KARENA RASA BUKAN BURUNG

KARENA RASA BUKAN BURUNG
Pic taken from 2empowerthyself.com

Melepas itu aktivitas kesadaran
Bukan aktivitas fisik

Banyak yang bingung soal melepas karena di benaknya ingin menggambarkan secara fisik.
Padahal melepas rasa tidak ada hubungannya dengan kegiatan fisik.

Di gambaran fisik, gambaran melepas itu seperti melepas burung mungkin ya.. 
Kenapa burung yang muncul di pikiran saya, saya juga gak tau.
Sebenarnya sih tau, tapi saya tidak mau mengakui. 
Wkwkwkwk..

Melepas burung, kita tinggal membuka genggaman tangan kita, seketika burung itu terbang tinggi dan lenyap dari pandangan kita.
Hilang, selesai sudah.

Tapi soal rasa, rasa bukanlah burung.
Burung mungkin punya rasa, tapi rasa tidak punya burung.
Pak Rasa yang mungkin punya.

Melepas rasa berbeda dengan melepas burung karena burung tadi adanya sudah di luar, sudah di genggaman tangan kita. 
Tetapi rasa, seringkali adanya masih jauh di dalam, bahkan terpendam di dasar jiwa. 

Inilah yang membedakan gambaran fisik melepas dengan gerak rasa yg akan terjadi saat melepas yang sesungguhnya.

Di gerakan Berkelimpahan dengan Berkesadaran, kami menyebut ada yang namanya 5 Langkah Menyembuhkan.
1. Kenali 
2. Akui
3. Terima
4. Bersyukur
5. Lepas

Lepas sebetulnya adalah efek dari langkah 1, 2, 3, dan 4.

Jadi misal sebagai contoh, rasa yang melekat adalah adalah rasa marah.
Selama ini rasa marah itu melekat di dalam diri kita dan kita melekat pada si marah. 
Dan kita buta akan itu. Seolah seluruh diri kita adalah si marah.

Tetapi, rasa hanyalah rasa. Rasa bukan diri kita.
Saya suka sekali satu kalimat ini, "Your emotions may swing, but your soul remains beautiful."

Emosi, rasa, yang datang dan kita rasakan mungkin bisa berayun naik turun ke sana kemari silih berganti, tetapi jiwa kita tetaplah cahaya yang sama, tidak berubah.
Jangan biarkan kita mencampuradukkan antara rasa dengan jiwa (diri) kita yang sesungguhnya.

Begitu kita menyadari bahwa rasa marah tadi adalah sesuatu yang bukan bawaan diri, di sini langkah melepas dimulai.
Sadar bahwa rasa itu dari luar.

Kemudian saat kita mengenali rasa marah yang kita rasakan, "Oo.. saya sedang merasa marah,"  saat itu juga kita berpindah posisi.
Dari perasa rasa marah, menjadi pengamat rasa marah.
Di sini kita sudah melakukan langkah pertama.

Setelah mengenali, langkah menyembuhkan berikutnya adalah mengakui. Jujur dan terbuka. 
Dengan mengakui, kita sedang membuka pintu pelepasan berikutnya. 
Karena dengan mengakui, kita membiarkan rasa itu muncul ke permukaan rasa dan betul-betul kita rasakan sepenuhnya.
Tidak ditekan, tidak dipendam, tapi diakui.

Setelah membolehkan perasaan itu muncul ke permukaan, langkah menyembuhkan berikutnya adalah menerima.
Mengijinkan diri kita merasakan rasa itu sepenuhnya.
Tidak ditolak, tidak cepat-cepat ingin disingkirkan.

Ibaratnya seperti saat hujan, kita menerima bahwa hari sedang hujan.
Kita menerima bahwa memang ada hari-hari saat hujan turun. 
Kita menerima bahwa memang hari tidak selalu cerah.
Kadang cerah, kadang mendung, kadang hujan.

Yang membuat kita tersiksa adalah saat kita tidak menerima.
Sedang hujan, tidak suka, ingin cepat2 berhenti, bawaannya tidak sabar, kesal, menggerutu. 
Rasa di dalam yang muncul tidak karuan.
Ada ilusi perasaan di sini, seolah-olah hujan itu akan terus turun dan tidak akan pernah berhenti.
Nyatanya tidak begitu kan?

Tetapi saat kita bisa menerimanya, kita bisa mengalami hujan itu dengan segenap indra kita.
Kita mencium aroma tanah dan daun basah, mendengar tetes hujan jatuh, merasakan udara yang sejuk, melihat sekeliling dengan nuansa abu-abu yang temaram, itulah saat kita menerima.
Kita menerima karena kita paham, hujan bukanlah bumi.
Hujan hanya datang dan pergi.

Sama seperti rasa bukanlah diri. 

Ketika kita menerima perasaan marah dengan segenap indra, di sinilah proses pelepasan terbesar sedang terjadi. 
Merasakan bahwa kita memang sedang marah, menjalani bahwa rasa marah sedang datang, menerima bahwa diri kita boleh merasa marah.

Sembari pelepasan demi pelepasan terjadi, rasa marah sebetulnya mulai keluar dan bergeser tempatnya di dalam diri kita.
Dari terpendam jauh di dalam diri, mulai terlihat, kemudian diangkat ke atas ke permukaan, dan diterima.
Sampai di sini, sebetulnya kita sudah berhasil meletakkan rasa di luar diri.

Saat ini terjadi, ada ruang yang kini kosong, yang tadinya diisi oleh rasa marah.
Ruang inilah yang memungkinkan pengetahuan dan kebijaksanaan dari Diri Sejati kita muncul dan mendapatkan tempatnya kembali.
Sebelumnya, rasa marah mungkin mengambil begitu banyak ruang dalam diri kita sehingga menutupi Diri Sejati kita yang sebenarnya.

Diri Sejati bersinar, sudut pandang jadi lebih luas, pemahaman kita berubah, muncul cinta kasih, muncul pengertian yang berbeda terhadap situasi dan rasa marah kita. 
Muncul rasa syukur dan terima kasih, dari pelajaran diri yang didapat lewat rasa marah.

Inilah saat pelepasan dilengkapi dengan kesembuhan.

Kesadaran untuk mengenali, mengakui, dan menerima, itulah pelepasan. 
Karena saat mengenali mengakui dan menerima, kita sedang mengijinkan diri kita untuk meletakkan rasa keluar dari diri kita.
Dilengkapi dengan kesembuhan, rasa marah itu kini semakin terpisah dari diri kita.

Saat ini, akhirnya barulah gambaran fisik melepas burung tadi bisa terjadi.
Saat rasa yang akhirnya sudah kita letakkan di luar, di genggaman tangan di luar diri kita, akhirnya bisa kita lepas dengan hanya membuka hati dan membiarkan rasa itu keluar, terbang dan menguap. 

Kembali lagi, melepas itu aktivitas kesadaran.
Tidak tertampak, tapi terasa. 

Maka hanya diri kita yang bisa menjawab, sudah sejauh mana kita melangkah untuk melepas?
Karena pada akhirnya, diri kita jugalah yang paling bisa merasakan saat rasa di dalam diri kita telah berubah.

Kemudian, baru orang dan lingkungan di luar yang setelah itu akan menangkap pancaran getaran yang baru yang berbeda dari perubahan rasa di dalam diri kita.
Di momen ini, mereka kemudian akan memberikan pancaran balik yang berbeda sesuai dengan pancaran kita yang baru.

Di sini, akhirnya melepas merubah hidup kita.

*Pengolahan batin dari buku Letting Go, David R. Hawkins