Kau yang Hadir Kembali

Kau yang Hadir Kembali

 

Semesta telah membuat hatiku berhenti di kamu.

Bagaimana kamu.

Apapun tentangmu.

Tak pernah membuatku mundur selangkahpun.

Memintamu mengerti bahwa kita merasakan hal yang sama.

*****

Rinai hujan tak membuat wanita itu bergeming. Ia tetap duduk di kursi taman yang terbuat dari besi tempa itu.

Dingin hujan, dan juga dingin besi kursi taman tak membuatnya beranjak dari taman kota tua itu.

Tangannya sesekali mengusap wajahnya yang terkena tetesan air hujan. Petir yang tiba-tiba menggelegar di langit juga tidak membuatnya bergeming. Pedagang kaki lima di sekitar taman kota sudah sebagian pergi, pulang karena lebatnya hujan membuat pesimis ada rejeki untuk mereka hari ini.

Wanita itu tetap duduk menunggu seseorang yang belum juga datang. Mungkinkah hujan lebat yang membuatnya ingkar pada janji? Atau juga karena suatu hal lain yang membuatnya tidak bisa datang ke taman kota tua hari ini?

"Gila ... kamu gila, kenapa tetap di sini padahal hujan?" 

"Kita janji berjumpa di sini kan?" sahutnya dengan bibir bergetar kedinginan.

"Goblok! Bukan begini caranya. Ayo pulang, kita bicara di rumah," sahut lelaki itu di bawah guyuran hujan menggandeng wanita itu pergi.

"Ini minum, kopi tanpa gula. Sorry, gulaku habis." Ia menyodorkan segelas kopi pada wanita itu.

"Makasih," balasnya singkat lalu menyeruput kopi panas pahit itu, berharap bisa menghangatkan tubuhnya.

"Kamu gak bisa pergi dari rumah, aku belum siap menikah. Kamu tahu kan, aku masih belum mapan? Dan kamu masih kuliah," ujar lelaki yang duduk di hadapannya itu.

"Tapi aku hamil," ujar wanita itu dengan suara pelan.

"Kita cari cara lain, jangan konyol. Mana bisa kita hidup hanya dengan modal cinta! Anak itu pasti perlu biaya. Ayolah, jangan bodoh!" tukasnya penuh emosi.

"Tapi aku hamil, dan ini anakmu! Aku tak tahu lagi harus bagaimana," balas wanita itu sambil terisak.

"Kita gugurkan saja, lalu kamu bisa kuliah lagi, aku akan mencari pekerjaan dan kemudian kita menikah?" Dengan suara lembut ia berusaha membujuk wanita di hadapannya.

Mendengar ucapan lelaki yang sampai tadi masih diyakininya sebagai lelaki baik, lelaki bertangung jawab dan lelaki yang sanggup membuatnya jatuh cinta, lelaki yang berhasil menaklukkan hatinya serta membuatnya menyerahkan kesuciannya atas nama cinta. Tetapi ucapannya barusan membuatnya merasa sedang menghadapi penipu, berhadapan dengan binatang buas yang membuatnya jijik. Tak pernah disangka ucapan itu akan keluar dari mulut lelaki di hadapannya.

Dengan air mata digelengkan kepalanya sebagai isyarat penolakan atas usul lelaki itu.

"Tidak! Aku tak akan pernah menggugurkan kandunganku," isaknya.

"Anak ini tidak bersalah, anak ini harus hidup," ujarnya dengan suara melemah oleh sakit hati yang mendalam.

"Aku tak akan memintamu bertanggung jawab, tapi tolong jangan paksa aku untuk menggugurkannya. Ijinkan aku menginap di sini untuk malam ini. Besok aku akan pergi dan kita tak akan pernah ada urusan apapun lagi. Biarkan aku hidup dengan anakku," ujarnya sambil terisak dan meringkuk di kasur tipis dalam kamar kos sempit milik lelaki itu.

Mendengar ucapan wanita di depannya, lelaki itu tak mau memaksanya untuk membahas soal menggugurkan kandungan malam ini . Lelaki itu tahu persis bagaimana keras kepala dan hati wanita ini. Akan dibiarkannya wanita ini istirahat malam ini, agar pikiran dan hatinya tenang. Besok pagi akan diajaknya wanita ini berbicara baik-baik dengan membujuknya untuk menggugurkan kandungannya ke bidan di luar kota.

Dipandanginya wanita itu tidur meringkuk seolah menjaga perutnya dari serangan apapun. Sambil menghabiskan puluhan batang rokok, ia berharap bisa meringankan beban pikirannya. Wanita cantik yang sangat dicintainya, wanita yang mampu membuatnya tertawa, yang sanggup membuatnya rindu hanya dengan memikirkan lirikan matanya, dan wanita yang sangat menyayanginya hingga mampu memberikan kesuciannya atas nama cinta.

Tetapi kenapa kali ini wanita itu begitu keras kepala? Begitu tak mau mendengarkan ucapannya sedikitpun? Begitu yakin atas keputusannya mempertahankan janin yang ada di rahimnya? Bahkan begitu bodoh mempertaruhkan masa depannya? 

Entahlah apa yang salah atas semua idenya. Tetapi malam ini dipandanginya wanita itu, ingin dipeluknya seperti biasa mereka menghabiskan malam penuh cinta, tetapi diurungkan niatnya memeluk karena takut membangunkan tidurnya. Ia tahu, ini adalah hari yang berat untuk wanita itu. 

Lelaki itu terlelap dengan banyak masalah, hingga dia tak tahu jam berapa dia tertidur.

*****

Pagi buta wanita itu terbangun, dilihatnya lelaki itu tidur di ujung kasur dengan kaki terjulur ke lantai. Terlihat sangat lelap, sementara asbak di sampingnya penuh dengan puntung rokok.

Pasti semalaman ia hanya duduk merokok mencoba mengurai masalah mereka, pikir wanita itu.

Dengan perlahan dia beranjak dari kasur, masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, mengambil celana panjang dari lemari dan beberapa baju kaos milik lelaki itu. Dikemasnya dalam tas ransel yang ditemukannya di bawah meja, lalu dengan perlahan wanita itu meninggalkan kamar kos tanpa menoleh ke belakang. 

Tekadnya untuk pergi menjauh dari semua masalah, membawa luka, sakit hati dan juga rasa berdosa pada kedua orang tuanya. Ada satu tujuan kemana ia akan melangkah. Memulai hidup baru dengan semua yang ada.

Dengan bus pertama yang berangkat, dia menuju pelabuhan. Beruntung kapal pertama belum berangkat. Tujuannya adalah ke kota di luar pulau ini.

Tak ada lagi air mata yang dibawanya. Dielusnya perutnya dengan lembut sambil berbisik, "kita akan pergi, Nak. Kita akan memulai hidup baru, bantu Ibu untuk kuat ya, Nak," ucapnya lirih sambil memandang buih air laut yang tertinggal di belakang saat kapal itu melaju.

*****

Tentang bagaimana wanita itu hidup adalah perjuangan. Dengan perut membuncit dia tetap bekerja menjadi pelayan di sebuah restoran cepat saji. Karena kepintarannya dalam bergaul wanita itu banyak memiliki teman, bahkan pemilik restoran sangat menyayanginya. 

Ada saja perhatian untuk wanita itu, bahkan seolah menjadi rejeki, anak dalam kandungannya tak pernah ia merasa sendiri. Kemudahan selalu datang dari arah yang tak disangka.

"Ayo makan dulu Mbak, istirahat dulu. Biar aku yang gantiin," ujar teman rekan kerjanya. 

"Beneran ya, kakiku pegel banget pengen selonjoran bentar," ujarnya sambil melangkah ke ruang karyawan. 

"Selamat istirahat dedek bayi ..." ujar teman-temannya saat mereka berpapasan.

Sambil tertawa wanita itu melambaikan tangannya, sebagai ucapan terima kasih atas perhatian mereka.

Sudah hampir delapan bulan ia pergi dari kampungnya. Ia pergi tanpa pesan apapun pada siapapun. Tak ada yang bisa menghubunginya, tak ada seorangpun bisa mengetahui keberadaannya, bahkan keluarganya sekalipun.

Delapan bulan ini, ia menabung untuk biaya kelahirannya. Dari gaji yang diperolehnya ia bisa membayar sewa kos yang layak untuk ia dan anaknya kelak. 

Untuk kehidupan setelah bayinya kelak lahir ia tak berani berpikir, yang ia tahu pasti ada jalan untuknya dan bayinya kelak.

Bayi dalam kandungannya tak pernah rewel, sepertinya sangat memahami bahwa ibunya sedang berjuang sendiri untuk kehidupannya kelak. 

"Iiih makan apa Dedek bayi? Nih, ada jus tomat buat Dedek," ujar teman kerjanya sambil menyodorkan jus tomat segar.

"Nih, jatah ikanku buat dedek bayi saja, biar sehat ya, anak hebat," ujar sahabat lainnya sambil mengelus perutnya.

"Ayo sayurnya dimakan yang banyak, biar kuat," saran teman mengingatkan.

"Hei, Bogel! Jangan merokok dekat Dedek bayi! Sana merokok di belakang saja!" hardik seorang teman pada satpam yang datang ke ruang karyawan sambil merokok.

Begitulah perhatian dan juga rejeki yang datang menghampiri. Hari kelahiran datang lebih awal, seluruh karyawan restoran cepat saji bersuka ria. Bahkan wanita itu tak pernah menyangka akan kemudahan yang diberikan. 

Biaya persalinan dibayar oleh bosnya. Baju bayi dan perlengkapan bayi dihadiahkan oleh teman-teman sekerjanya, bahkan kamar kos dibersihkan oleh teman kosnya. Sejak kepulangannya ke kos usai persalinan, makanan selalu datang dari restoran tempatnya bekerja. Hingga wanita itu kuat untuk bekerja lagi, bayi kecil itu dititipkannya pada pengasuh yang juga tinggal satu kos dengannya. 

Tak ada kesulitan apapun. Hingga datang getaran yang membuatnya selalu bersemangat. Pemuda sederhana yang setiap hari datang dengan motor bututnya menjemput dan mengantarkannya bekerja, yang siap sedia menjadi orang pertama di sisinya. Lelaki yang tidak canggung datang mengantarkan kebutuhan untuk bayi mungilnya, bahkan tanpa canggung menggantikan popok bekas pipis serta dengan sigap mengendong bayi kecil itu saat menangis.

Sekuat apapun wanita itu menepis rasa, lelaki itu tetap datang dengan ketulusan, akhirnya cinta itu berbalas. Seluruh dosa masa lalunya telah diceritakannya pada lelaki itu. Dengan berurai air mata ia berkisah tentang kebodohannya. Dan semua berakhir dalam pelukan kasih.

"Aku perempuan kotor, tak pantas bersanding denganmu," ujarnya pelan.

"Buatku kamu wanita hebat, wanita kuat dan aku mau hidup denganmu," balas lelaki itu.

"Aku sudah punya anak tanpa bapak, bagaimana orang tuamu nanti?" balasnya lagi.

"Aku sudah mengenalmu jauh sebelum anakmu lahir, ijinkan aku menjadi ayahnya. Janjiku, kamu tak akan pernah mendengar kata apapun selain dia adalah anakku. Bahkan pada orang tuaku, aku akan mengatakan dia adalah anakku," ucapnya sambil memeluk wanita itu.

Hadiah untuk ketulusan seorang ibu, dipeluknya bayi mungil dalam gendongannya. Berita bahagia itu cepat menyebar. Kembali seluruh restoran bersuka cita, akan ada pesta perayaan pernikahan di restoran sebagai hadiah untuk cinta tulus kedua karyawannya.

Yang menjadi puncak bahagia wanita itu adalah saat melihat kedua orang tuanya datang sehari sebelum pernikahannya. Tak pernah disangka lelaki baik itu sanggup mencari jejak kedua orangtuanya.

Karena sebagai janji lelaki baik itu hanya akan mau menikahinya di hadapan orang tua wanita itu sebagai walinya.

Seperti dongeng yang selalu berakhir bahagia, maka wanita itu pun menuliskan cerita bahagia di ujung perjalanan hidupnya. Tak pernah ia ingin menoleh ke belakang, bahwa menyakini Tuhan sudah menyiapkan semuanya dengan sangat indah untuk dia dan lelaki baik pilihan Tuhan serta bayi mungilnya.