Jalanin Aja

Jalanin Aja

Hiruk pikuk keluar masuk pasien dan dokter jadi pemandangan yang lumrah di IGD RSCM. Pasien dilayani di atas kursi roda karena masih dalam antrian tempat tidur juga hal yang tak terelakan di sini. Aku bisa bilang begini karena dalam enam bulan terakhir aku sudah beberapa kali bolak balik ke sini karena kedaruratan suamiku. Tingkat keramaian saja yang beda-beda tipis. Kalo ritme hiruk pikuk rasanya mirip-mirip setiap kali kami tiba di sini.


Malam ini kami kembali ke sini karena suamiku mengalami sedikit disorientasi dan halusinasi. Tadinya maksud kami ke rumah sakit untuk kontrol saja tapi jadi lain ceritanya ketika dokter mengajukan beberapa pertanyaan kepada suamiku yang hanya mampu dijawab semampunya dan terkadang tanpa makna. “Harus dirawat ini Bu”, begitu keputusan dokter. Secara medis kondisi seperti itu dianggap penurunan kesadaran namanya. Aku manut karena tetap berharap yang terbaik bagi penyembuhannya walau sel ganas itu sudah menyebar kemana-mana. Bismillah pokoknya.


Mengikuti prosedur yang harus melalui IGD sebelum mendapat ruang rawat inap suamiku didorong dengan dengan brankar menuju IGD. Dengan ramah petugas admin, dokter dan perawat memberikan pelayanannyan pada kami. Aku diminta mengurus administrasi pendaftaran dan mereka langsung melakukan tatalaksana tindakan pada suamiku.
Selesai dengan administrasi aku langsung masuk ruang IGD dan menuju brankar suamiku.

Sementara perawat memasangkan alat infus pandanganku tertuju pada pasien di sebelah. Masih muda, menurut perkiraanku di atas 30 tahun tapi belum mencapai 40 tahun. Mengenakan celana skinny dan topi. Yang kulihat ada perban di kaki kirinya. Itu saja.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara wanita, “Iya Bu sejak dokter stop obatnya kakinya jadi kayak gitu. Tuh ibu liat aja ada mlentung-mlentung kayak luka bakar.” Rupanya ibu itu memperhatikan pandanganku yang tertuju pada pemuda itu.
“Ibu pegawai di sini ya? Saya sering liat ibu”, sambungnya, yakin sekali. Aku langsung senyum menahan tawa karena ternyata ada yang mulai hafal wajahku saking seringnya kami ke sini. Tak apalah menambah saudara.

“Tidak bu, saya memang bolak balik anter suami ke sini”, aku mencoba menjelaskan. “Sakit apa bu anaknya?” lanjutku menanyakan tentang pemuda itu.
“Kelainan darah Bu” katanya. Beberapa waktu kemudian aku mengerti pemuda itu mengidap leukemia dari pembicaraan beberapa dokter yang menanganinya.

Waktu menunjukkan sekitar pukul delapan malam ketika dokter mengatakan, “Kita ke ruang rontgen ya pak,” pada suamiku yang merespon dengan mengangguk. Sejenak kemudian rontgen sudah dilakukan dan brankar suamiku diparkir depan ruang rontgen IGD. Rasa kantuk mulai menyerangku dan dinginnya ruangan seperti menusuk-nusuk tulangku padahal sudah dua jaket aku kenakan. Tak ada tempat duduk dan kepalaku sudah tertunduk-tunduk. Aku tak menyadari ada jenazah yang lewat jika tidak ada seorang ibu yang tiba-tiba berlari memelukku. “Maafin ya Bu…maafin.” aku jadi bingung ada apa. “Tadi saya bawa ke sini baik-baik aja. Cuma luka dikit. sekarang udah gak ada” katanya sambil tersedu-sedu. Ketika aku tersadar rasa kantuk yang mendera hilang tuntas. Pemuda itu, yang cuma ada luka sedikit di kaki kirinya sudah tiada. Yang barusan lewat, itu jasadnya. “Sabar ya Bu” aku hanya bisa mengatakan itu sambil merangkulnya erat-erat.

Jika Yang Maha Berkehendak untuk terjadi maka terjadilah. Tak satupun dapat menghalangi.

Pagi ini dengan tidur yang seadanya dan peristiwa semalam yang cukup membuatku nelangsa, aku berjalan ke arah Departemen Radioterapi sambil mendorong brankar yang kemarin aku pinjam untuk suamiku. Aku harus sesegara mungkin kembali ke IGD karena biasanya dokter akan banyak berkunjung jadi aku harus mendampingi suamiku. Namun langkahku terhenti ketika aku berpapasan dengan seorang pemuda yang wajahnya tak asing bagiku berjalan didampingi ayahnya.

“Raja!” dengan yakin kupanggil namanya. Terpesona dengan ceria dan segar wajah sehatnya. Aku senang sekali melihatnya. Terpampang kembali dalam ingatanku ketika pertama kali berjumpa di ruang rawat 505. Pandangannya kosong, tubuhnya begitu lemah tak bisa berkomunikasi dengan sempurna. Aku pikir dia masih seusia anak sekolah menengah pertama, padahal sudah menjadi mahasiswa. Yang dikenal hanya ayah dan ibunya yang terkadang dia panggil nenek karena itu yang tersisa dalam ingatannya.

“Tumor di otaknya Bu”, begitu kata ibunya menjelaskan.
Selanjutnya kami hanya bisa saling menguatkan dan mengingkatkan dalam kesabaran.

Kini tiga bulan sudah dan ini yang aku dengar darinya, “Raja sudah bisa ke mall sendiri Bu.” Bagiku ini: Ajaib! Tak banyak yang kami bicarakan karena sehatnya Raja sudah menceritakan semua.

Hanya Sang Maha Kuasa yang bisa melakukan itu semua. Jika Dia Berkehendak maka terjadilah!

Meski aku belum tahu apa yang akan menjadi kehendakNya atas suamiku, aku yakin pasti itu yang terbaik. Jalani saja.


RSCM, 05 Maret 2020

Brankar: tandu