Kakak Ipar

Kakak Ipar

“Dik, besok kita ke rumah ibu ya,” kata Hendra, suami Amel dari arah ruang keluarga.  Amel yang sedang menjahit di ruang sebelahnya terkejut. “Besok Bang, hari Ahad?” tanya Amel memastikan.

“Iya, besok.”

“Loh, bukannya si Mbak Sari selalu ada di rumah kalau hari Ahad,” kata Amel sambil  menghampiri suaminya dan duduk di sampingnya.

Mbak Sari adalah kakak ipar Amel.  Walaupun usianya 55 tahun dia jomlo dan masih tinggal di rumah orang tuanya.  

“Jadi kapan dong ke rumah ibu?” tanya Hendra sambil menatap Amel. “Sekarang sudah awal bulan.  Semestinya sudah dari sepekan lalu kita ke sana.”

“Hari Kamis saja. Walaupun di masa pandemi Covid-19 ini, dia masih work from office setiap hari.  Jadi kemungkinan besar dia tidak akan ada di rumah ibu kalau hari Kamis.” saran Amel.

“Ya, sudah hari Kamis.  Kita berangkat pagi karena kita harus segera balik lagi ke rumah.  Aku ada conference call jam satu siang.”

“Oke, Bang,” kata Amel sambil mengecup pipi suaminya.

Hendra tahu, Amel paling tidak mau diajak berkunjung ke rumah ibunya kalau ada mbak Sari, kakaknya yang tertua.  Dia maklum karena sifat buruk kakaknya itu. Istrinya sudah berlapang dada di dalam menghadapi perlakuan mbak Sari terhadapnya.  Hendra sebetulnya berharap kakaknya itu segera keluar dari rumah orang tuanya dan tinggal di rumahnya sendiri, tetapi karena sifatnya yang boros, jangankan dia punya rumah, tabungan pun dia tidak punya. Ibunya sudah sering mengeluh, tetapi tidak berani menegur atau menasihati kakaknya itu.  Sedangkan Hendra tidak mau ribut dengan kakaknya, jadi dibiarkannya saja.  

***

Kamis pagi mereka berdua berangkat sambil membawa buah tangan untuk orang tua Hendra.  Sebelum berangkat, kebiasaan Amel memberitahu ibu mertuanya kalau mereka sudah di dalam perjalanan menuju ke rumahnya.  Sengaja Amel melakukan itu agar ibu mertuanya tidak repot-repot menyiapkan macam-macam penganan buatannya sendiri.  Amel menyadari ibu mertuanya sudah tua dan cepat lelah.  Apalagi di rumah mertuanya tidak ada asisten rumah tangga.  Semuanya dikerjakan sendiri oleh ibu mertuanya.  Beliau tidak pernah mau mempekerjakan asisten rumah tangga.

“Assalamualaikum,” Amel dan suaminya hampir bersamaan mengucapkan salam.

Pintu rumah mertuanya terbuka.  “Alaikum salam,” sahut ibu mertuanya sambil tersenyum. Mereka berdua masuk ke dalam rumah.

Amel langsung berjalan ke ruang makan untuk meletakkan buah tangan mereka di meja makan.  Tiba-tiba Amel menghentikan langkahnya, dilihatnya di ujung meja makan,  kakak iparnya lagi duduk menghadap laptop. Tidak disangka ternyata hari ini dia work from home. Ingin rasanya Amel balik badan dan pulang lagi ke rumah, namun tak mungkin dia lakukan itu. Amel kemudian meletakkan barang bawaannya dengan hati-hati dan menyapa kakak iparnya.

“Mbak Sari, apa kabar?” tanya Amel.

“Eh, kamu!! Jangan dekat-dekat ke sini!!  Banyak temanku yang terpapar Covid-19 karena tertular dari OTG. Jangan lama-lama juga di sini, lebih cepat kamu pergi lebih baik!!!” teriak Sari sambil tangannya sibuk menyemprot botol disinfektant ke arah Amel.

Amel terpaku. Dia tidak mengira kakak iparnya akan berlaku seperti itu terhadapnya. Hatinya panas.  Ingin rasanya dia melempar semua barang bawaannya itu ke wajah kakak iparnya, tetapi akal sehatnya meredamnya. Beberapa kali dia menarik napas dan  beristighfar untuk menenangkan hatinya.

 Ibu mertuanya yang berada di dekatnya mendengar teriakan itu. “Sari, jangan begitu! Mestinya kamu yang OTG karena sering keluar rumah.” kata ibu mertua membela Amel.

Amel segera pergi dari ruang makan dan menghampiri suaminya yang berada di ruang tamu.  Suaminya itu tidak mendengar keributan di ruang makan. Amel berbisik kepada suaminya. “Bang, jangan lama-lama ya. Mbak Sari ternyata ada di rumah. Sepuluh menit lagi kita jalan.”

***

Sepekan kemudian. Ting! Terdengar sebuah pesan Whatsapp.  Amel mengambil ponselnya, dilihatnya ada pesan dari Rini, adik iparnya.  [Mbak Amel, sudah tahu belum si Mbak Sari masuk rumah sakit pagi tadi karena terpapar Covid-19? Kata ibu dia OTG].

 

OTG: orang tanpa gejala