari ke kanan-kiri, menjelajahi isi buku. Tanpa sepengetahuan orang lain pula, Kala menitipkan beberapa buku miliknya di sana. Buku-buku dongeng yang dimilikinya sejak kecil. Buku-buku kesukaannya, yang menceritakan kisah-kisah favoritnya. Buku-buku dongeng Yunani yang tak pernah disentuh oleh pengunjung manapun sejak Kala menaruhnya di rak kedua.

“Kal, Iced Caffe Latte buat meja nomor tiga.”

Kala menolehkan kepalanya pada Kina, seniornya yang bekerja sebagai waitress. “Siap, Mbak,” ujarnya sebelum mulai berkutat dengan mesin-mesin kopi di hadapannya.

Seusai membuat pesanan, Kala mencari-cari waitress atau waiter untuk mengantar pesanan ke meja. Sayang sekali, tak dilihatnya satupun kawannya yang tidak sibuk. Kala memutuskan untuk mengantar sendiri pesanan itu ke meja nomor tiga. 

Kala mengambil nampan hitam di balik rak dan meletakkan segelas Iced Caffe Latte yang sudah dibuatnya di sana. Matanya mencari-cari meja nomor tiga dan menemukannya di sudut dekat jendela. Seorang gadis berambut panjang duduk di sana. Ia tampak sedang membaca buku. Kala sedikit merasa aneh karena melihat gadis itu mengenakan baju berkerah tinggi di hari yang panas. Tapi itu tidak ada kaitannya dengan pesanan yang harus dia antar.

“Iced Caffe Latte?” tanyanya memastikan pesanan si gadis sambil meletakkan gelas ke meja. Gadis itu mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya.

“Terima kasih,” gumamnya lirih. Kala memberikan bungkukan singkat sebelum pergi kembali ke meja bar.

Sambil berjalan dengan nampan di tangan kirinya, Kala mengingat sesuatu. Rasanya ia tidak asing dengan buku yang dibaca oleh gadis tadi. Kala memperlambat langkahnya kemudian menoleh sekali lagi ke belakang. Bahkan dari tempatnya berdiri saat itu, Kala bisa memastikan judul yang tertera di sampul berwarna kuning itu. Itu Helios dan Obor Emas karya Kora. Buku miliknya.

Kala cepat-cepat kembali ke meja bar dengan perasaan tak menentu. Dadanya berdentum-dentum penuh kebahagiaan. Untuk pertama kalinya, ada pengunjung yang membaca bukunya. Namun Kala masih harus memastikan, apakah gadis itu mengambil bukunya karena penasaran saja atau karena ia juga menyukai mitologi Yunani seperti Kala.

“Kal, pesenan tadi udah lo anter?”

Kala terkejut dan terpaksa mengalihkan pandangannya dari gadis di meja nomor tiga itu. Kina berdiri di hadapannya sambil memegang nampan kosong.

“Eh, udah, Mbak. Habis tadi nggak ada yang kosong. Daripada lama akhirnya gue yang anter.”

Kina duduk di atas kursi di sebelahnya. Diletakkannya nampan itu di atas meja bar. Kala memandangnya mengusap peluh di kening menggunakan tisu. “Makasih, ya. Sibuk banget tadi, tapi sekarang belum ada orderan masuk lagi, sih.”

“Oh, syukur deh, bisa istirahat.”

Kala kembali mengawasi gadis di meja nomor tiga dari balik meja bar. Beruntung gadis itu tidak melayangkan pandangannya ke arah meja bar, karena ia akan menemukan sepasang mata mengawasinya dengan intens.

Kina sedang mengikat ulang rambutnya ketika ia menyadari Kala memandang sesuatu di kejauhan. Gadis itu mencoba menebak ke arah mana Kala memandang, tapi tidak berhasil. “Lo ngeliatin apa, sih, Kal?” tanyanya kemudian.

Kala gelagapan. “Eh, nggak ada kok, Mbak. Beneran! Cuma liat jalan di luar jendela.”

Kina melempar pandang selidik. Namun Kala yang menangkap kotak tisu di belakang Kina, segera memiliki ide cemerlang untuk menghindar dari pertanyaan sekaligus menanyakan rasa penasarannya pada gadis di meja nomor tiga.    

“Astaga, gue lupa!” serunya tiba-tiba. Kala berjalan melewati Kina dan mengambil kotak tisu di atas meja. “Meja nomor tiga minta tisu. Hehe, bentar, ya, Mbak.”

Kina berdiri, bersiap mengambil alih pekerjaan Kala. “Biar gue sini.”

“Eh, nggak usah, Mbak! Mbak duduk aja, biar gue.”

Kala berjalan cepat menuju meja si gadis. Ia meletakkan kotak tisu di atas meja dan tanpa diduga menerima tatapan bingung dari gadis itu. Kala segera memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya.

“Maaf, saya liat Mbaknya baca buku itu. Eh, karena penasaran atau memang suka sama isinya?”

Gadis itu memandangnya aneh. Kala tersenyum kikuk. “Maaf, kalau boleh tanya.”

“Kalau saya suka, kenapa?”

Kala tersenyum lebih lebar. “Ah, nggak ada masalah, sih. Asal tahu aja, itu buku pribadi saya yang saya titipin di sini. Yah, saya cuma sekadar senang karena ternyata ada pengunjung yang seleranya sama dengan saya,” ujar Kala.

Gadis itu terus menatap Kala. “Kamu … kamu suka mitologi Yunani juga?”

Kala mengangguk singkat. “Iya. Ah, saya terlalu banyak ngomong, ya?” ia menyadari kelalaiannya. “Maaf, silakan dinikmati.”

Kala berbalik sambil menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya. Kala pikir, kalau dia beruntung, mungkin ia dan gadis di meja nomor tiga itu bisa menjadi teman baik.

Suatu kecocokan pada diri dua orang bisa membuat hubungan yang terjalin berjalan lebih lancar. Setidaknya, itu satu-satunya hal yang benar-benar dia pahami selama dua tahun kuliah. Mungkin, dia akan bisa menerapkannya dalam waktu dekat.

[*****]

Suara merdu Tom Misch melantun merdu di penjuru kafe. Jam di dinding menunjukkan pukul delapan. Saat ini, hanya ada tiga meja yang terisi oleh mahasiswa yang sibuk dengan laptop masing-masing. Para koki, barista, waiter dan waitress juga jadi menganggur.

Praba Kalandra masih dapat ditemukan di balik meja bar, memandang tanpa henti meja nomor tiga di dekat jendela. Dia berkali-kali berusaha mencari celah untuk menghampiri gadis itu. Pikirnya, tentu saja mereka harus mengobrol. Susah sekali baginya mencari teman yang bisa menyamainya ketka berbicara tentang topik favoritnya. Selain itu, karena gadis itu sudah membaca buku miliknya, ia ingin merekomendasikan buku terbaik sekaligus favoritnya.

Kala pergi ke belakang untuk meminta ijin menghampiri temannya dan mengobrol sebentar. Begitulah alasannya. Begitu seniornya memberi lampu hijau, lelaki itu langsung berjalan ke arah rak buku, mengambil sebuah buku bersampul lusuh berwarna hijau toska. Ada gambar seorang wanita cantik yang rambutnya digelung ke belakang, senyumnya tampak anggun. di sana tertera tulisan Persephone dan Empat Musim yang seolah-olah ditulis dengan tinta emas.

“Permisi … boleh duduk?” tanya Kala dengan sopan. Gadis itu mengalihkan pandangannya dari laptop. Lagi-lagi ia melempar pandang heran yang mengintimidasi. Namun Kala memberanikan diri. Ia menarik kursi di depan gadis itu dan duduk di sana.

“Emm, lo tau, kan? Haha, susah banget nyari orang yang mengerti topik yang sama, dan kita sama-sama suka mitologi.” Kala memulai percakapan dengan canggung dan menanggalkan kesopanan yang tadi masih ia pertahankan, yang hanya didengarkan gadis itu tanpa menutup laptopnya. “Umm, nama gue Kala, by the way. Praba Kalandra. “

“Luna,” jawab gadis itu singkat. Kala berdecak kagum.

“Lo bener-bener penggila greek myth, ya? Nama lo Luna, Selene, tau kan?”

Luna menatapnya tajam dari balik layar laptop. “Tentu saja aku tahu siapa lagi yang memiliki nama sama denganku.”

Kala terkekeh canggung. “Haha, oke-oke.” Dia mulai merasa kehabisan topik, tapi tidak ingin memutus perbincangan. “Umm, lo kuliah? Kerja?”

“Menurutmu?”

“Kuliah?” Kala dapat melihatnya mengangguk dari balik layar. Kala tersenyum. “Jurusan apa?”

“Menurutmu, yang cocok bagi penggila greek myth itu apa?”

Kala berpikir sejenak kemudian matanya membola. “Wait, nggak mungkin … nggak mungkin Astrologi, kan?”

Luna kini menutup layar laptopnya dan melempar senyum simpul pada Kala. Baru kali ini gadis itu merasa dihargai atas studi yang diambilnya. Melihat wajah lelaki yang terkagum-kagum itu, ia harus berusaha lebih keras menahan senyumannya menjadi lebih lebar.

Kala sendiri merasa iri sekaligus kagum. Astrologi adalah jurusan impian keduanya setelah Sastra. Kala makin antusias mengenal gadis di hadapannya itu. Ia mengulurkan tangan kanannya. “Kita harus temenan,” ujarnya.

Mendengar kata teman membuat senyum di wajah Luna sedikit memudar. Gadis itu mengambil dan menyesap Iced Caffe Latte-nya alih-alih menjabat tangan Kala. “Mungkin lain kali,” gumamnya.

Kala tidak mengerti mengapa orang susah sekali diajak berteman, tapi ia kemudian menyimpan tangannya dan beralih menyodorkan buku yang tadi diambilnya. “Ini, gue punya rekomendasi.”

“Eh, aku tidak minta,” ujar Luna cepat. Saat itu pula Kala menyadari bahwa gadis itu bicara dengan bahasa baku.

“Nggak apa-apa, kok. Lagipula semua buku yang berhubungan dengan greek myth di sini punya gue,” jelasnya. “Lo adalah pelanggan pertama yang ngambil buku gue dari rak, dan mungkin terakhir juga, ya. Karena nggak ada yang tertarik dengan mitologi.”

Luna mengambil buku yang disodorkan Kala. “Bukan nggak ada, tapi jarang ada.”

Kala terkekeh. “Lucu lo. Tapi serius, orang yang suka mitologi Yunani yang pernah gue temui seumur hidup gue cuma lo dan Mama gue.”

Luna terdiam. Ibunya juga suka mitologi Yunani. Mereka punya banyak kesamaan, Luna dan lelaki itu. Namun ia hanya menggumamkan terima kasih atas buku rekomendasi itu.

“Ah, gue harus balik ke kitchen,” gumam Kala setelah melihat dapur mulai sibuk lagi. “Well, see you next time, Luna.”

Ketika melihat Kala beranjak berdiri, Luna jadi ingat tujuannya datang ke kafe itu. “Ternyata yang waktu itu bilang aku mirip Hera lewat note itu kamu, ya?”

Kala menaikkan sebelah alis sebelum ingatannya kembali ke tiga hari yang lalu, ketika ia menyelipkan note di dalam salah satu pesanan yang salah dibuat. Kala tidak menyangka gadis ketus itu adalah Luna. “Ah, itu lo?”

Luna tersenyum simpul. “Kapan-kapan kamu harus menjelaskan kenapa pada awalnya kamu menganggap aku mirip Hera.”

Luna merasa senang. Ia sudah menemukan orang di balik note misterius itu, dan Kala juga merasa menemukan orang yang mungkin dapat memahami dirinya. Mereka merasa saling menemukan. Perasaan itu adalah perasaan paling menyenangkan yang Luna rasakan setelah waktu yang sangat lama.

Kala tersenyum simpul. “Oke, bisa diatur.”

 

13420, ©ranmay.