Kalau Ditanya Kenapa? Jawabnya Karena…, Bukan Gpp…!

Semua makhluk hidup punya cara masing-masing untuk berkomunikasi, baik menyampaikan sebuah pesan atau menyelesaikan masalah. Tapi kayaknya emang cara komunikasi para perempuan itu agak unik, berbelit-belit, dan butuh kemampuan khusus para pria untuk menghadapinya. Barangkali gak semua, tapi kebanyakan cewek-cewek ya seperti itulah setting-an ngambeknya, udah default

Kalau Ditanya Kenapa? Jawabnya Karena…, Bukan Gpp…!
Image from freepik.com

 

“Kamu kenapa sih kok diem terus dari tadi?”

“Gpp”

“Kamu marah sama aku?”

“G”

“Yaudah aku gak chat kamu dulu deehh, aku kerja dulu ya…”

“Kok bisa sih kamu secuek itu. Kamu tuh gak pernah ngertiin aku… !@#$%^&*(+”

*Dan para pria pura-pura mati untuk ke sekian kali*

Hayooo cewek-cewek yang kalau ngambek sifat nyebelin kayak gininya kambuh, sini ngumpul dulu. Coba cerita sebagai sesama perempuan “KENAPA YA, KOK KITA SUKA BANGET KAYAK GITU?”

Saya perempuan, dan saya juga masuk barisan para cewek-cewek yang kalo lagi marah, bukannya cerita to the point tapi malah diem lamaaaaa, selama entah. Nunggu si doi mendekat, nanya dengan intonasi suara serendah-rendahnya, sesabar-sabarnya, baru deh dengan pura-pura masih sangat marah minta dibujuk, menumpahkan semua rasa sebal, supaya lebih dramatis keluarin air mata.

Setelah tiga hari dua malam baru deh semua unek-unek selesai terungkap. Gak lupa pake ngungkit cerita lama atau kesalahan para pria yang ia lakukan dua tahun setengah lalu. Supaya mereka makin terpuruk.

Biar para pria ini semakin ngerasa salah, semakin pikirannya diselimuti perasaan “Duh gw ga boleh bikin perempuan nangis, apa kata dunia”.

Ujungnya ya mereka (kaum pria) jugalah yang akan minta maaf, baikan lagi, pelukan lagi.

Kenapa gak dari tadi aja sih?

KOK, KITA (kaum perempuan) SUKA GITU YA?

Semua makhluk hidup punya cara masing-masing untuk berkomunikasi, baik menyampaikan sebuah pesan atau menyelesaikan masalah. Tapi kayaknya emang cara komunikasi para perempuan itu agak unik, berbelit-belit, dan butuh kemampuan khusus para pria untuk menghadapinya.

Barangkali gak semua, tapi kebanyakan cewek-cewek ya seperti itulah setting-an ngambeknya, udah default. Pernah sih merasa mau sampe kapan gini terus? Apa iya pasangan kita bakal sabar terus? Kadang pernah juga sih ngerasa bersalah, dan gak pengen mengulangi. Tapi ternyata perempuan memang terlahir dengan perasaan yang lebih besar dibanding logika. Alhasil, mau semenyesal apapun saat ini, pada titik di moment yang sama beberapa waktu kemudian, ya tetep aja ngambeknya ‘gitu’.

Ngambek itu salah satu bentuk komunikasi, air mata juga. Tapi komunikasi yang kadang sedikit agak lebay kalau emang dibuat-buat.

Alam punya cara sendiri untuk berkomunikasi dengan semesta

“Wah gelap banget nih”, mungkin sebentar lagi akan turun hujan

“Kenapa ya tahun ini banyak banget bencana?”, justru itu saatnya manusia instrospeksi diri

“Eh kok, dia ngeliatin aku terus ya”, jangan GR dulu siapa tahu yang diliatin justru teman sebelah kamu.

Manusia sebagai makhluk paling pintar di muka bumi harus paham membaca situasi dan pertanda alam. Karena dengan itulah kita bisa berkomunikasi dengan baik, segala sesuatu yang terjadi tidak terkesan tiba-tiba atau membingungkan.

Memahami karakter, menghargai orang lain, bekerjasama dalam tim, atau menyelesaikan masalah, semua tidak akan pernah berjalan dengan benar tanpa komunikasi timbal balik.

Pahami situasi, kenali lawan bicara atau siapapun di sekitar kita, ciptakan komunikasi dua arah untuk menyelesaikan masalah.

Pecah kongsi, ribut dengan teman, perselisihan antar saudara, hingga kasus perceraian terjadi karena komunikasi yang sudah tidak lagi sejalan. Sulit, tapi selama kita hidup satu-satunya pekerjaan yang tidak pernah berhenti kita lakukan adalah komunikasi.

Setiap hari adalah proses belajar, memperbaiki diri. Saat ini mungkin kita sering bikin kesal lawan bicara dengan tingkah aneh yang menyebalkan. Tidak lain, itu karena ingin dipahami. Bersyukur saat kita dipertemukan dengan seseorang yang sabar dan bisa mengerti, bagaimana jika sebaliknya?

Baca situasi, sebelum bertingkah ngadi-ngadi. Beberapa pria ada yang memang sabar menghadapi perempuan yang marahnya sulit dimengerti, tapi mereka bertahan karena perasaan sayang, atau berharap suatu saat nanti si perempuan bisa keluar dari kebiasaannya selama ini.

Komunikasi yang baik itu ketika antara si pemberi pesan dan penerima bisa saling memahami. Saling timbal balik dua arah. Ketika hal ini sudah tidak sejalan, maka konflik pasti akan tejadi, masing-masing menyalahkan keadaan, tidak ada rasa menerima dan berujung pada perasaan saling membenci.

Mulai hari ini, kita tanya pada diri sendiri. Apakah sudah bisa menyederhanakan pesan yang ingin kita sampaikan? Sebaliknya, apakah kita sudah memiliki rasa penuh penerimaan akan apa-apa yang sebaiknya kita pahami?

Komunikasi itu dua arah, kalau cuma mau didengar sendiri namanya egois.