Ikan Sarden

Ikan Sarden
Ikan Sarden

Usai sholat subuh, saya keluar kamar dan Bapak bertanya apakah sarapan sudah ada.
"Nanti ya, Bang. Coba Abang hangatkan dulu, kemarin masih ada dencis kaleng."

Si Bapak memang rajin masak, ia pun langsung menghangatkan masakan dengan teflon.

Namun, saat sedang mengaduk ikan tersebut,  teflonnya goyang dan ikan sardennya tumpah sebagian. Maklum, pengait teflon dan gagangnya sudah hilang sehingga teflon tersebut menjadi mudah jatuh.

Saya melihat dari ruang tamu, diam aja. Saya tidak mau mengomel seperti ibu-ibu pada umumnya, lagipula kalau saya mengomel masalahnya pun tidak selesai.

Dari ruang tamu saya dapat melihat apa yang terjadi di dapur, termasuk kejadian ikan tumpah tadi.

Saya berjalan ke dapur melihat keadaan, "Bang, ikannya kok jadi sedikit padahal tadi masih banyak." Padahal saya sudah tahu, ikannya tumpah sebagian.

Si Bapak diam saja, ia mengambil wadah untuk tempat ikan tersebut.

Lalu saya berkata, "Saya bantuin ya." tanpa menunggu jawaban, saya mengangkat telflon tersebut.
Barrr!!! Teflonnya jatuh lagi beserta ikan yang ada di teflon tersebut.

"Aduh, kamu itu bukannya bantu malah jatuhin lagi," kata si Bapak.
Saya dengan muka tak berdosa menjawab, "Iya ya, teflonnya sudah longgar. Disimpan sajalah, nanti kalau kita masak lagi malah jatuh lagi. Entar kita beli yang baru."

Dan si Bapak pun makan dengan ikan yang masih tersisa sedikit, "Kamu enggak makan?" tanyanya.
"Nggak, Bang. Saya lagi puasa," jawabku.

Lalu si Bapak pun memakan ikan tersebut dengan lahapnya. Memang, ikan dencis kaleng ini adalah kesukaan si Abang. Walau teflon sudah jatuh dua kali dan ikannya hanya sisa sedikit, Bapak tetap menghabiskan ikan dencis tersebut.