Kenapa Emak-Emak Doyan Drakor?

7 Alasan Emak-Emak Doyan Drakor

Kenapa Emak-Emak Doyan Drakor?
Crash Landing on You

Ini status saya di Facebook 11 Mei lalu. 

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10158266700394347&id=749649346

Saya tanya tentang drakor. Berapa komentarnya? 90! Dan masih terus berjalan. Buat saya komentar 90 itu termasuk banyak sekali. Tapi bukan itu poin utamanya. Apalah arti like & komentar, kalau tidak ditanggapi oleh yang punya status. ????

Dari sini yang saya lihat adalah, bagaimana warganet, terutama emak-emak (karena yang komentar mayoritas emak-emak semua) menyukai drama Korea dengan segala alasannya.

Kalau saya list, alasan-alasannya adalah sebagai berikut:

1. Jalan cerita (alur), yang gak gampang ditebak. Banyak plot twist. Apa yang kita pikirkan tentang prediksi cerita di depannya, ternyata salah. Dan membuat cerita dengan plot twist, tidak mudah.

2. Karakternya serius. Maksudnya, jika ada karakter dokter, kita dibuat percaya bahwa dia itu dokter. Jadi karakternya bukan tempelan, bukan sekadar ada, bukan basa-basi. Bahkan kita merasa dapat ilmu dari menonton karakter itu bermain. Saat si dokter melakukan pembedahan, kita jadi belajar bahwa membedah itu seperti yang ditunjukkan dalam dramanya. Karakternya gak hanya numpang lewat.

3. Durasinya tidak panjang. Sekitar 15-20 episode per judul. Dengan lama tayang 45 menit sampai 1 jam. Bayangkan sinetron drama kita yang bisa beratus-ratus episode. Mendengarnya saja sudah lelah.

4. Pemilihan aktor dan aktris yang sedap dipandang. Ini salah satu magnet juga. Pemeran yang cantik dan ganteng jadi salah satu daya tarik tersendiri. Minimal membuat khayalan bisa gak itu aktor/ aktris jadi pasangan kita? Bolehlah ikut bermimpi.

5. Latar tempat juga jadi alasan warganet untuk membuat drakor ini menjadi menarik. Karena alamnya baru. Musimnya berbeda. Cuaca tidak seperti di Indonesia. Hal-hal baru di depan mata itu jadi daya tarik dengan harapan: mudah-mudahan bisa ke sana, dan bertemu Oppa.

6. Musik. Ternyata musik latar juga jadi alasan. Memang berbeda jauh dengan musik campursarinya Didi Kempot. Tapi musik Korea punya penikmat khusus. Dan penikmat itu bisa bertambah gara-gara dramanya.

7. Tema. Tidak melulu percintaan, apalagi perebutan harta. Ada juga fantasy dan thriller. Dan tentu komedi. Saya sedang mengikuti "Welcome to Waikiki". Setiap episode dibuat terpingkal. Dan setiap babak ada saja hal baru, yang membuat kita berkata: Oh, si anu ternyata punya keanehan itu! Si anu punya kebiasaan lain! Dan lainnya.

Di luar ketujuh alasan di atas, sebenarnya ada "misi" dari drakor: Koreanisasi.

Mereka menjual cerita, menjual drama, menjual perilaku (habit, behavior). Coba perhatikan, di dalam kisahnya, diperkenalkan Ramen, sebagai ciri khas makanan asal Korea. Selain itu, kita juga jadi kenal Kimchi.

Siapa yang jadi ingin berkunjung ke Korea? Bagian Selatan ya. Kalau ke Utara, gak usah ajak-ajak. Di serial dramanya, banyak tempat-tempat, lokasi shoting, yang membuat kita jadi ingin ke sana (poin 5).

Korea juga membanjiri negara ini dengan K-Pop. Mereka memperkenalkan budayanya. 

Benang merah dari semua itu adalah: Country Branding.

Perilaku, makanan, bahasa, budaya, semua menjadi satu kesatuan dalam mem-branding negara Korea.

Seperti seolah-olah pemimpin negara, pelaku seni, pegiat kuliner, bersatu untuk mengenalkan "Ini Korea!" kepada dunia.

Dan, berhasil.

Bagaimana dengan kita?
Indonesia?
Warga 62?