KEKUATAN DOA

KEKUATAN DOA
Sumber gambar: bogor.tribunnews.com

Aku nggak tahu pasti, seperti apa orang-orang yang akan dipilih untuk dapat hidayah-Nya.
Yang aku tau pasti, Bapakku salah satu di antara yang beruntung mendapat hidayah itu.
Bapak dilahirkan di tengah keluarga Tionghoa, tepatnya dari marga Ong. Konon, marga ini adalah marga Tionghoa terbesar di daratan Cina. Sejak menikah dengan Ibu yang asli Jawa, Bapak yang awalnya non muslim, resmi muallaf dan menganut ajaran Islam.

Aku masih ingat, waktu kecil aku bertanya kenapa beliau nggak pernah sholat, nggak pernah puasa (Ramadhan) bahkan sekedar Jum'atan atau sholat Id yang hanya setaun sekali.
Jawabnya,"Wes gak perlu ngono, sing penting berbuat apik terus, percoyo marang Kuoso." (Nggak perlu seperti itu, yang penting selalu berbuat baik, percaya sama Yang Kuasa).
Waktu itu, aku hanya mendengarkan jawaban Bapak, tanpa mampu menjelaskan.

Seiring anak-anak yang bertambah umur, Ibu punya teman buat ngajak dan njelasin ke Bapak tentang kewajiban melakukan rukun Islam dan gimana hukumnya.
Tapi Bapak bergeming. Semua penjelasan seperti masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Kadang beliau malah membantah alasan kami. Begitu seterusnya sampai kami beranjak remaja.
Aku sering merasa malu, apalagi mendengar beberapa mulut usil beraksi. "Mosok anake rajin sholat, kok bapake gak." (masak anaknya rajin sholat, bapaknya enggak). Ada juga yang terang-terangan di depanku bilang, agama Bapak itu Islam KTP. Setelah bilang gitu, dia nyengir dengan ekspresi ngeselin poll.

"Duh Gusti, semoga Bapak Engkau bukakan hatinya untuk melaksanakan peritah-Mu."
Doa itu kemudian rutin kuselipkan di setiap sujudku. Aku percaya, doa baik anak buat orang tuanya insyaallah akan dikabulkan. Beberapa tahun kemudian, satu siang kami semua terkejut. Tiba-tiba Bapak minta kakak buat ngajarin cara sholat. Tentu saja kami penasaran dengan perubahan sikap beliau. Bapak cerita, akir-akir ini dia mimpi berada di antara orang banyak, orang-orang itu memakai baju putih dan mengerjakan sholat. Dan itu mimpinya lebih dari satu kali. 


Sejak siang itu, Bapak rajin mengerjakan sholat. Aku suka dengan semangat belajar Bapak. Mulai dari jadi makmum kakak ketika sholat, belajar bacaan-bacaan sholat sampai surat-surat pendek.
Anehnya, mungkin malu, Bapak nggak pernah mau sholat jama'ah di langgar dekat rumah atau Jum'atan atau sholat Id di masjid. Dari ajakan sholat, kini ganti ajakan sholat jama'ah di musholla atau masjid. Namun, seperti awal, Bapak bergeming dan bilang lebih nyaman sholat di rumah.
Waktu itu aku hanya 'mbatin' dan yakin,"Sudahlah, nggak usah dipaksa. terus didoakan aja, insyaallah terkabul nanti."

Hampir satu tahun, sampai kemudian seorang tetangga sekaligus teman ngobrol Bapak sehari-harinya meninggal dunia. Beliau ini adalah salah satu pengurus langgar dekat rumah. Sebut saja namanya Pak Irwan. Bapak cerita, beberapa hari sebelumnya, Pak Irwan bilang, kalo Bapak nanti akan menggantikan dia sebagai pengurus langgar. Entah itu firasat atau apa. Bapak nggak tahu apa maksud ucapan Pak Irwan.
"Yo iku jenenge amanah teko Pak Irwan. Amanahe wong sedo iku kudu dilakokno,"ucap Ibu.
(Ya itu amanahnya Pak Irwan. Dan amanahnya orang yang meninggal itu harus dilakukan)
Bapak hanya terdiam, nggak tau apa yang ada di pikiran beliau.

Sekitar 2 bulan setelah itu, satu sore Bapak memakai baju koko, sarung, lengkap dengan peci. Membuka pintu pagar dan berjalan menuju langgar. Tentu saja kami 'bungah' melihatnya. Matursuwon Gusti, untuk kesekian kali doa kami terjawab. Kini, sudah berpuluh-puluh tahun Bapak jadi pengurus langgar. Sholat jama'ah 5 waktu nggak pernah telat. Satu jam sebelumnya selalu sudah pergi ke langgar atau masjid. Saat sholat Jum'at, sholat Id, bahkan saat Subuh. Di saat semua masih terlelap dan berbalut selimut, Bapak sudah meniti jalanan menuju langgar kampung. Setiap Ramadhan, saat usianya sudah semakin 'sepuh', Bapak nggak pernah telat sehari pun buat puasa dan tarawih. Selain rukun wajib, tak jarang ibadah sunnah juga dilakukan.
Alhamdulillah.

Aku nggak tahu pasti, seperti apa orang-orang yang akan dipilih untuk dapat hidayah-Nya.
Yang aku tau pasti, bukan hanya pengetahuan saja yang akan menuntun seseorang menemukan hidayah atau petunjuk-Nya. Tapi juga kekuatan doa. Baik dari sang penemu hidayah sendiri, atau doa orang lain yang ditujukan untuknya.

Wa qaala rabbukumud'uuniii astajib lakum
-Dan Tuhanmu berfirman,"Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untukmu-

(Aamiin..aamiin ya rabbal 'alamiin)