KENAPA PENULIS DAN EDITOR SERING BERANTEM?

KENAPA PENULIS DAN EDITOR SERING BERANTEM?

Keributan antara penulis dan editor adalah hal yang sering terjadi. Keduanya berdebat dengan argumentasinya masing-masing. Biasanya kata sepakat terjadi karena salah satu mengalah. Tapi di dalam hati, pihak yang mengalah tetap saja masih menyimpan rasa dongkol dan menganggap lawan debatnya keras kepala. Sebenernya apa sih yang membuat keduanya berselisih? Saya mencoba mencoba menganalisis fenomena ini.

Ruang imajinasi dan ruang editing.

Dalam proses penulisan, ada dua ruangan yang perlu kita masuki. Yang pertama adalah Ruang Imajinasi. Dan yang kedua adalah Ruang Editing. Kedua ruangan ini sama pentingnya. Jangan pernah kita menyatukan kedua ruang tersebut. Jangan pernah kita memasuki kedua ruangan dalam waktu yang bersamaan. Kedua ruangan itu harus kita masuki satu persatu.

Ruang imajinasi

Yang pertama kali kita masuki adalah ruang imajinasi. Di ruangan ini kita dilarang keras mengedit sebuah tulisan. Biarkan tulisan terpampang seperti apa adanya. Jadi bila kita sudah terlanjur menulis sebuah kata makian yang dilontarkan seorang bapak pada anaknya, “Anjing lu!”, biarkan aja begitu. Jangan diedit. Kenapa demikian?

Di ruang imajinasi, kita sedang memberdayakan imajinasi kita. Kata-kata yang sudah tertulis adalah jejak emosi dari cerita yang sedang kita buat. Setiap kata yang tertulis adalah jembatan emosi yang sedang kita lalui menuju ke imajinasi berikutnya. Kalau kita berhenti lalu mengedit tulisan tersebut, itu sama saja kalian memutus imajinasi yang sedang berjalan. Jadi biarkan semua kata tertulis apa adanya. Teruslah menulis sampai cerita selesai.

Di ruang imajinasi ini kalian harus MENGHAMBA PADA KEBEBASAN. Lupakan kesalahan ejaan, acuhkan soal norma dan aturan, jangan ada nilai-nilai yang mengekang, misalnya kekerasan, pornografi, SARA dll. ABAIKAN SEMUA. Nikmati kebebasan itu, bersenang-senanglah dengan imajinasi yang sedang berjalan. Biarkan imajinasi itu menjadi liar tak terkendali. Biarkan imajinasi itu akhirnya mengambil kontrol atas pikiran dan tangan kita. Ikuti saja kemana dia pergi. Biarkan jemari kalian menari di tuts komputer tanpa kendali.

Ketika sampai di taraf itu, kita merasa ada makhluk lain yang mengambil alih kontrol kita. Makhluk lain itulah kini yang sedang menulis cerita dengan meminjam jemari kita untuk mengetik di komputer. Tapi tidak usah takut. Ikuti saja. Biarkan cerita berjalan sampai akhirnya selesai. Kalo proses ini dijalankan sebebas-bebasnya maka kalian akan terkejut sendiri, “Masak sih ini tulisan gue? Rasanya gak mungkin gue menulis seperti ini.” Sulit dipercaya memang tapi itulah yang selalu terjadi pada saya setiap kali menulis.

Proses menulis memang biasanya begitu terjadinya. Pertama kita berpikir. Setelah itu kita berpikir sambil berimajinasi. Selanjutnya kita berimajinasi masih dalam kontrol kita. Akhirnya imajinasi mengambil kontrol dan bekerja sendiri. Jari-jari kita terus mengetik seolah jemari itu bukan milik kita.

Luar biasa banget! Itu sebabnya ketika teman-teman membaca tulisan kita, mereka gak percaya bahwa itu tulisan kita. Jangankan temen bahkan bisa jadi kita sendiri nyaris gak percaya kita bisa menulis seperti itu. Rasanya seperti ada makhluk lain yang menguasai tubuh kita. Makhluk itulah yang menulis dengan meminjam jari-jari kita.

Ruang Editing

Ketika tulisan sudah rampung, barulah kita memasuki ruang editing. Di tahap ini, kita bisa membaca lagi cerita dari awal dan merevisi semua kata yang rasanya terlalu kasar, atau adegan terlalu porno, atau sesuatu yang tidak logis. Pokoknya di sinilah kesempatan kita untuk mengedit cerita dari awal sampai akhir.

Misalnya soal makian ‘Anjing lu!’ di atas. Kita merasa kok gak pantes banget seorang bapak memaki anaknya dengan kata sekasar itu. Okay, kita bisa menggantinya dengan kata ‘Kurang ajar, kamu!’ atau kalo mau yang lebih halus lagi “Keterlaluan, kamu’. Silakan pilih yang paling cocok secara tone and manner. Yang penting proses editing itu jangan dilakukan di ruang imajinasi.

Ruang imajinasi akan membuat karya kita jadi unexpected karena kita melepaskan imajinasi kita melanglang buana sebebas-bebasnya. Ruang editing akan membuat karya kita menjadi sempurna karena kita meluruskan sesuatu yang tidak wajar atau melanggar norma-norma dan bahasa.

Sampai di penerbit

Ketika naskah buku tersebut rampung, Si Penulis akan mengirimkannya pada penerbit. Jika naskah tersebut lulus seleksi, pihak penerbit akan menunjuk seorang editor untuk mengedit naskah tersebut.

Sang editor akan merevisi tata bahasa, norma-norma seperti apakah ada bagian yang terlalu sadis, terlalu porno, mengandung SARA dan lain-lain. Intinya adalah Sang Editor hanya bekerja di Ruang Editing sesuai dengan tugasnya sebagai editor. Nah di sinilah biasanya perdebatan terjadi antara penulis dan editor.

Penulis merasa terganggu dengan editan Sang Editor. Sayangnya dia sendiri gak ngerti atau gak bisa menjelaskan apa yang menyebabkan tulisannya terganggu. Sementara Sang Editor merasa tidak ada yang berubah dengan naskah buku itu. Dia merasa hanya memperbaiki hal-hal yang seharusnya dia lakukan di ruang editing.

Apa yang sebenernya terjadi adalah Si Penulis merasa alur imajinasinya yang terganggu. Dia juga merasa bahwa setiap kata mempunyai enerjinya sendiri-sendiri. Misalnya Penulis kesal karena kata ‘Bangsat’ yang digunakannya diganti oleh editor menjadi ‘kurang ajar’. Buat Sang editor gak ada bedanya. Dia hanya memperhalus kata makian yang dia rasa tidak pantas digunakan dalam novel tersebut.

Sementara buat penulis, emosi dari kedua kata tersebut sangat berbeda. Itu baru satu kata. Masalah akan timbul ketika editor mengubah kalimat, menghapus adegan porno, memangkas bagian yang sadis bahkan bisa jadi editor juga menyunat beberapa halaman yang dirasa tidak sesuai dengan kebijakan yang dianut oleh peerbitannya.

Siapa yang salah dalam hal ini? Tidak ada yang salah. Yang salah adalah keduanya tidak berbicara dengan bahasa yang sama. Yang satu membahas tulisan dari sudut pandang ruang imajinasi dan yang lain berargumentasi dari sudut pandang ruang editing. Makanya perdebatan keduanya gak pernah mencapai titik temu.

Seorang editor pernah mendebat saya, “Siapa bilang editor gak bicara dari sudut ruang imajinasi?”

Saya cuma tersenyum sebelum menjawab, “Kalo lo bicara dari sudut pandang ruang imajinasi maka lo bukan hanya seorang editor tapi lo  juga seorang imajinator. Hahahahahaha….”