KEMBALIKAN PELIHARAANKU!

KEMBALIKAN PELIHARAANKU!
Bulan Merah di Parigi Moutong- dok. Retni Cindra Gusti

“Aku benci manusia berkaki dua!...”

“Kembalikan hartaku…huhuhu… hanya itu satu- satunya yang kupunya…mereka tega mengambilnya….huhuhuhu”

Tangisan Nila begitu pilu karena kehilangan peliharaan kesayangan yang sudah dianggapnya seperti saudara. Nila adalah salah satu putri duyung yang mendiami Kerajaan Bawah Laut Indonesia. Tepatnya dia tinggal dasar lautan Parigi Moutong. Daerah pulau di Indonesia yang memiliki bentuk seperti huruf K raksasa. Sambil menangis Nila terus membayangkan hari- hari yang dilaluinya bersama Ryola. Ryola kesayangannya pergi untuk selamanya.

Ryola makhluk ikan raksasa berwarna abu- abu yang dihiasi berbagai totol dan garis putih tipis di punggungnya. Ikan paus yang mulutnya sangat lebar seakan dapat menghisap apa saja yang lewat di depannya. Ikan raksasa yang panjangnya kira- kira 7 kali panjang tubuhnya. Yang pasti lebarnya melebihi panjang tubuhnya. Ikan yang hanya makan binatang- binatang kecil atau plankton yang besarnya jutaan kali lebih kecil dari besar tubuhnya sendiri. Ryola ikan raksasa yang begitu megah, cantik dan mempesona. Hanya dengan kehadirannya ia seakan siap memukau dan menenangkan jiwa bagi siapa saja yang melihatnya. Siripnya menyembul dikala sedang berenang di permukaan. Mungkin karena itu manusia kerap memanggilnya Hius Paus atau Whale Shark.

Nila kembali membayangkan hiu paus peliharaannya yang senantiasa menemaninya saat mereka sedang mendapat tugas menanam terumbu karang, menjelajah daerah- daerah baru bahkan melindunginya dari mangsa para predator yang tinggal dalam perairan yang sama.

Nila tetap tidak terima. Ia sama sekali tidak mengerti dengan kegiatan yang dilakukan oleh makluk- makhluk yang bernama manusia.

“ Mengapa mereka harus membuang berbagai jenis sampah ke laut?”

“ Bukankah nenek moyang mereka adalah pelaut?”

“ Bukankah sumber makanan manusia banyak berasal dari laut?”

Pertanyaan- pertanyan itu datang silih berganti di kepala Nila. Manusia menurut opa Toar adalah makluk sekaligus saudara dari semua makluk duyung yang tinggal di perairan Indonesia. Si putri duyung terus menangis tersedu- sedu. Kesedihannya tetap tidak bisa menutupi parasnya yang cantik dan berkulit putih mulus licin seperti kulit ikan duyung. Matanya yang berwarna coklat muda tak henti- hentinya mengeluarkan air mata. Air matanya nampak seperti mutiara- mutiara yang berjatuhan perlahan satu demi satu. Air matanya sungguh nampak seperti hamparan bola- bola mutiara berwarna hitam pekat namun bersamaan juga memantulkan cahaya keemasan.

Sambil menangis rambut panjangnya yang hitam berombak seakan mengikuti tubuh dan kepalanya kemanapun Nila berenang. Duyungnya berenang membuat putaran- putaran kecil dan besar pertanda dirinya sedang berada dalam emosi jiwa yang tak kuasa dikendalikannya. Sementara kedua tangannya tetap berada di ujung masing- masing matanya, seakan siap menyapu ribuan tetesan air mata bak mutiara yang berhamburan dan raib entah kemana.

Ryola diberikan kepada Nila oleh opa Toar saat dia berumur 12 tahun. Ada ketentuan di Kerajaan Bawah Laut Indonesia bahwa setiap putra- putri duyung  diperkenankan untuk memelihara satu jenis ikan endemik yang berada di wilayah yang mereka diami. Namun dengan syarat bahwa putra dan putri duyung sudah menyelesaikan ilmu pengetahuan dasar tentang kelautan dan sudah berumur genap dua belas tahun. Nila begitu bahagia ketika dinyatakan lulus dan diperbolehkan untuk memelihara Ryola. Penentuan ikan apa yang akan jadi peliharaan berada di tangan opa Toar.

Hari itu Nila menjadi putri duyung yang paling bahagia sedunia.

Arus air laut yang bergantian hangat dan dingin seakan menyatu dengan kulit Nila seiring dengan pergerakan tubuhnya yang bebas berenang di rumah bawah laut itu. Tujuh tahun bersama Ryola melewati tempat- tempat yang belum pernah dikunjungi Nila sebelumnya. Opa Toar sering mengulang cerita mengenai manusia berkaki dua yang mendiami daratan adalah saudara dari setiap manusia duyung yang berada di kerajaan bawah. Setiap manusia yang mendatangi wilayah mereka harus selalu dilindungi. Opa Toar juga tidak ketinggalan bercerita bagaimana para duyung dan binatang peliharaan mereka sering membantu mengangkat manusia yang tidak sengaja terjatuh ke laut. Sekuat tenaga mereka akan berenang dan menggiringnya ke tepian pantai. Manusia berkaki dua memang tidak dapat melihat para manusia duyung yang tinggal di di lautan, kecuali manusia yang memang diberikan kelebihan khusus dari Yang Maha Kuasa.

Nila masih meratapi kepergian binatang peliharaanya, seakan tidak percaya bahwa Ryola telah pergi untuk selamanya. Rossa sedang mencari Nila ketika tidak sengaja mendengar tangisan pilu di balik dinding raksasa bawah laut itu. Setelah mencari celah akhirnya Rossa berhasil menemukan Nila yang menangis tersedu- sedu sambil meliukkan duyungnya berputar seperti sebuah komedi putar raksasa.

“Nila, apa yang terjadi?” suara tangisanmu kudengar dari jauh. Rossa bertanya dengan penuh harap cemas, tidak pernah dia melihat raut muka temannya itu begitu sedih dan dan bermuram durja.

“Aku benci manusia berkaki dua, kenapa mereka mengambil Ryola dariku? Huhuhuhu….huhuhu!” tadi pagi ketika hendak mencari Ryola untuk mengajaknya menanam coral..aku tidak berhasil menemukannya. Mencoba berenang ke bagian timur, utara, barat dan selatan tapi Ryola tetap tidak terlihat mata...”, suara Nila masih terisak- isak, sehingga ceritanya terdengar belum selesai.

Rossa mencoba memeluk temannya dan mengisyaratkan agar temannya bisa tenang dan tidak berenang berputar- putar agar bisa menjelaskan ceritanya lebih lanjut.

“Ryola mati…aku melihatnya berada di pinggir pantai sebelah timur Rossa.”

“Manusia berkaki dua bergerombol mengelilinginya. Semakin lama semakin banyak dan bahkan aku mendengar penyebabnya karena Ryola terlalu banyak mengkonsumsi sampah plastik. Ryola pasti tidak sengaja menyedot plastik sampah yang dia temukan selama ini Rossa….”

“Huhuhuhu…., tangisan Nila dan derai air mata bak mutiara kembali berjatuhan dari matanya yang besar dan sayu.

Rossa terdiam seribu bahasa, walau tidak merasakan hal yang sama namun ia mencoba memahami kesedihan yang dirasakannya. Iapun menggerakkan duyungnya supaya bisa bersentuhan dengan duyung Nila.

Tiba- tiba sepupu Rossa muncul dari balik dinding terumbu karang. Goni salah satu putra duyung yang mendiami kerajaan di bawah Pulau Celebes berenang dengan cepat dan berapi- api seolah tidak sabar untuk segera mengabarkan sepupunya atas apa yang baru saja disaksikannya. “Tadi Oley dan aku melihat Ryola tergeletak di pinggir pantai. Manusia berkaki dua datang menghampirinya. Lalu ketika membalikkan tubuhnya dan memotong perut…”.

“Cukuuuup…”, Nila seakan- akan tidak terima binatang peliharaannya dipotong- potong. Kehilangan Ryola sudah sangat berat untuk bisa ditoleransi saat ini. Bayangan hiu paus itu datang lagi menghampiri, kali ini sangat jelas, sejelas air laut yang bening dan teduh.

Ryola paling senang jika mendengar Nila menyanyi setelah kegiatan menanam terumbu karang selesai dilakukan. Menyanyi membuat terumbu karang hidup lebih subur. Ryola akan setia menemaninya, tubuhnya yang panjang seakan berdansa mengikuti irama suaranya.

Goni sangat menyukai Ryola si hius paus menawan hati itu, beberapa kali Goni minta ikut bersama Nila saat mereka akan menjelajah tempat baru untuk menanam terumbu. Dengan penuh iba Goni mencoba menawarkan dukungannya untuk menenangkan hati  saudaranya itu,

 “Sepupuku yang cantik, mulai sekarang akan kuhalau para nelayan saat mereka mencoba menangkap ikan. Nanti kukerahkan teman- teman duyung lainnya. Biar manusia berkaki dua sadar dan tidak perlu lagi mengkonsumsi ikan dari kerajaan kita.”

“Lagipula apa yang mereka berikan kepada kita?, setiap hari sampah dari dunia mereka bertambah dan terus bertambah. Capek harus mengikuti aturan dari opa Toar untuk membuang sampah- sampah mereka ke lubang pembuangan.”

“Selain membuang sampah, manusia berkaki dua dapat seenaknya membuat bahan peledak, jaring kawat yang menyebabkan ikan peliharaan kita terluka. Terumbu karang yang ditanam dari generasi turun temurun sejak ribuan tahun lalu lama- lama habis karena ulah mereka”. Dari nada dan mukanya yang memerah bahkan dari gerakan renangnya, Goni merasa manusia berkaki dua tidak ikut merasa bertanggung jawab dengan kehidupan bawah laut.

Rossa yang ikut sedih berusaha membela manusia berkaki dua,

 “Tidak semua manusia berkaki dua punya sikap seperti itu Goni”.

 “Manusia ada juga yang baik dan tidak buang sampah, ada juga yang justru mengumpulkan sampah di dalam laut”.       

“ Kuamati juga para penyelam yang mengambil foto untuk mereka mengadakan penilitian tentang berbagai jenis makhluk laut yang ada di kerajaan kita”.

“ Apa kalian lupa tentang nasehat opa Toar bahwa hidup kita tergantung sama manusia di Kerajaan Daratan?”

Rossa selalu ingat akan pesan- pesan opa  itu. ”Gimana kalau nanti kita tanya pendapat opa Toar untuk mencari pengganti Ryola?”, seakan- akan berharap kesedihan Nila temannya yang sedang dirundung duka mendalam bisa segera berakhir.

“Aku gak mau hiu paus yang lain!, aku cuma mau Ryola….kembalikan Ryolakuuuuu!”

Malam itu di atas lautan bagian tengah pulau Sulawesi, bulan berwarna merah dan kemilau dan bayangannya menghampar kemerah- merahan di atas langit dan bawah laut. Seakan- akan ikut berduka atas kepergian Ryola selamanya dari daerah Parigi Moutong, Kerajaan Bawah Laut Indonesia.

 

~ Sebuah karya penulisan yang terinspirasi dan tercipta setelah mengikuti kelas The Writers Batch 3 bersama Om Budiman Hakim dan Kang Asep Herna~

 

Balikpapan, 22 Oktober 2019