Kaki-kaki INA lebih keras daripada GBR

Kaki-kaki INA lebih keras daripada GBR
Tidak ada yang menghalangi mereka untuk bahagia

Sore tadi sorang kawan yang merantau jauh sekali di bawah Bumi Indonesia kalau dilihat dari peta globe memposting link Youtube anaknya yang berusia 7 tahun, Fatih yang sedang berlatih bola di grup whatsapp kelas sekolah kami dulu di Malang. Entah tahun berapa waktu itu dia berangkat ke negeri yang dikenal dengan batu stonehengenya kurang begitu jelas. Yang jelas anak tertuanya lahir hampir 8 windu dan besar disana sampai sekarang.

Melihat postingan itu, Agung dari Prolink istilah slanknya kota Probolinggo, membuka percakapan di message whatsapp bertanya dengan nada yang tersirat sebuah doa bagi Fatih. Apabila giat berlatih bola dan jika nanti jadi pemain bola profesional apakah mau jika dipanggil timnas Indonesia, mengingat sedari lahir sudah tinggal di Great Britain.

Sang ayah cuma menjawab ragu sambil minta doanya saja, tak bisa dipungkiri juga seh, namanya juga anak-anak. Mungkin saat ini semangat latian bola atau olahraga eh besok gedenya jadi apa?. Bisa jadi malah profesi lain yang digeluti, misalkan bankir, tour guide, writer atau apapun itu. Karena yang terpenting saat ini adalah ngisi waktu anak-anaknya dengan kegiatan positif saja, begitu menurutnya.

Bukan berarti mendiskreditkan timnas Indonesia, bapaknya berasumsi. Bagus di negeri orang itu belum tentu bagus di negeri sendiri. Banyak sekali contohnya para pemain bola disini, udah capek-capek menimba ilmu bola dinegeri asing. Eh, waktu pulang kampung malah melempem, malahan ada yang banting stir jadi bintang iklan segala. Syukur kalau tema iklannya yang berkaitan dengan dunia olahraga. Ini sama sekali jauh. Apa ga lucu tuh? (Silahkan ketawa)

Kutambahin juga akhirnya, karena beda budaya Inggris dengan Indonesia mending sekalian saja tinggal disana ga usah pulang kesini, kasihan anak-anaknya. Kalau cuma berkunjung seh, fine-fine saja kan?. Maksudnya gini, ga usah jauh-jauh deh. Indonesia kan ada beratus bahkan ribuan suku bangsa dan budaya toh? Jika kamu pindah ke daerah suku lain berapa lama adaptasimu kira-kira? Susah lhoooo, bagi kita yang orang dewasa, apalagi masih anak-anak. Padahal masih dalam 1 negara?

Apalagi anak-anaknya Wahyu ini bahasa Inggrisnya luar biasa, cas cis cus. Saya saja kalah meski sudah belajar sedari SMP sampai sekarang masih saja kesulitan bisa percakapan dengan bahasa Inggris ini hahahah.

Maya, keturunan chinese dari Surabaya yang jago bahasa Mandarin ini menimpali,"mending ga usah pulang sekalian. Biar mengasah ilmu bola di Negeri Ratu Elisabeth dan jadi pemain bola profesional disana saja."

Setengah bercanda aku bilang ke Wahyu, orang tua Fatih ini" iya, ga usah pulang, daripada nanti ditanya kenapa disini main bolanya gak pakai sepatu Yah?" dengan bahasa Inggris pastinya dia nanya ayahnya.

Dulu, pernah Wahyu cerita pas nonton Arema di Stadion Kanjuruhan Malang, anaknya heran liat supporter bola yang bergelatungan di mobil angkutan umum maupun bak truck. Karena di Inggris pemandangan seperti itu langka bahkan mungkin tidak ada sama sekali.

Dengan emo ketawa plus logat mèdhok Suroboyoannya, Maya bilang," Sikil-sikil e nak kanak NKRI seng ada lawan hareee????????????."

Jelas jauh beda, masa kanak-kanak kita dulu dengan anak-anak jaman sekarang apalagi anaknya Wahyu yang notabene sedari lahir sudah ada disana. Kita dulu main ke luar rumah jarang pakai sandal, mandi di kali meski pulangnya nanti dipukuli sama ibuk, melompati pagar 3 meter hanya untuk berenang di kolam renang, cari tebu saat panen raya, berburu belut pun manjat pagar jika pingin nonton liga bola tarkam dan sebagainya.

Beda sama anak jaman sekarang yang hiburannya HP, ga bisa manjat pohon mangga, ga bisa main layangan, kalau main ga pakai sandal bisa lecet-lecet kaki.
Oh iya, ibunya Fatih bilang kalau anaknya malah ga bisa pakai sandal jepit kalau pas mudik ke Malang. Jadi ya selalu tertinggal kalau diajak main sama anak-anak tetangga sebayanya hahahah.

Maya ketawa ngakak dengar cerita itu hahaha.

Tapi memang betul seh, susah kalau sudah beda budayanya. Butuh waktu yang agak lama untuk adaptasi karena memang sedari lahir sudah terbiasa dengan budaya serba tertib di Inggris Raya.
Hal itu juga yang saya tahu dari kawan saya yang baru pulang dari Amerika dua tahun lalu, katanya butuh waktu lama untuk ketiga anaknya beradaptasi di Indonesia.

Kediri, 23 Juni 20'
01.38 AM