JANJI MATAHARI

JANJI MATAHARI

JANJI MATAHARI

 

Saat kaki kecilku dijemur ibu

Sambil merafal doa -doa indah

Jadi anak baik yo nduk sesuai namamu

jujur  kunci bahagiamu

Matahari mencatatnya

 

Saat aku berdiri di belakang bapak

Mengamini setiap geraknya

Ia menengadah kedua tangannya

Semoga anakku jujur pada sesama

Matahari sedang tidak ada

Ia titipkan pada gelap untuk mencatatnya

 

Saat perayaan hari kelahiran Sang Mulia

Ibu – bapakku   menyenandungkan Marhaban

Berharap aku yang ada di situ

kecipratan akhlak suci kejujuran  Beliau 

 

lalu ditemani matahari yang mencatat semua harapan itu

dan bumi yang setia mengelilinginya setiap hari

aku tumbuh

setiap yang datang padaku,Aku melihat matahari

sudah sesuaikah sikapku dengan catatanku

 

lalu suatu hari

Bu guru mengendap membagikan bocoran soal

minta kami mencatat jawaban

yang harus diisi saat ujian

agar sempurna nilai kelulusan

Aku bertanya, Bu apakah kita tidak menyelingkuhi kejujuran?

kuulangi butir Pancasila yang ia ajarkan

Bu guru dengan wajah lelahnya berujar : semua orang melakukan ini,bila nilai kalian rendah periuk nasiku tak kan lagi ada isinya

Aku mengecek   matahari, tidak ada catatan yang sama tentang ini

 

Lalu suatu malam,

Bapakku yang kepala penyuluhan

Mendapatkan banyak sembako untuk disalurkan

Aku mendengar bapak ibu bicara pelan

Bagaimana cara membuat data siluman

Di peraduan, aku minta gelap menyampaikan

Pada matahari esok hari

Aku yakin tidak ada catatan yang sama tentang ini

 

Lalu suatu hari

Saat aku hampir muntah menyelesaikan skripsi

Ditemani  kopi ke-5 yang sudah basi

Seorang temanku yang selalu mengaji

Bangun malam lanjut zikir pagi

Sambil memegang tasbih, ia mengejekku yang hampir mati ;

“Hei ngapain nyiksa diri, serahin aja ke Kang Budi.

Cukup  lima ratus ribu, bereslah itu

Tinggal tenang nunggu sidang, orang tua pasti ikut senang

Tak sia-sia mencangkul di pagi buta

Anakku jadi sarjana

Foto wisuda diarak  sedesa raya.”

Aku menghubungi matahari

Kembali ia menggeleng kanan kiri

Tak ada tentang itu di sini

 

Lalu di sebuah café 

Ia mentraktirku segelas kopi seharga jatah makanku 5 kali,

bisa kau kondisikan, 5 ini jadi 10 dan 12 jadi 23 ?

Bagimana caranya, itu tidak diajarkan saat kuliah?

Hey, ini dunia nyata , bukan teori busuk di buku textbook

Telat kau tangkap,orang lain yang sikat

kau kerja sampai berkarat pun tak kan dapat

 

Aku menunda bertanya dengan matahari

Kusampaikan pada bapak ibu tahun depan mereka bisa haji

Dengan selamatan mewah mengalahkan Pak lurah

Tapi aku harus sengaja menghitung dengan salah

 

Ibuku menjerit bahagia, memelukku tersedu

Bapakku meneteskan air mata, haru membiru

Tak apa nak lakukan saja

Nanti biar kita minta di depan ka’bah

Kan Dia pasti memaklumi hamba-Nya

 

Aku urung bertanya pada matahari

Percuma Lelah mencatat selama ini

Pasti ia sangat kecewa

Tak satupun ada gunanya

 

Lalu aku pun membelakangi matahari

Tak kan mau kubuat anakku nanti berjanji lagi

Kalau gelap pun bisa menumbuhkan kaki

Untuk apa ribut meniti pagi?

 

NF, 1 September 2020