KALA MENYEPI DI RUANG SENDIRI

KALA MENYEPI DI RUANG SENDIRI

Rangkaian lampu yang tidak menyilaukan mengingatkan aku akan suatu tabir. Cahaya nya mungkin sedikit redup tapi kilaunya seakan mengetuk pikiran yang sempat terlelap ini. Dari tiap memori yang hadir aku jadi teringat akan suatu moment. Rasanya aku sedang berada di tempat yang tepat, tapi terkadang raga tidak berada disini. Yang akan ku ceritakan ini mungkin akan terdengar gamblang atau biasa saja. Yang pasti semua akan kutulis dan ku rekam agar tak hilang.

Untuk yang ada di benak ku saat ini. "Apa yang hendak membuat mu termenung?"

"Aku sudah berusaha sebaik mungkin tapi mungkin Tuhan punya rencana yang lebih baik." jawabnya demikian.

"Namun wajahmu akhir-akhir ini sangat terlihat murung, mungkin sesekali kau bisa mencari hiburan agar mood mu kembali seperti anak-anak yang sedang memakan es krim."

Gurauan lucu untuk orang yang sedang menahan pilu, Kapan kau akan sadar bahwa ada reaksi dari tiap aksi, dan elegi dari tiap tragedi.

 

Hanya lamunan yang mengisi akhir-akhir ini, aku seperti ingin menggapai Bulan malam ini karena ia begitu amat dekat dan rasa nya sangat mungkin aku dekap. Larut malam ini juga tidak terlalu dingin, aku hanya menggunakan celana pendek dengan kaos polos hitam, serta laptop yang masih setia menemaniku. Rasanya tiap pekerjaan sudah ku selesaikan dengan baik, tapi mengapa rasanya masih sempat ada yang mengganjal. Khayalku seolah-olah berlari mencari jawaban untuk mencari kepastian.

Antara iya dan tidak, mungkin sebenarnya kau pernah merasakan hal yang seperti ini. Bagaimana hidup merantau pergi tanpa tau kapan harus kembali. Bercita-cita tinggi untuk menggapai mimpi, dan terus mencoba sekali lagi. tapi sebenarnya apa yang kau cari? Pengalaman hidup atau cara agar dapat mengekpresikan diri? Ingat bahwa kau tak lagi bisa seperti sedia kala, ada tanggung jawab yang menunggumu kelak, dan ada perjuangan yang mesti kau hadapi jika tidak mau kalah dengan telak.

Maksudku coba lihat sekitar. Lemari merah besar dihadapanku seolah menyimpan suatu misteri. Selama aku disini aku tidak pernah bahkan enggan untuk membukanya. Meski sempat sesekali aku ingin melihat ada apa didalamnya. Bentuk nya setinggi tubuh pria dewasa, dengan lebar 2m. kalau aku boleh tebak mungkin didalamnya terdapat benda-benda penting. Tapi pikirku lemari ini seharusnya dikunci, masa dibiarkan terbuka sedikit untuk bisa dilucuti.

Pandanganku selalu tertuju pada keinginan untuk membuat segalanya menjadi lebih jelas. Baik itu keinginanku sendiri, atau harapanku untuk hidup ku ini. Aku selalu berpikir bahwa ruang hampa ini telah mengajariku sesuatu hal. Dimana waktu tak akan pernah kembali, dan keberhasilan itu pantas kau cari.

Andai semua ide-ide ku yang dulu, sempat aku tulis kedalam buku. Tak hayal mungkin sekarang aku sudah punya karya-karyaku sendiri, tapi tidak mengapa karena mungkin memang belum waktunya. Karena meskipun kita memaksakan kehendak, terkadang semesta engga untuk ikut tersentak.

 

"Yang pasti memori ini akan menjadi pembelajaran bagimu." ujar pikiran di benak ku.

Apa yang selama ini kau dambakan bisa tercapai asal kau mau bergerak, dan tidak mengikuti suasana.

Nanti kita akan bercerita lagi tentang harapan-harapan mu di malam ini, dan mengapa hal ini jadi membuat mu bermurung sendiri.

Geram jika aku melihat tubuhku lesu. Padahal biasanya otot-otot ini selalu ingin berpacu, dan bersemangat berlomba dengan waktu. Tapi kali ini mungkin saat nya untuk beristirahat sejenak, dan berpikir kepada apa yang tersangkut di benak.

 

Bagian situasi ini pernah membuatku untuk berpikir.

"Apa kau pernah merasakan, untuk sekali lagi kau merasa ini adalah takdir?."

Ragu mungkin ada tapi kau pasti bisa hadapi bersama.

Untuk kau yang sedang berjuang. Percayalah kerja keras akan membuahkan hasil, dan keresahan mu semua akan terjawab. Terungkap, seraya selalu ingat untuk mengucap takbir.