Ke Dalam Badui Dalam

Catatan Perjalanan ke Badui Dalam. Melawan Covid 19 ala suku Badui Dalam.

Ke Dalam Badui Dalam
Jalan menuju Badui Dalam

Rencana perjalanan ke Badui Dalam sudah kami siapkan jauh-jauh hari. Awalnya semangat ke Badui karena salah satu teman kami memamerkan foto dia dan beberapa saudaranya menikmati duren yang menggiurkan, di kampung badui luar. Duren-duren yang berukuran besar di pamerin di laman WA grup kami. Mendadak semua ngiler. Semuanya jadi ingin menikmati duren di Badui. Teman kami ini, orang tuanya tinggalnya di Lebak, Rangkas Bitung. Rumahnya tidak terlalu jauh dari perkampungan Badui. Mungkin sekitar 1,5 jam-an. Dia juga sudah paham benar, kapan musim duren tiba di Badui. Duren Badui katanya memang terkenal. Karena ketertarikan dengan Duren inilah awal dari petualangan kami ke perkampungan Badui Dalam.

 

Pagi-pagi kami sudah kumpul di stasiun kereta di Pondok Ranji, daerah Bintaro. Masing-masing dengan tas ransel dipundaknya. Kami rencananya memang akan menginap semalam di Badui Dalam. Jadi bekal yang kami bawa tidak terlalu banyak. Memang sudah diingatkan untuk tidak bawa bekal banyak. Karena porter cuma ada satu. Itupun tugasnya membawa logistik kita (makanan, beras, lauk dan lain-lain). Dari Stasiun Pondok Ranji kami akan menuju stasiun Rangkas Bitung. Tiketnya cuma 7.000 rupiah. Tanpa menunggu lama, kereta pun tiba (tiap setengah jam kereta datang). Kami berdelapan memasuki gerbong. Keretanya bersih. KRL sekarang memang bersih. Kursinya juga empuk. AC nya sejuk dan nyaman. Perjalanan kereta kurang lebih dua jam.

 

Sekitar jam sembilan, kami tiba di stasiun Rangkas Bitung. Stasiun nya cukup ramai. Apalagi ini memang akhir pekan, hari Sabtu. Mungkin banyak yang bepergian. Kebetulan juga ternyata kita berbarengan dengan rombongan pesepeda lipat, yang akan turing ke perkampungan Badui. Kami keluar dari stasiun, mencari mobil jemputan. Tapi oleh pak Rachman, teman kami yang berperan sebagai ketua rombongan sekaligus penggagas acara, kita disuruh sarapan dulu. Memang tadi kita berangkat belum sarapan, maklum jam 5.40 kita sudah keluar rumah. Layaknya tour leader (dadakan), pak Rachman memandu kita ke sebuah warung di pintu keluar stasiun. Dipinggir jalan menjelang pasar Rangkas Bitung, ada sebuah tenda, warung kios berukuran sedang, dipinggir jalan, yang cukup ramai. Warung Kak Oyo. Makanannya khas Rangkas. Ada beberapa menu disini. Yang khas, daging gepuk, dan teman-temannya. Semacam nasi campur/rames. Isinya Nasi putih, daging gepuk, yang berwarna hitam, mie soun kecap, perkedel kentang, tempe goreng dan sambal yang menantang. Lalapan terhidang di meja berlimpah, tinggal ambil sendiri. Bebas, sesukanya. Warung ini sepertinya salah satu yang banyak dikunjungi pembeli. Pengunjung nya mengalir terus. Ada yang masuk, ada yang keluar. Ada yang makan di tempat ada pula yang dibawa pulang. Masakan yang sederhana ini ternyata memang lezat. Mantapnya kebangetan. Tak lama semua nya tandas melahap hidangan pak Oyo. Semuanya terlihat puas. Paling tidak ini buat nambah tenaga, untuk perjalanan panjang nanti, ke Badui.

 

Kami serombongan mencarter mobil Elf, yang biasa jadi angkutan umum warga Rangkas. Mobil melaju menuju terminal Ciboleger, terminal terdekat dari perkampungan Badui. Hari sudah siang. Cuaca cukup panas. Mobil melaju di jalanan kabupaten yang cukup mulus. Dari dalam mobil kami melihat ada beberapa pesepeda lipat, mungkin beberapa robongan yang tadi ketemu di stasiun,  yang mengayuh sepeda. Jalannya naik turun. Kebayang betapa berat kalau naik sepeda. Sebagian dari kami memang ada yang goweser sekaligus pendaki gunung. Beberapa kali kami gowes di Puncak, Lembang, Sentul, BSD, Sawangan, Bogor dan beberapa tempat lainnya. Sebenarnya kita kalau gowes tidak terlalu ngotot. Nggak mau maksain tepatnya. Maklum usia kami memang 45 an sampai 50 an. Cuma seneng-seneng dan serunya aja yang kita cari. Makanya ketika kita melihat ada goweser menanjak di tanjakan yang panjang, kita bisa ngebayangin beban beratnya.

 

Mobil Elf terus melaju. Pemandangannya sesekali sawah-sawah, dan rumah-rumah, silih berganti. Hari sudah makin terik. Mobil Elf yang kita carter memang gak pake AC. Di Rangkas hampir susah menemui Elf yang ber AC. sebenarnya kita juga maunya naik Elf yang ber AC. Tapi apa daya, adanyan non AC, ya terima ajalah. Yang penting jalan. Kecuali memang charter nya dari kota lain. Atau bawa dari Jakarta. Tapi kami tidak masalah. Angin yang bertiup dari luar sudah cukup buat kami. Satu setengah jam perjalanan, tibalah kami di terminal Ciboleger. Terminal yang paling dekat dengan Badui luar. Kami turun di parkiran besar, dekat dengan perkampungan Badui Luar. Banyak mobil pribadi yang parkir disini. Mungkin mereka hanya sekedar piknik beberapa jam. Atau bisa jadi mereka menginap. Yang jelas, banyak jenis mobil yang parkir disini. Mobil pribadi dan mobil-mobil angkutan umum bercampur di parkiran.

 

Kami mencari tour leader lokal yang sudah kita pesan lewat telpon, beberapa hari sebelumnya. Kita janjian ketemu di gerbang kampung badui. Tak lama muncullah anak badui, dengan kostum khas badui, baju kain belacu hitam, dengan model yang sangat sederhana, dan ikat kepala kain putih. Dia didampingi seorang lelaki dengan baju biasa layaknya orang kota. Dialah perantaranya, namanya Emen. Orang badui dalam tidak bisa (susah) berkomunikasi dengan dunia luar. Jadi dia biasanya butuh perantara (makelar), yang berperan menjadi marketing nya. Orang badui luar yang biasanya berhubungan dengan wisatawan lokal. Orang badui dalam tidak diperbolehkan menggunakan handphone di kampungnya. Kecuali bila dia sudah sampai di Badui luar. Ini karena, satu,  di Badui dalam gak ada sinyal sama sekali. Dua, juga karena aturan adat setempat. Mereka boleh memiliki, tapi tidak boleh menggunakannya di Badui dalam. Orang badui dalam tidak banyak bicara. Hanya senyum sedikit. Dia memperkenalkan dirinya. Namanya Aldi. Wih namanya ternyata modern, untuk ukuran Badui Dalam. Kebalikan sama orang Badui luar, yang namanya Emen. Sangat Sunda.

 

Emen membawa kami memasuki perkampungan badui luar. Setelah sampai di kampung Kaduk (Kampung Durian), Emen memisahkan diri. Selanjutnya perjalanan di pandu oleh Aldi, tour leader asli Badui Dalam. Aldi tidak banyak ngomong kecuali kita nanya. Bukan model tour leader seperti di travel-travel pada umumnya yang banyak memberi informasi ke peserta tournya. Jadi memang kita yang harus aktif bertanya. Menuju Badui dalam kita harus melalui Badui luar. Jalan kampungnya berbatu, kadang juga tanah. Jalan nya naik turun, kiri kanannya rumah tradisional Badui. Biasanya berdinding kayu, beratap ijuk atau genteng. Rata-rata rumahnya panggung setinggi paha atau pinggang orang dewasa. Di bawahnya biasa buat bermain-main ayam dan anak-anak ayam. Mereka banyak yang berjualan. Ada yang jualan souvenir atau oleh-oleh khas badui. Beberapa dari mereka juga ada yang pengrajin kain tenun.  Pengrajinnya rata-rata wanita. Ada yang remaja, ada pula yang sudah nenek-nenek.

Perjalanan yang panjang. Sudah berapa jembatan bambu kita lewati. Infrastruktur di Badui Luar cukup rapi meski sederhana. Banyak batu-batu kali yang disusun sebagai dinding atau  jalanan. Tiap kampung terdiri dari beberapa rumah. Dan tiap kampung, (mungkin RW) punya lumbung padi yang letaknya tersendiri. Kita sempat melewati lumbung padi yang kalau dalam Bahasa mereka menyebutnya, leuit. Pastilah ini Bahasa Sunda atau Bahasa Badui. Soal ketahanan pangan sepertinya mereka cukup terjamin. Lumbung-lumbung padi ini, berbentuk rumah panggung yang tingginya lebih dari 2 - 3 meter.

 

Setelah berjalan cukup panjang, sampailah kita di Gajeboh. Kampung dengan pemisah jembatan bambu yang cukup besar. Disinilah para wisatawan, traveler biasanya istirahat. Orang bisa bebersih di sungai. Makan siang buat yang bawa bekal. Tapi jangan khawatir disini banyak pedagang makanan, souvenir, oleh-oleh dan lain-lain. Sebagian dari kami ada yang sholat dhuhur (karena sudah jam 2 lewat), ada pula yang pilih makan siang dulu. Karena sebagaian dari teman kami memang perutnya punya tuntutan lebih. Setelah puas istirahat dan foto-fotoan perjalanan dilanjutkan.

 

Perjalanan melewati tanjakan, turunan, menyebrangi jembatan sungai, terus silih berganti. Hingga kita tiba di sebuah jembatan bambu, yang tidak bernama, yang menandakan perbatasan badui luar dan badui dalam. Mulai dari titik itu, handphone, kamera dilarang digunakan. Sudah aturan adat. Dan semua orang tanpa kecuali harus taat. Takutnya kalau dilanggar akan kualat. Kami mengira perjalanan menuju badui dalam sudah dekat. Wooww ternyata, masih jauh. Masih menanjak, menurun, menanjak lagi. Bikin kita frustasi, karena gak sampai-sampai. Beda dengan mendaki gunung. Yang biasanya jalurnya menanjak tapi landai dan biasanya cuacanya sejuk. Tapi di Badui dalam sudah banyak tanjakan cuacanya gak sejuk. Jadi cukup menguras stamina.

 

Untung ada hiburan yang menyenangkan. Di tengah jalan kita bertemu anak kecil yang memikul durian yang baru dipetik dari hutan. Lewat perantara Aldi, kami membeli durian itu. Jadi kita ramai-ramai menyantap durian. Manis dan tebal. Enaknya melebihi durian Medan atau montong. Mungkin kombinasi keduanya. Entah karena kita sedang kelaparan dan kelelahan, rasa durian itu jadi yang terbaik.  Stamina kembali pulih.

 

Akhirnya kita tiba di perkampungan Badui Dalam. Letaknya di lembah. Di pinggirnya sungai mengalir. Sayang kita gak bisa foto. Perkampungan rumah panggung dengan bangunan kayu, mirip bangunan di badui luar. Suasananya tenang. Ayam-ayam berkeliaran. Kami menginap di rumah Aldi. Hari sudah jelang sore. Sekitar jam 5. Kami ber delapan memasuki rumah Aldi. Istri dan 2 anak Aldi menyambut dengan biasa. Mereka malu-malu menerima tamu. Rumahnya agak gelap. Karena memang minim ventilasi. Kami bebersih di sungai. Mandi dan gosok gigi. Mandi dilarang pakai sabun. Gosok gigi dilarang pakai pasta gigi. Yah, terima aja apa adanya. Sesekali menikmati gaya hidup Badui dalam.

 

Malam hari, penerangan hanya seperlunya. Menggunakan lampu minyak kelapa. Kami makan malam dengan cahaya temaram. Masakan sudah kita siapkan saat kita masih di Rangkas Bitung tadi. Aldi hanya tinggal menghangatkan dan memasak nasi. Oh ya mereka itu memang sepertinya tidak pandai memasak atau mengolah masakan. Terbukti ketika membuat telor dadar, agak aneh jadinya. Mungkin karena rasanya agak tawar. Atau karena mereka tidak banyak menggunakan garam apalagi mecin. Bentuknya telor dadarnya mirip scramble tapi dengan gumpalan lebih besar-besar. Sekali lagi kita terima aja. Menikmati apa yang dihidangkan. Enaknya kalau lapar dan kecapekan, semua makanan jadi enak. Tempat minum orang Badui dalam dari potongan bambu. Mereka mengumpulkan air dari sungai di wadah bambu sepanjang kurang lebih 1 meter. Air-air itu diletakkan di depan rumah. Air untuk keperluan memasak dan minum mereka. Sungai mereka nyaris tidak tercemar bahan-bahan plastik, deterjen atau bahan kimia sejenis.  Kami mandi buang hajat besar di sungai yang sama. Hanya untuk buang hajat besar di bedakan tempatnya dari tempat mandi. Disini memang dilarang jijik. Khusus buat cewek ada tempat tersendiri untuk mandinya. Tempatnya agak tersembunyi.

 

Malam itu kita tidur di ruang keluarga (tamu). Lantai nya dari bambu. Beralaskan tikar pandan dan berbantal karung plastik bekas beras yang entah isinya apa. Bukan kain perca, mirip daun-daunan atau sabut kelapa mungkin. Ruangan hampir gelap gulita, untung kita bawa lampu kemping ukuran kecil. Cukup memberi cahaya temaram, di ruangan kita. Supaya gak buta-buta amat, kalau pas malam-malam ke bangun. Tapi kelelahan membuat kami tertidur nyenyak hingga subuh.

 

Orang-orang Badui Dalam terbiasa jalan kaki. Dari orang tua maupun anak-anak. Buat mereka jalan kaki tujuh kilometer dengan medan naik turun bukit adalah hal biasa. Anehnya, eh bukan, bagusnya mereka keringatnya gak beraroma (bau). Anehnya mereka biarpun jalan berkilo-kilo gak ada napas ngos-ngosan. Mereka terlatih jalan kaki sejak usia 3 tahun. Anak nya Aldi tiap hari ke ladang bersama ibunya. Tiap kepala keluarga di badui Dalam punya ladang masing-masing. Setiap hari mereka berladang. Istri Aldi menggendong bayinya yang masih usia 1 tahun. Kakaknya yang 3 tahun jalan di samping ibunya. Mereka jalan kaki naik turun bukit, di jalan berbatu, tanah, rumput mereka jalani dengan biasa saja. Kebetulan kita berbarengan dengan mereka ketika kita arah pulang. Anak Aldi yang masih 3 tahun jalan dengan riang menemani ibunya. Ini yang namanya jalani hidup ala Badui Dalam.

 

Orang Badui Dalam, sederhana gaya hidupnya. Setiap hari berladang. Cari bekal buat makan dari alam. Entah itu buah, umbi-umbian, beras, kelapa dan lain-lain. Mereka mengelola ladang mereka sendiri. Mereka menjalani hidup dengan santai. Gak ada yang tergesa-gesa. Semua mengikuti ritme alam. Mereka benar-benar menikmati hidup. Bahkan hidup sehat. Setiap hari olah raga. Minimal 1 jam jalan kaki. Cuma mereka gak butuh jersey yang aneh-aneh. Bajunya ya baju sederhana, kain belacu hitam atau putih, dengan ikat kepala kain. Napas mereka bagus. Kesehatan mereka bugar. Makanya gak salah jika Covid 19 gak sempat mampir di kampung Badui. Mungkin Covid 19 sempat datang oleh pendatang. Tapi Covid 19 gak sanggup menantang para kaum Badui Dalam yang staminanya garang.

 

(Catatan perjalanan ke Badui Dalam sebelum Covid 19 datang. Tepatnya awal Februari 2020).

 

Depok, 17 maret 2021.