KANKER TRAVELER

KANKER TRAVELER

 

Lapar berat hampir sekarat, suhu udara 39 derajat. Turun dari pesawat di Labuan Bajo, saya singgah sebentar untuk makan siang. Lapar ini saya tahan mulai naik bus Patas AC Jogja-Surabaya dilanjutkan naik pesawat ke Labuan Bajo. Harusnya saya makan di Bandara Surabaya, tapi yah gitu, karna waktu terlalu mepet saya hanya mengkonsumsi kopi saset Kapal Api, sekedar untuk menambah energi.

Saya memang memiliki jiwa petualang yang tinggi. Biasanya saya akan pilih perjalanan yang menantang tapi untuk kali ini saya pilih naik pesawat saja karna cuti dari bos yang terbatas.

Sesampai di Labuan Bajo, saya mencari tempat makan khas daerah setempat. Berkat mbah gugel yang serba tahu bak mbah dukun, saya ketemu tempat makan rekomendasi para traveler. Namanya rumah makan Sabarlah Kasih. Di menunya tertulis "Di sini sedia segala macam ikan-ikanan dari ikan Buntel sampe ikan alien Faangtooth"

Ikan yang unik dan segar ini bukan hasil tangkapan pukat tapi hasil menombak dan memancing. Olahan ikan di sini pun tak sama dengan di Jawa. Jarang ada rempah dan bumbu aneh yang digunakan. Di Labuan Bajo masyarakat memasak ikan hanya menggunakan bumbu-bumbu dasar seperti  garam, asam, cabe, bawang, jeruk, tomat dan ajinomoto.

Setengah jam sabar menanti akhirnya ikan laut terhidang di atas meja. Saya memesan ikan kerapu bakar sambal colo-colo. Air liur saya menetes ketika melihat ikan bakar di atas meja bersanding dengan sambal colo-colo, seakan mereka memang pasangan serasi, sehidup senasi. Minumnya?  Kelapa muda dicampur jeruk nipis. Suegerrrrr.

Saya mulai mencuil daging kerapu yang lembut itu. Lalu saya celupkan ke dalam sambal colo-colo dan berlahan saya suapkan ke mulut. Ohhh kawan, daging kerapunya lembut, lumer di mulut. Sambal colo-colo yang merupakan perpaduan rasa pedas dan rasa asam jeruk nipis menambah nikmat sensasi saat lidah bergoyang. "Tambah nasi Buk" Sahut saya ke ibu warung Sabarlah Kasih.

Setelah kenyang, saya pun melanjutkan langkah menuju pelabuhan. Di sana saya sudah janjian dengan seorang guide yang akan menemani saya menjajahi laut dari pulau kecil ke pulau kecil lainnya di Labuan Bajo. Sebelum naik kapal, terlebih dahulu kami naik perahu kecil lalu dioper ke kapal pinisi.

Saya akan naik kapal pinisi dengan dua belas orang lainnya. Dua belas orang yang saya tidak kenal sebelumnya. Kapasitas tour dengan kapal pinisi maksimal lima belas orang. Kalau bukan rombongan, kita harus rela berbagi dengan sesama pelancong lainnya, untuk menggenapkan sewa kapal.

Tahukah kamu kawan apa itu kapal pinisi? Kapal yang terlihat seperti perahu raksasa, secara jenius diciptakan oleh nenek moyang kita dari zaman dulu. Asalnya dari Sulawesi Selatan. Kapal tersebut terbuat dari kayu, berdiri tiang-tiang layar yang gagah dan konfigurasi tali temali agar layar bisa berkembang.

Kapal pinisi dibuat di Bulukumba. Bulukumba adalah daerah berkumpulnya ahli pengrajin kapal dan mereka hidup beranak pinak di sana. Mereka tidak perlu sertifikat ahli kelautan dari PT PAL atau Universitas Bergengsi untuk membuat kapal ini. Sudah turun temurun mereka lakukan, ilmu mereka sudah mendarah daging. Kapal pinisi pun masuk dalam daftar unesco sebagai warisan budaya Indonesia.

Kapal pinisi yang kami tumpangi bernama Daeng Samba. Daeng Samba adalah kapal pinisi besar yang memiliki dua lantai. Lantai bawah berisi dua kamar tidur dengan ranjang tingkat berjejer rapi. Tapi jangan salah, ini bukan kamar tidur biasa. Kamarnya bak hotel, rapi, bersih dan wangi.

Samping kamar ada dua kamar mandi yang luas. Walaupun suasana di atas kapal kayu, namun kamar mandinya mirip hotel berbintang. Kamar mandi ini dilengkapi pancuran air hangat dan air dingin serta closet duduk yang bersih dan wangi tak kalah dengan hotel berbintang di darat sana.

Di bagian tengah kapal ada ruang makan dengan meja segi empat besar dan panjang. Di ujung depan meja ada TV flat 42 inch yang digantung rapi, terintegrasi dengan sound sistem lengkap dengan VCD player dan mikrofon. Ternyata ruang ini pun bisa dipakai untuk karokean saat berada di laut lepas sambil bercanda dengan teman-teman.

Lantai dua perahu pinisi adalah tempat bersantai. Lantai dua ini berisi bing bag warna warni, nyaman buat duduk santai. Jika malam tiba, langit penuh bintang, duduk di bing bag ini adalah cara terbaik menikmati bintang, begitu kata nahkodanya. Langit seakan tak bersekat, apalagi langit laut lepas, cerah dan gemerlap.

Dua belas orang pelancong dari berbagai negri sudah duduk berkumpul di ruang makan. Kami berkumpul untuk sesi briefing singkat sang pemandu.

"Hari yang indah untuk bergembira ria" Teriak pemandu membuat kami kaget. Ia tipikal sosok yang riang dan piawai membawa suasana ceria. Dia mulai bercerita rute-rute yang akan kami lewati dan singgahi. Dimulai dari tracking ke Bukit Padar, dilanjutkan ke tracking Pulau Komodo.

Saat malam, kapal akan disandarkan di teluk yang tenang. Kami akan bermalam dan bersantai di atas Kapal sambil menikmati langit malam penuh bintang. Keesokan paginya kapal akan berlayar menuju Pink Beach dan Kenawa Island untuk menikmati alam bawah laut yang indah.

Dia mulai bercerita apa saja yang boleh dan tidak boleh kami lakukan selama perjalanan. Yang paling dia tekankan adalah jangan  sampai ada bau darah setitikpun jika berada di Pulau Komodo nanti. Komodo sejatinya adalah hewan yang malas dan suka bersantai. Namun jika mencium bau darah dia bisa jadi ganas dan agresif. Darah adalah salah satu triger yang membangunkan selera makannya. Bak makanan padang tersaji saat lapar,  dia akan menyantap mangsanya tanpa sisa.

Ada lagi yang tidak boleh kami lakukan yaitu berenang telanjang di Pink Beach. Ada mitos di daerah tersebut, jika berenang telanjang makan anunya bisa hilang. Mungkin mitos ini adalah cara penduduk setempat menjaga kesopanan daerah timur. Kalau pake bikini masih boleh, tapi kalau telanjang bulat no way. Sambil tersenyum dia berkata "Cukup tahu aja yang telanjang bulat, kamu jangan"

Jangkar sudah diangkat, kapal berlahan meninggalkan dermaga. Adrenalinku meningkat, aku yakin akan banyak pengalaman berharga bersama Daeng Samba. Walaupun penyakit ini sungguh menyiksa, dokter bilang obatnya cuma rasa bahagia.

... Bersambung...