Keping Keempat: Persephone dan Empat Musim

Keping Keempat: Persephone dan Empat Musim

[Kindly play PAVVLA—Planets and Stars]

Pada jaman dahulu, ketika dewa dan dewi hidup bersama dalam kedamaian, lahirlah seorang anak perempuan yang cantik dari rahim Demeter. Anak perempuan itu bernama Persephone.

Persephone tumbuh dalam pelukan sang Ibu, menjadi gadis sekaligus dewi yang cantik rupa dan hati nuraninya. Rambut Persephone yang panjang berwarna kecokelatan selalu diikat membentuk sanggul yang indah di belakang kepalanya. Peri-peri dari taman bunga akan terbang dan menaburkan kelopak-kelopak bunga matahari di sana, sehingga parasnya menjadi makin elok. Persephone memiliki tutur yang halus dan sikap yang anggun, membuat siapapun menyenanginya.

Persephone adalah anak yang paling disayangi oleh Demeter, dewi panen dan pertanian, yang parasnya elok rupawan. Gadis cantik itu tidak pernah lepas dari pelukannya. Beberapa dewa seperti Apollo, Ares, Hermes, bahkan Hefaistos sudah pernah menyatakan ketertarikan mereka pada Persephone. Sayangnya, Demeter menolak semua lamaran mereka.

Di suatu hari yang cerah, Persephone pergi menghadap ibunya. Ia hendak meminta ijin untuk memetik bunga di suatu lembah bernama Nysa bersama para nimfa Okeanid yang menunggunya di sana.

Demeter menjadi cemas. Ia berusaha mencegah anaknya pergi. “Nak, aku akan sedih sekali kalau sampai kehilanganmu.”

Namun Persephone memenangkan hati sang Ibu dengan kecupan lembut di punggung tangannya. “Jangan khawatir, Bu. Aku akan baik-baik saja.”

Maka pergilah Persephone menjumpai para nimfa.  Mereka memetik bunga-bunga yang indah dan mengumpulkannya ke dalam keranjang kecil. Mereka berjalan mengitari taman ditemani peri-peri kecil yang beterbangan di sekeliling mereka. Semuanya damai dan tampak indah sampai sesuatu dari dalam tanah muncul ke permukaan.

Itu adalah Hades yang sedang berpatroli dengan kereta emasnya. Sudut matanya melihat suatu pemandangan yang indah, ia melihat Persephone yang sedang memetik bunga bersama kawan-kawannya para nimfa. Pada saat itulah Eros memanahnya dan membuatnya jatuh cinta pada Persephone yang sedang memetik bunga.

Bayangan hitam pekat itu berukuran besar, membuat Persephone dan teman-temannya menjatuhkan keranjang mereka karena terkejut dan ketakutan. Dalam sekejap, bayangan itu menyelubungi tubuh Persephone, dan membawanya menghilang dari Lembah Nysa.

Persephone berteriak memanggil sang Ibu sebelum suaranya ditelan kegelapan Dunia Bawah. Teriakan itu terbawa oleh angin hingga ke Olimpus, dan didengar oleh Demeter. Ia langsung bangkit dan mencari anaknya selama sembilan hari sembilan malam, berteriak tanpa henti ke segala penjuru laut dan daratan guna menemukan Persephone.

Akhirnya di hari kesepuluh, ia bertemu Helios, sang dewa matahari yang dari singgasana emasnya tak pernah luput menyaksikan segala sesuatu yang terjadi di muka Bumi. Dari Helios, Demeter mengetahui anak gadisnya sekarang telah menjadi istri Hades, menjadi ratu kerajaan orang-orang mati, yang tidak akan pernah melihat cahaya matahari dan tinggal selamanya dalam kegelapan abadi.

Demeter sangat sedih mendengar kabar dari Helios tersebut, kesedihan Demeter membuat seluruh alam turut berduka. Angin selatan yang dingin datang berembus merontokkan daun-daun, menjadikan bunga-bunga layu dan rerumputan hijau mengering. Bumi menjadi padang tandus dan banyak manusia serta binatang mati kelaparan, kesedihan Demeter telah mendatangkan musim dingin dan menyebabkan  tanaman tidak dapat tumbuh, hal ini membuat manusia menderita.

Akhirnya Zeus sang raja dewa turun tangan, Zeus meminta Hades mengembalikan Persephone pada ibunya. Zeus mengirim Hermes, anak sekaligus utusannya untuk menjemput Persephone. Tapi ternyata Hades memiliki banyak akal. Dia menjebak Persephone untuk memakan delima dunia bawah. Ia tidak akan menyerhkan pujaan hatinya dengan begitu mudah meski kesedihan dan kerinduan Persephone pada ibunya turut membuatnya iba.

Di Dunia Atas, Demeter memberanikan diri untuk menjumpai Hades ke Dunia Bawah untuk meminta kembali putrinya. Hades mengungkapkan bahwa hal itu mustahil karena Persephone telah memakan makanan dari Dunia Bawah. Siapapun yang telah memakan makanan Dunia Bawah, tidak akan bisa keluar dari sana.

Mengetahui hal itu, Zeus turun ke Dunia Bawah untuk bicara pada Hades. Mereka membuat kesepakatan bahwa, setiap enam bulan Persephone harus tinggal di dunia bawah bersama Hades, dan enam bulan berikutnya ia tinggal di dunia atas bersama Demeter, ibunya.

Demeter akhirnya menerima konsekuensi tersebut sekaligus merasa senang karena mengetahui bahwa puterinya diperlakukan dengan baik oleh Hades. Dengan kembalinya Persephone ke dalam pelukannya, ia mulai menerima hubungan Hades dan puterinya.

Sesuai kesepakatan mereka, Persephone menjalani hidupnya dengan membagi waktunya untuk tinggal di Dunia Bawah dan Dunia Atas. Pada periode yang ditentukan, ia akan pergi ke Dunia Bawah dan tinggal bersama Hades. Pada saat itu pula Demeter akan merasa sedih, dan bumi menjadi dingin dan tanaman-tanaman berhenti berbunga atau berbuah. Pada periode lain, Persephone kembali ke Dunia Atas dan tinggal bersama sang Ibu. Saat itu, Bumi kembali hijau dan menampakkan keindahannya.

Sejak saat itu, di saat musim semi dan musim panas tiba, seluruh alam menghijau dan semarak oleh mekarnya bunga-bunga. Alam bersuka ria menyambut kedatangan Persephone untuk menemani ibunya. Sebaliknya bila Persephone harus kembali ke Dunia Bawah, Bumi menjadi gersang, daun-daun berguguran dan cuaca yang hangat menjadi dingin dan kelabu. Musim gugur dan musim dingin datang mengiringi kesedihan Demeter. Demikianlah, peristiwa itu terus berulang hingga sekarang dan dikenal manusia sebagai pergantian musim dengan Persephone sebagai penjaga empat musim tersebut.

Luna menutup buku dongeng di tangannya sambil tersenyum kecil. Buku itu adalah buku Persephone dan Empat Musim yang beberapa hari lalu direkomendasikan oleh barista kafe yang dikunjunginya, Kala. Malam itu, Kala memaksanya membawa pulang buku tersebut dengan dalih itu adalah buku pribadinya.

Luna terkekeh kecil. Tentu saja ia tahu bahwa lelaki itu tidak ingin hubungan mereka terputus. Dengan meminjamkan buku itu padanya, ia akan punya alasan untuk kembali menemui Kala dengan alasan mengembalikan bukunya.

Luna memainkan lampu di meja belajarnya. Menarik-narik talinya sehingga lampu menjadi nyala kemudian mati kemudian nyala lagi. Cerita barusan membangkitkan kenangannya akan masa lalu. Buku-buku dongeng Yunani yang ditulis oleh seseorang bernama Kora itu sudah ia kenal sejak kecil.  

Buku dogeng dengan ilustrasi lukisan indah itu pernah dibacanya, pernah disentuhnya sewaktu ia masih kecil. Buku-buku itu adalah buku-buku pertama yang Ibu kenalkan kepadanya. Dulu ia memiliki hampir semua serinya, yang masing-masing bersampul warna-warni dengan ilustrasi indah yang tebal bukunya berbeda-beda.  Buku-buku itu sering menemani malam-malamnya bersama Ibu sebelum tidur, meski tak jarang Ibu melantunkan sendiri dongengnya.

Buku-buku itu ia simpan dan rawat dengan teliti di rak kecil yang ia buat sendiri dari bekas kotak telur yang didapatkannya di dekat pembuangan sampah. Buku-buku itu tersimpan cantik di rak itu, di sudut rumah lama kecilnya, sampai suatu ketika Ibu membakar habis buku-bukunya. Luna ingat, itu adalah pertama kalinya ia menangis karena Ibu.

Merasa sedikit emosional, Luna beranjak dari mejanya dan meninggalkan buku milik Kala di sana. Ia akan mengembalikannya ke kafe besok, setelah jadwal kuliahnya selesai. Kali ini Luna benar-benar mematikan lampu di meja belajarnya. Malam sudah larut, waktunya untuk tidur.

*****

Halaman kampus pada siang hari dipenuhi oleh berbagai macam orang. Ada mahasiswa yang duduk di bangku taman sambil mendengarkan musik, sekadar bersantai sebelum jam kuliah kembali dimulai. Ada pula yang berkelompok duduk di bawah pohon mengerjakan tugas atau makalah. Kala sendiri adalah golongan yang duduk sendiri, tanpa melakukan apapun.

Mengamati manusia adalah salah satu bakat terpendamnya. Hal itu dapat dia lakukan setiap hari dengan mengisi waktu luangnya sebelum jam kuliah dimulai untuk duduk di taman kampus. Sebenarnya tadi ia bersama salah satu temannya, membahas mata kuliah yang baru saja mereka ikuti kelasnya sambil menyesap es teh plastikan dari kantin. Namun seperti biasa, tidak ada orang yang tahan berlama-lama bicara dengannya. Bukan rahasia lagi bahwa sifat Kala yang berubah-ubah dan terkesan tidak jelas itu membuatnya sulit bergaul.

Maka berakhirlah Kala duduk sendiri di bangku taman, tanpa rasa keberatan sedikitpun. Sepi adalah temannya sehari-hari. Kala tidak mempermasalahkannya.

Ketika baru saja ia hendak menyandang tasnya dan beranjak untuk kembali ke gedung kampus, dilihatnya sosok gadis yang tidak asing. Itu Luna dan seorang temannya, berjarak beberapa meter dari tempat duduknya, meyandang tas ransel berwarna navy dengan buku-buku di pelukannya. Lagi-lagi gadis itu memakai baju berkerah tinggi.

Luna tampak asik mengobrol dengan lelaki lawan bicaranya sebelum ia menoleh ke arah tempat Kala duduk. Kala yang menangkap matanya tersenyum kemudian berdiri. Dari kejauhan dilihatnya Luna tampak bingung. Kala berjalan mendekati gadis itu.

“Hai,” sapanya. Luna sudah tidak kelihatan bingung, tapi sekarang lebih tampak seperti terkejut. “Lo kuliah Astrologi di sini?”

Kala dapat melihat keheranan yang sama terpampang di wajah teman lelaki Luna. Tapi ia masa bodoh.

“Dan kamu? Kuliah juga di sini?” tanya Luna yang direspons dengan tawa renyah oleh Kala.

“Ya kalo bukan kuliah apa lagi? Bersih-bersih taman?”

Luna menghormati humor Kala yang menurutnya aneh dengan tersenyum tipis. “Lun, siapa?”

Luna dan Kala otomatis menoleh ke arah lelaki yang berdiri di samping Luna, yang tadi Kala lihat sedang berbicara dengannya. Luna menjawab pertanyaannya. “Kenalan,” katanya.

Diam-diam Kala menyetujui jawaban itu. Karena mereka bahkan belum berteman. Lelaki itu mengulurkan tangannya ke arah Kala, membuat Kala menaikkan satu alisnya. “Buat apa?”

Senyum lelaki asing itu jadi sedikit kecut. “Semua kenalan Luna harus jadi kenalan gue juga. Ah, gue Ali Gahara, Gara,” ujarnya.

Kesan pertama Kala tentang cowok bernama Gara itu sudah bisa dipastikan tidak terlalu baik. Meski begitu, ia menjabat tangan Gara dan menyebutkan namanya. “Kala.”

Kala mencium adanya sikap awas yang agak berlebihan dari lelaki itu. Ia hendak bertanya pada Luna apa hubungannya dengan Gara—mungkinkah pacar?—tapi ia masih punya sopan santun dan menganggap pertanyaan itu terlalu pribadi untuk dua orang yang baru saling mengenal.

Luna memandang acara jabat tangan itu dengan jengah. Omong-omong ia jadi teringat buku milik Kala yang hendak dikembalikannya nanti. Karena kebetulan mereka bertemu, dia jadi ingin langsung mengembalikannya. “Eh, Kala,” ujarnya sambil mencari buku dongeng itu di antara buku-buku di kedua tangannya. “Tadinya mau kukembalikan sekalian berkunjung ke kafe. Tapi kebetulan kita bertemu, jadi, ini.”

Kala menerima Persephone dan Empat Musim itu dari tangan Luna. Ia tersenyum kecil. “Udah selesai baca?”

Luna mengangguk. “Gimana ceritanya?” tambah Kala.

“Tentu saja aku suka. Oh, dan menurutku Demeter itu tidak adil, ya? Dia mengurung anaknya, dengan dalih cinta dan kasih sayang.” Luna tak dapat menahan komentar itu keluar dari mulutnya. Dia sendiri tergolong orang yang pendiam, namun tidak untuk hal-hal yang disukainya.

“Oh, ya?” Kala merasa tertarik dengan pemikiran Luna. Baru saja ia hendak bertanya lebih lanjut ketika teman Luna itu, Gara, menarik tangan Luna pelan.

“Lun, bentar lagi kelas mulai, lho,” ujarnya.

Kala kesal sekaligus senang karena melihat Luna tampaknya juga agak kesal karena pembicaraan mereka terputus. Namun gadis berambut panjang itu menghela napas dan tersenyum pada Kala. “Aku ada kelas. Maaf, mungkin kita bisa diskusi kapan-kapan.”

Kala mengangguk, memberi permakluman. “Nggak apa-apa. Gue selalu ada di kafe kalau malam.”

Noted, sampai ketemu lagi,” ujar Luna sambil berbalik menyusul Gara.

Kala memandang kepergian gadis itu dengan senyum kecil. Mungkin seperti itu rasanya memiliki teman sungguhan. Seperti yang dia rasakan saat ini.

[*****]

Luna berjalan dengan kedua tungkai yang lelah. Kuliahnya memakan banyak waktu, dan belum lagi makalah-makalah dan tugas-tugas kelompok. Gara juga agak membebaninya hari ini. Berkali-kali lelaki itu mengajukan pertanyaan aneh tentang Kala.

“Itu siapa sih, Lun? Jangan ngobrol sama orang asing, ah.”

“Bukan asing, Ra. Aku berkenalan dengan dia tiga hari lalu.”

“Baru kenalan, kan? Udahlah, keliatannya mencurigakan.”

“Semua orang yang mendekatiku selalu tampak mencurigakan bagimu. Kecuali kamu.”

“Yaah, maksudku buat apa orang lain kalau ada aku?”

Luna tidak yakin apakah gelar teman masa kecil bisa membuat seseorang bersikap sangat posesif seperti itu pada dirinya.yang Luna tahu, dia hanya percaya pada Gara selama ini. Teman satu-satunya bagi Luna. Tapi Luna rasa kali ini lelaki itu berlebihan. Lagipula, Kala tidak tampak mencurigakan sama sekali.

Ah, soal Kala, entah mengapa kaki Luna justru berjalan ke arah kafe tempat kerja Kala berada. Tepat di ujung jalan, tempatnya berhenti dan membuka pintu kaca itu. Suara musik dan denting gelas serta piring langsung memenuhi indera pendengarannya. Suasana hangat dan nyaman itu otomatis didapatkannya setelah matanya menyesuaikan dengan cahanya lampu kuning dalam ruangan.

Luna yakin tak ada salahnya menghilangkan sedikit penat dengan bersantai menikmati kopi sebelum pulang. Meski jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, ia yakin Tante dan Om tidak akan menanyakan keberadaannya. Mereka berdua percaya bahwa Luna bukan gadis macam-macam dan Luna sendiri menjaga kepercayaan itu.

“Hot Chocolate,” ujarnya pada pelayan di kasir. Matanya sembari melirik ke balik meja bar, mencari keberadaan cowok barista itu.

“Itu saja?” Luna mengangguk. “Baik. Mohon ditunggu.”

Tepat sebelum Luna berbalik, ekor matanya menangkap Kala yang melambai antusias ke arahnya dari jendela yang menghubungkan dapur dan kasir. Luna membalasnya dengan senyum kecil kemudian melanjutkan langkahnya ke arah meja yang ia duduki tiga hari lalu.

Luna bukanlah gadis yang pandai bergaul. Ia sadar temannya hanya Gara, yang sudah betah dengannya sejak kecil. Banyak gadis di kelasnya atau yang sejurusan dengannya menjauhinya karena Luna terlalu sempurna bagi mereka.

Luna cantik, manis, dan menawan. Ia pintar dan merupakan peraih IPK tertinggi se-angkatan. Banyak lelaki yang mendekatinya, tapi selalu ditolak. Itu membuat banyak orang beranggapan bahwa ia gadis yang sombong. Padahal yang dilakukannya hanyalah berhati-hati terhadap orang-orang dan niat mereka.

Sikapnya yang terlalu berhati-hati itulah yang membuat orang susah memenangkan kepercayaannya. Itu yang menjadikannya terkucil dari kehidupan sosial teman-temannya. Namun selama ia masih bisa menjalani semuanya sendiri, Luna tidak pernah mengeluh.

“Hot Chocolate?”

Luna tersenyum ketika mendapati Kala yang mengantar pesanannya. “Terima kasih,” gumamnya. Gadis itu merasa aneh melihat Kala tidak kembali ke dapur melainkan malah menarik kursi di hadapannya dan duduk di sana.

“Tidak bekerja?”

Kala menggeleng kecil. “Break bentar.”

Luna mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. “Apa selalu sepi?”

“Karena bukan weekend, mungkin? Gue juga nggak pernah merhatiin rame enggaknya.”

Luna mengangguk kemudian menyesap minumannya. Kala memerhatikan gadis itu lamat-lamat. “Lo nggak risi gue di sini?”

Luna mengernyitkan dahi. “Ah, maksud gue kan, kesannya sok akrab gitu. Padahal kita baru juga kenal,” ujar Kala meralat pertanyaannya.

“Selama kamu tidak merugikan aku, kurasa tidak ada masalah.” Luna mengedikkan bahunya, membuat Kala tertawa atas jawabannya.

“Lo aneh tau, nggak?”

“Banyak yang bilang begitu.”

“Gue kira lo orangnya tertutup gitu. Tapi kayaknya lo lumayan easy going dan gue rasa bakal seru juga ke depannya.”

Luna tersenyum kecil atas kesan itu. Mungkin nantinya Kala akan menjadi orang yang tepat untuk menyandang gelar teman baru.

Kala menyodorkan sebuah buku yang diambilnya dari rak sebelum mengantar pesanan gadis itu tadi. “Ini, buku bagus yang lain. Tapi gue mau denger dulu, kenapa lo bilang Demeter itu nggak adil.” Kala mengingatkan pembicaraan mereka tadi siang.

Luna meletakkan cangkirnya. Ia menatap Kala sejenak sebelum akhirnya berbicara. “Ya, karena Demeter tidak pernah melepaskan puterinya. Dia bahkan menolak semua lamaran dewa-dewa yang ditujukan untuk Persephone, kan?”

Kala mendengarkan dalam diam. Meski telinganya sangat asing dengan bahasa baku yang Luna gunakan dengan nyaman, ia mulai bisa menikmati bagaimana gadis itu berbicara.

“Kurasa, mungkin saja Demeter iri, karena Persephone lebih cantik darinya. Ia menolak lamaran dewa-dewa itu karena ia takut puterinya akan mengambil semua perhatian yang awalnya ditujukan padanya. Itu kalau menurutku.”

Kala mengangguk paham. “Tapi Persephone bukan satu-satunya yang cantik, kan?” ungkap Kala. “Masih ada Aphrodite di atas mereka semua.”

“Mungkin Demeter mengaku kalah saing dengan Aphrodite, tapi ia tidak akan mengalah begitu saja pada puterinya, kan?”

Kala terkekeh. “Oke-oke, bisa diterima. Kayaknya lo tipe yang suka perpecahan, ya?”

Luna mendengus. “Aku hanya berpikir kritis.”

Kala menepuk kedua tangannya. “Ah, udah lama banget sejak gue mendiskusikan hal-hal kayak gini sama orang yang ngerti. Akhirnya ada juga yang bisa gue ajak omong.”

Luna sedikit penasaran. “Memangnya sebelumnya kamu bicara dengan siapa tentang ini?”

Kala terdiam sejenak. Matanya tampak menerawang sebelum ia menyahut lirih, “Mama gue.”

Luna terdiam, merasa bahwa topik itu mungkin sensitif bagi Kala. Namun Kala justru melanjutkan dengan santai. “Gue belajar mitologi Yunani dari Mama. Dia suka mendongeng sebelum gue tidur. Dengan begitu gue jadi mudah menyerap apa yang dia ceritakan. Pada akhirnya, Mama sukses bikin gue jadi maniak greek myth kayak dia, hahaha.”

Luna masih terdiam melihat lelaki di depannya tertawa ringan. Melihat itu, Kala segera berhenti tertawa. “Ah, gue terlalu banyak ngomong, ya?”

Luna cepat-cepat menggeleng. “Tidak. Sepertinya Mamamu orang yang menyenangkan, ya?”

Kala tersenyum tipis. Ia hanya tidak tahu bahwa Luna menyimpan banyak pertanyaan di benaknya. Rasanya mereka memiliki terlalu banyak kesamaan. Luna juga mengenal mitologi Yunani dari Ibu. Dengan cara yang sama pula seperti Kala mengenalnya, dengan dongeng sebelum tidur. Apa itu wajar disebut sebagai kebetulan?

“Gue masih ada waktu sekitar …” Kala menengok jam tangannya. “Sepuluh menit lagi.”

“Kafe mau tutup?” tanya Luna.

“Oh, enggak. Kami sampai tengah malam,” jawab Kala. “Tapi gue punya permintaan. Gue mau lo bacain ini buat gue. Di sini, sekarang.”

Luna menatap ragu pada Kala yang mendorong buku di atas meja kepadanya. Buku itu berjudul Hera dan Kutukan Tahta Emas. “Kenapa harus aku yang baca?”

Kala mengedikkan bahunya. “Gue nggak pernah denger orang yang bicara bahasa baku kayak lo. Menurut gue itu unik, bukan aneh. Umm, yang aneh adalah gue pengen aja denger lo bacain cerita ini buat gue.”

Luna terdiam sejenak sebelum akhinya mengambil buku itu dan tertawa kecil. Hanya Kala yang bilang cara bicaranya unik. “Karena kamu satu-satunya yang memuji cara bicaraku, akan kubacakan buku ini untukmu sebagai hadiah,” ujarnya.

Kala tersenyum dan menopang dagunya dengan kedua tangan, bersiap mendengarkan dongeng yang akan keluar dari mulut Luna. “Gue siap,” gumamnya.

“Baiklah, ini dia. Hera dan Kutukan Tahta Emas.”

 

16420,©ranmay.