Karpet Terbakar dan Bekas Pakaian Dalam

Bagaimana rasanya menemukan bekas pakaian dalam di hotel berbintang? rasanya menjijikan bukan? tetapi bagaimana jika hal itu bisa menjadi bahan negosiasi yang menguntungkan kita?

Karpet Terbakar dan Bekas Pakaian Dalam
foto ini hanyalah ilustrasi

                        Di dunia ini tak ada yang luput dari permasalahan karena sikap ceroboh manusia, entah itu karena lupa atau menyepelekan sesuatu. Karena sikap ceroboh, biasanya akan banyak permasalahan yang muncul kemudian menimbulkan sebab dan akibat serta resiko yang harus di pertanggung jawabkan. Untuk mencapai titik tengah dari sebuah pertanggung jawaban, seseorang harus melakukan negosiasi terhadap lawan. Contoh kecilnya bisa kita jumpai saat sedang menabrak mobil di jalan, pasti kedua pengendaranya turun dan membicarakan apa yang bisa si penabrak ganti rugi untuk mobil yang di tabrak.

                Negosiasi sendiri merupakan sebuah proses diskusi yang dilakukan demi menyelesaikan suatu masalah dengan cara yang bisa diterima oleh pihak lain yang melakukan negosiasi. Dalam kegiatan negosiasi, setiap pihak akan mencoba untuk merujuk satu sama lain supaya menyetujui pandangannya dan menyepakai suatu wujud kompromi sehingga menimbulkan win-win solution.

                Ada sebuah kejadian dari hidup saya sendiri dimana merasakan bahwa komunikasi benar-benar sebuah cara yang sangat tepat untuk mengatasi permasalahan. Kejadian ini berlangsung pada tahun 2018 dimana saya dan ketiga teman saya sedang menginap di salah satu hotel bintang 4 di Jakarta untuk melaksanakan foto buku tahunan sekolah. Kamar saya di huni oleh 4 orang yang mana diisi oleh sahabat-sahabat saya. Kami melakukan hal-hal yang senang-senang saja hingga akhirnya tertidur dan besok pagi harus bangun untuk siap-siap foto. Sampai sini belum ada kejadian yang tidak mengenakan.

                Pagi hari sekitar pukul 5, kami semua bangun dan menyiapkan baju serta berdandan untuk acara. Karena baju saya kusut, akhirnya saya mengeluarkan setrika dari lemari hotel dan mulai menyetrika baju saya. Saya menyalakan setrikanya dan meninggalkannya ke kamar mandi begitu saja karena tiba-tiba sakit perut. Ketiga teman saya pun juga tidak ada yang tahu bahwa saya menyalakan setrika. Tidak lama setelah itu, saya mencium bau gosong dan kamar saya berasap. Tentu saja, sensor kebakaran di kamar menyala dan langsung berisik, barulah saya ingat saya meletakkan setrika dalam posisi tidur di karpet, bukan berdiri sehingga karpetnya terbakar dan berbentuk segitiga setrika.

                Kami berempat di landa panik, dan ada petugas masuk ke kamar untuk memeriksa. Karena kecerobohan saya, saya di denda untuk membayar 1.500.000 sebagai ganti rugi karpet. Disinilah proses negosiasi terjadi, saya yang hanya siswa SMA tidak bisa mengeluarkan uang saku saya untuk itu, pun saya meminta kedua orang tua saya pasti saya akan dimarahi karena bersikap ceroboh, jadinya saya meminta kelonggaran tetapi tetap saja tidak di terima. Setelah perdebatan panjang saya dan staff hotel, saya tetap saja kalah dan akhirnya mengeluarkan uang saku untuk membayar denda yang memang seharusnya saya bayar. Dengan berat hati, saya merelakan uang saya melayang.

                Setelah insiden itu, keadaan kamar menjadi hening dan suram. Seolah tiga teman saya ikut bersedih karena melayangnya uang saya, seorang anak SMA yang belum berpenghasilan. Mereka bertiga menghibur saya dan memberikan saya banyak makanan, tapi saya tetap tidak mau makan dan melihat keluar jendela karena dilanda ‘galau’. Bukan karena putus cinta, tapi karena kehilangan uang yang disebabkan oleh diri saya sendiri. Saat itu saya berpikir, andai waktu bisa diulang kembali, saya tidak akan melakukan hal ceroboh seperti itu.

                Disaat 3 teman saya sedang sibuk berdandan, saya terus saja melempar pandang ke luar jendela sambil memandang hutan besi di Ibu Kota. Seraya menghembuskan napas dengan berat saya berpikir ‘kenapa nasib sial menimpa saya?’. Kemudian saya berniat membuka gorden semakin luas supaya cahaya bisa masuk lebih terang dan juga supaya saya bisa melihat lebih besar. Tetapi ada kejanggalan, gordennya seperti terganjal sesuatu yang berat.

                Saya membungkukkan badan dan membuka gorden dengan perlahan, dan saya menemukan sesuatu yang sungguh menggelikan dan membuat saya muak di pagi hari. Sebuah celana dalam pria dewasa yang berukuran sangat besar, lembab dan ‘dihiasi’ dengan bercak-bercak putih dan beraroma amis. Seketika saya langsung menutup hidung saya dan memperagakan gaya muntah sehingga ketiga teman saya yang sedang berdandan langsung menghampiri dan melihat pula apa yang ada didepan saya. Setelah melihat pakaian dalam tersebut, ketiga teman saya bereaksi sama.

                Misteri pakaian dalam, di antara saya dan 3 sahabat saya yang semuanya perempuan, siapa yang akan menggunakan itu? pasti bukan dari kami, pasti dari tamu sebelumnya dan cleaning service tidak teliti membersihkannya karena tersangkut di gorden.

                Karena saya orang yang sangat aktif di media sosial, saya langsung meraih smartphone kemudian memvideokan apa yang saya temui dan menjelaskannya dengan jelas. Setelah menulis caption, tinggal sekali klik, videonya akan tersebar dan di tonton ribuan orang pengikut saya, dan juga pengikut teman saya yang hampir 1 juta itu karena memang dia seorang ‘selebgram’. Tapi, salah satu teman saya langsung mengambil smartphone saya dan mengetuk pelipisnya sendiri seraya berkata sambil melihat saya. “thinking!”

                “lo mau duit lo balik gak?” dia bertanya, dan kami semua langsung tahu apa yang di maksud teman saya itu. saya langsung tersenyum senang dan menelepon resepsionis supaya staff yang tadi datang lagi ke kamar saya. Tidak butuh waktu lama, staff datang dan menanyakan apa yang terjadi, kami langsung memperlihatkan pakaian dalam di balik gorden yang sama sekali belum kami sentuh itu karena terlalu menggelikan. Staff itu bereaksi kaget dan meminta maaf lalu memanggil cleaning service untuk membersihkannya segera. Setelah semuanya bersih, staff itu izin untuk keluar, tapi langsung kami tahan.

                Saya langsung menunjukkan ponsel saya seraya berkata “sudah saya rekam semua mas, kalau di share, kayaknya asik ya? Bisa langsung dilihat ribuan orang ini. ‘Hotel Bintang 4 di Jakarta Tidak Memperdulikan Kebersihan Kamar ; Ada Celana Bekas piiiipppp’.” Memperagakan tajuk berita di media.

                Dengan tenang, staff itu menjawab “kami mohon sebesar-besarnya untuk menghapus video tersebut supaya nama baik hotel kami tidak tercemar, kak.”

                Saya menjawab dengan tidak kalah tenangnya. “oke saya hapus, keuntungan untuk hotel ini nama baiknya tetap bersih. Lalu keuntungan saya apa?”

                Staff tadi berpikir, lalu saya menyela dengan sarkastik. “tidak ada. Jadi saya tidak mau hapus, saya akan sebarkan ini dan ditonton oleh hampir satu juta orang di media sosial saya dan teman saya. Asik kan? hotelnya terkenal?”

                “gini aja mas, supaya sama-sama enak, saya janji gak akan sebar video ini sehingga nama baik hotel ini bersih, tapi saya minta yang tadi gak usah di denda, gimana?” saya mulai bernegosiasi demi mengembalikan uang saya. Saya tahu saya salah, tapi kalau ada celah untuk mengembalikan uangnya, kenapa tidak?

                “kalau untuk itu gak bisa kak, paling kalau kakak hapus, saya akan kasih kakak berempat voucher menginap satu malam disini. Masing-masing satu.” Staff itu memberikan solusi lain.

                Solusi itu terdengar menarik mengingat hotel ini memang nyaman dan 4 voucher kamar hotel juga harganya lebih dari denda karpet, tapi kami berempat tidak butuh itu. kami butuh uang tunai saya kembali.

                Saya menolak dan tetap memaksa akan menyebar video ini, lalu staff itu mengancam akan melaporkan saya ke polisi jika mencemar nama baik, lalu saya mengancam lagi akan memberitahukan bahwa staff hotel mengancam karena keteledorannya sendiri. Kemudian keadaan hening karena sama sama melakukan ancaman, bukan negosiasi.

                “jadi gimana? Netizen Indonesia kan bar-bar mas, bisa-bisa hotelnya di boikot loh. Siapa juga yang mau nginep di hotel jorok gak bersihin celana dalem bapak-bapak, mana basah!” saya menjelaskan. “beneran saya hapus ini, gak akan saya sebar, tapi saya gausah di denda masalah karpet, gimana? Sama-sama untung kan?”

                Staff itu menghela napas karena merasa tidak bisa menang berdebat dengan anak SMA berusia 18 tahun kemudian dia mendekati telepon dan menelepon atasannya. Kami berempat menunggu hasilnya dengan penasaran seraya berdoa supaya negosiasi kami berhasil. Setelah menutup telepon, staff itu mengangguk dan menjulurkan tangannya untuk mengambil ponsel saya. “baik, saya terima solusi kalian. Tapi sebelum itu saya hapus dulu videonya, setelah ini kakak ikut saya ke resepsionis untuk membuat perjanjian dan mengembalikan uang kakak.”

                Kami semua tersenyum senang karena rencana kami berhasil. Walaupun merasa jijik dan mual dengan adanya celana dalam bekas di kamar kami, tapi ternyata itu menjadi penyelamat saya karena insiden karpet terbakar yang sebenarnya kesalahan saya sendiri. Saya juga berterimakasihh kepada teman saya yang mengingatkan saya dahulu sebelum saya menggunggah ke media sosial yang tidak menghasilkan apapun dan hanya merugikan pihak hotel dan tidak mengubah apapun dari denda saya. Karena ide negosiasi dengan ancaman barang bukti video pakaian dalam, saya terlepas dari denda dan juga pihak hotel tidak tercemar namanya. Setelah kejadian itu saya percaya, sesuatu hal bisa dibicarakan dahulu dengan komunikasi yang baik untuk mencapai win-win solution dan kesepakatan yang baik. Apabila kita bertindak gegabah, tidak akan menghasilkan apapun yang menguntungkan kita. Tapi jika berpikir untuk berkomunikasi dahulu, semua masalah bisa terselesaikan dengan baik.