INDUSTRI BUKU DI ERA DIGITAL

"Pada akhirnya, kita akan menyaksikan semua pelaku usaha akan kebagian rezeki secara proporsional."

INDUSTRI BUKU DI ERA DIGITAL

Hampir dua tahun lalu saya sempat bertanya kepada salahsatu awak media di Solo tentang jumlah tiras koran tempatnya bekerja. Saya cukup kaget. Ternyata oplahnya merosot tajam dalam beberapa tahun belakangan.

Beralihnya perilaku konsumen ke media daring ternyata berpengaruh besar pada industri surat kabar, hingga para pelaku industri ini ikut bermain di media daring dengan membuka koran digital.

Bagaimana dengan industri buku? Mengingat banyaknya e-book yg mudah diakses dan gratis, apakah berpengaruh pada dunia penerbitan dan toko buku?

Kabarnya, di beberapa negara maju, buku cetak ternyata masih laku dan terus mengalami kenaikan oplah, berbanding sebaliknya dengan e-book yg jalan di tempat. Meski banyak toko buku mayor kembang kempis hingga tutup, nyatanya industri penerbitan, terutama penerbit indie dan toko buku independen masih berkibar, mengambil alih atau berbagi rezeki dengan raksasa penerbit dan toko buku mayor.

Mungkinkah ini sebuah anomali di era disrupsi digital ? Bisa jadi. Perkembangan internet telah mendorong tumbuhnya industri penerbitan indie dan toko buku online, hingga membantu para pelaku pasar melakukan penetrasi langsung kepada konsumen dan berebut ceruk rezeki dengan industri buku mainstream.

Saya yg tiga tahun terakhir mencoba peruntungan di pasar buku indie merasakan betul, betapa pelaku pasar bisa dengan mudah melakukan penetrasi kepada konsumen sesuai segmen yang  dituju. Melalui platform berbagai aplikasi sosial media, semua menjadi mudah. Sesuatu yg awalnya tak terbayangkan bisa jadi nyata.

Pertanyaannya, akan sampai kapan buku cetak dapat bertahan di tengah arus deras perkembangan dunia digital? Jawabannya ada pada cara dan perilaku pelaku bisnis buku itu sendiri. Seberapa mampu mereka beradaptasi dan mensiasati  perkembangan teknologi bagi kepentingan bisnisnya.

Nyatanya, berkah dari Internet dan platform digital, banyak pelaku bisnis buku indie dimudahkan dalam hal produksi dan distribusi. Produksi lebih terukur sesuai kebutuhan dan pangsa pasar yg dibidik, hingga meminimalkan terjadinya buku kembali dalam jumlah besar. Buku juga bisa dicetak dengan mesin cetak digital sesuai pesanan untuk jumlah paling minimal sekalipun. Pilihan gerai buku online juga makin berwarna dengan pilihan buku2 yg bisa memanjakan pembaca. Semua pilihan ada dan konsumen benar-benar menjadi raja.

Pada akhirnya, kita akan menyaksikan semua pelaku usaha akan kebagian rezeki secara proporsional dan tak ada lagi dominasi pasar oleh pemodal besar. Dan ini berkah terbesar dari para pelaku industri penerbitan di era media digital.