Invisible Fluorescence

Julukan, terkadang menjadi baju diri. Makanya, kita perlu menjuluki diri dengan yang baik-baik. Karena, 'Julukan adalah doa juga'.

Invisible Fluorescence
Dokpri. Ilustrasi untuk kisah invisible fluorescence. Jika pada foto di atas citra manusia menggunakan tinta invisible fluorescent, maka tanpa sinar UV, hanya ada gambar tembok rumah Bali. Tanpa ada gambar manusia dengan pakaian adat Bali warna kuning dan ikat pinggang tenun Pegringsingan.

 

Bagaimana rasanya menjadi unwanted? Unrespected? Ada yang pernah mengalaminya?

Barangkali jika kita tengok kehidupan masa kecil saat SD, rasanya adalah seperti seorang anak kecil yang sepanjang hari bersekolahnya ia menjadi obyek 'bully'-an teman-teman sekelas. Dari mulai jam sebelum masuk kelas, hingga lonceng jam pulang sekolah berbunyi. Ia sedemikian anehnya dan sedemikian 'bullyable' sehingga seisi kelas mencemoohnya dengan berbagai cara. Mengejek. Menjadikan bahan tertawaan. Bahkan menendang. Atau kekerasan fisik lainnya.

Mungkin sebabnya adalah tingkah Si Anak Kecil itu yang 'nyebelin'. Menjengkelkan di setiap kesempatan dan suasana. Walaupun 'ia tidak bermaksud demikian'. Mungkin juga karena anak kecil itu 'sedemikian berbeda dari rata-rata anak kecil yang lain yang menjadi mayoritas'. Mungkin karena tubuhnya yang mungil. Atau kulitnya sedemikian hitam. Atau justru karena ia demikian ganteng, berwajah bule, berkulit putih, hingga memicu keirian kolektif. Klise. Alasan-alasan fisik. Alasan-alasan pada hal-hal kasat mata.

Atau, bisa jadi, rasanya adalah seperti 'seseorang yang kehadirannya tidak diinginkan dimana-mana'. Bisa jadi karena seseorang itu demikian aneh dan berbeda dari ekosistem tempat ia berada. Bisa jadi, seseorang ini demikian bodohnya hingga tidak sanggup menyelesaikan satu tugas pun yang diberikan oleh atasanya sesuai dengan tenggat waktu. Bisa jadi pula karena sedemikian indahnya ia sehingga 'mengancam' keberadaan orang lain (beberapa orang atau sebagian besar orang). Bisa jadi pula seseorang ini demikian tidak memahami bahwa cara berpikirnya ternyata tidak bisa dipahami dengan baik oleh ekosistemnya. Atau bahkan seseorang ini sama sekali tidak memiliki IQ, EQ, SQ, dan communication skill. Sehingga, seluruh ekosistempun menjadikan ia sebagai obyek yang 'bullyable' dan judgement semena-mena tanpa ampunan. Gunjing sana. Gunjing sini. Bisik sana. Bisik sini. Seluruh sistem secara massal membuat ia harus diawasi gerak-geriknya. Media sosialnya di-capture dan di-kepoin. Kehadirannya di kantor dipantau. Kapan ia masuk ke lokasi kerja, kapan ia keluar makan siang, kapan ia pulang, sehingga ia sudah kehilangan hak-hak kemanusiaan dan pribadinya.

Hulu dari semua itu adalah judgement.

Saya pernah mengalaminya.

Rasanya tidak enak. Kalau diibaratkan kondisi sekarang, adalah seperti menjadi virus korona. Dihindari. Tidak diinginkan. Kalau bisa tidak perlu dekat-dekat. Kalau perlu, ada sensor GPS dipasang di badan, kemana pergi terdeteksi, sehingga mudah dihindari. Karena 'ancaman' kehadirannya adalah sangat mematikan.

Tetapi, setiap kondisi terburuk manusia, selalu diimbangi dengan blessing dari Yang Maha Kuasa. Ada Yin ada Yang. Ada siang, ada malam. Badai pun, pasti berlalu.

Selalu ada joke untuk kondisi terpuruk.

Saat itu, pada sebuah pertemuan teknis, seorang rekan kerja menanyakan kepada saya tentang apakah ada keinginan saya mengisi sebuah vacant position di sebuah kegiatan ektra kulikuler.  Saya bilang,

"No, thank you. It is better for me to be invisible at the moment"

Seorang di Divisi Tinta menimpali,
"Yesss, you better be the INVISIBLE .... but FLUORESCENT one ..."

Seluruh ruangan tertawa terbahak.

Fluorescence adalah sifat tinta yang bila dilihat dengan mata telanjang, ia tidak terlihat, namun dibawah cahaya sinar ultra violet, maka tinta itu akan memendar terang. Dan indah.

Pada uang kertas Rp 100.000,- pendaran tinta fluorescent adalah berupa gambar kepulauan Indonesia. Indah sekali. Coba deh, sesekali amati uang-uang kertas Rupiah kita yang saat ini beredar di bawah cahaya ultra violet. Tujuh pecahan uang kertas kita di bawah UV itu memberikan pemandangan yang cantiknya nggak ketulungan. 

 

 

(Ilustrasi pendaran tinta fluorescent pada uang kertas Rupiah pecahan Rp 10.000,- versi lama. Ornamen di sisi pahlawan berpendar di bawah sinar ultra violet (UV))

 

Uhuyyy!

Jadi, begitulah rupanya perumpaanku saat itu. Asiiikkkk!


Di permukaan, di dunia materi yang kasat mata, diriku ini invisible. Tak ada. Kosong. Tak diperhitungkan. Tak diinginkan. Unwanted. Unrespected.

Tetapi 'di dunia yang lain' yang perlu dilihat dengan 'cahaya khusus', diriku adalah sosok yang memiliki pendaran diri yang indah. Ah, semoga! Amiiiinnnnn.

Begitulah rupanya. Bersama kesulitan, sudah disediakan sebuah penghiburan. Sejak itu, aku mengidentifikasikan diri dengan julukan sebagai The Invisible Fluorescent one. Manis sekali bukan?

 

 

 

 

Radio Dalam, Februari 2020.
Setelah Purnama Kawolu 1941 Çaka.