Jakarta Saat Ini

Kalo punya pengalaman tentang Jakarta mungkin kisah ini bakal sama.

Jakarta Saat Ini

Waktu menunjukkan pukul 5 pagi, tapi kendaraan sudah mulai lalu lalang. Mulai dari kendaraan motor, mobil, bis, sampai truk dari yang online sampai yang punya supir pribadi. Mereka semua sudah mulai memenuhi seluruh jalanan.

Para pengemudi ojek online juga gak mau ketinggalan. Dengan jaket hijau khas mereka, HP di tangan, mata yang melotot ke layar HP sambil berharap bakal datang orderan dari pelanggan yang meminta antar ke tempat tujuan sudah siap-siap di sudut warung kopi jalanan.

Itulah rutinitas yang dilakukan oleh para pencari rupiah di Jakarta. Bahkan ada sebuah ucapan legendaris untuk para pencari kerja di Jakarta, terutama bagi para perantau dan anak-anak freshgraduate yang baru menjejakkan kaki di Jakarta.

“Jakarta Keras Bung!”

Kata-kata legendaris yang sering terdengar.

Entah karena memang begitu kerasnya ibu kota yang nantinya gak bakal jadi ibu kota lagi atau itu cuma sebuah kata menakutkan yang ditujukan untuk para pekerja baru agar mereka gak ikut-ikutan mencari uang di Jakarta dan berharap nantinya bakal mengurangi saingan mereka.

Entahlah, yang jelas perkataan ini mungkin benar adanya. Bayangkan saja dari satu bagian Jakarta ke bagian Jakarta lainnnya saja butuh perjuangan. Butuh waktu yang lama, minimal sekitar setengah jam, itupun kalo gak macet.

Naik kereta ke daerah Sudirman aja penuhnya minta ampun. Harus saling sikut, saling dorong supaya dapat tempat. Pakaian necis ala-ala eksekutif muda rasanya sudah gak berguna kalo turun dari kereta. Setiap hari berdesakaan sambil tangan berebut pegangan dengan berharap kaki masih bisa menyentuh lantai kereta.

Mau naik berebut, turun juga berebut. Gak heran kadang ada beberapa penumpang yang sampai pingsan dan dibawa sama petugas. Masuk kereta kaya orang bener, pake baju bagus, wangi, rapi, rambut klimis. Keluar dari kereta kaya orang yang abis main smack down, baju acak-acakan, bau apek dan rambut udah kaya orang baru bangun tidur.

Naik kendaraan pribadi atau ojek online juga sama aja, harus balap-balapan, tapi gimana mau balap-balapan. Maksimal aja mungkin paling cepat sekitar 40 km/jam. Itu pun setidaknya setiap 100-200 meter harus berhenti gara-gara macet. Syukur-syukur sampai kantor gak kena marah sama bos gara-gara telat.

Memang sekarang ada yang namanya transjakarta dan juga MRT. Ini memang jadi alternatif kendaraan buat para budak korporat dan kuda start-up. Tapi ini belum menjangkau semuanya.

Contohnya transjakarta, kalo kita mau ke daerah Blok M dari Stasiun Cawang. Kita bisa nunggu bis nomer 4k jurusan Pulo Gadung – Blok M yang datangnya cuma 20 menit sekali. Kalo lancar jalannya bisa ditempuh setidaknya 30 menit, tapi tau sendirikan di daerah Pancoran ke Kuningan macetnya kaya gimana? Padahal cuma mau belok ke arah Jalan Kapten Tendean. Iya ituloh jalan yang selalu dipenuhi pasukannya si anak singkong.

Berasa mau teriak

“Ya Tuhan, ini gua cuma mau belok aja bisa setengah jam gara-gara jalanan macet!”

Sebenernya gak harus naik transjakarta jurusan itu. Kita bisa naik jurusan lain yang lewat shelter Gatot Subroto Jamsostek, nantinya bisa turun di situ dan naik lagi yang arah Manggarai – Blok M. Tapi itu semua pasti tetep lewat Pancoran – Kuningan yang macet banget!

Beda lagi kalo pakai MRT ke arah Blok M, kita harus naik setidaknya dari daerah Stasiun Sudirman dan semua tau Stasiun Sudirman itu kaya gimana? Hampir semua budak korporat dan kuda start-up turun di sana. Kalo turun berasa lagi ikut perlombaan lari marathon.

Itu sebagian kisah dari kota Jakarta, (mantan) Ibu kota Indonesia. Memang Jakarta selalu menjadi magnet buat siapapun. Mulai dari orang-orang yang tinggal di sekitaran Jakarta (bodetabek) hingga seluruh Indonesia kayaknya bakal bisa kita temui di Jakarta.

Lalu mau sampai kapan berharap Jakarta tidak akan macet?

Jadi sebenarnya salah siapa? Pemerintah, para pengusaha, atau para pencari kerja?