Hijabku

Hijabku
Photo dari Pxhere


Hijab. Mungkin untuk sebagian wanita muslim hal itu biasa saja atau paling tidak normal saja karena sudah terbiasa sejak mereka terlahir ke dunia. Tapi untuk sebagian yang lain, hijab bukan hal yang mudah. Bahkan tak jarang harus melalui pergulatan lahir dan bathin yang panjang baru bisa mengenakannya. Aku sepertinya termasuk kategori yang kedua.

Ada yang ingin kuceritakan saat awal mula aku memutuskan -tepatnya memberanikan diri- untuk mengenakan hijab. Bermula ketika aku berkesempatan menunaikan ibadah umrah, lebih dari lima belas tahun lalu. Saat itu aku masih bekerja sebagai Humas di sebuah Maskapai Penerbangan asing yang berkantor pusat di Hong Kong. Saat itu keinginan mengenakan hijab sudah tumbuh di hati kecilku , bahkan sebelum pesawat lepas landas menuju Madinah sudah terucap doaku: “Yaa Allah jangan lepaskan lagi hijabku.” Dan berharap Tuhan mengabulkan doaku.

***
“Syl, dicariin terus lo ama Richard”, Sandy rekan sejawatku langsung menghampiri mejaku saat aku kembali masuk kerja setelah dua minggu di Tanah Suci.

“Lah bukannya dia tau gue lagi umrah”, aku menimpali keheranan. Kenapa Richard, bos bule yang asal Inggris di kantorku, mencariku padahal aku sudah ijin untuk cuti dua minggu.

“Gak tau tuh, tiap hari nanyain lo mulu. “Haji kecil mana? Kapan pulang? Meja lo disamperin tiap hari”, Sandy menjelaskan panjang lebar. Aku makin bingung. Ada apa sih?

“Hehehe ya udah deh nanti gue samperin ke ruangannya kalo dia udah dateng”, tuntas ku akhirnya.

***
“Hi Haji Kecil! How’s your Umrah trip?” Benar kata Sandy, Richard menyapaku dengan sebutan Haji Kecil. Entah siapa yang menginspirasinya. Sejak itu dia selalu memanggilku dengan sebutan Haji Kecil. Budaya di kantorku memang kasual sekali. Kami selalu bisa memanggil nama depan walaupun dia punya posisi tinggi. Tak harus Mister ini atau Mister itu, seperti teman saja layaknya. Itu yang membuatku betah di sana.

Satu lagi yang lucu, hampir setiap kali Richard melihatku pasti dia memperhatikan kecocokan warna hijab dan pakaianku. Ada-ada saja Bosku ini. “I was pretty sure that you’d wear this after umrah”, katanya sambil menunjuk hijabku dengan penuh keyakinan.

Selesai berbasa basi, Richard akhirnya menyampaikan alasan kenapa dia selalu mencariku seminggu lalu.

“We are going to have Worldwide Media Crisis training next week in Hong Kong,” dia menjelaskan. “You and me from Jakarta. Our team from Surabaya dan Denpasar will join us as well, I’ll email you details on this”.

Worldwide? Entah kenapa hatiku jadi ciut sekali. Tiba-tiba aku merasa tak percaya diri. Aku jadi terdiam beberapa saat. Sejak kepulanganku dari umrah dengan berhijab aku belum pernah bertemu siapapun kecuali kolega di kantorku ini saja. Sementara Training di Hong Kong itu worldwide, itu artinya akan hadir semua kolega dari berbagai belahan dunia. Benar-benar rasa percaya diriku jadi melorot ke titik nol dengan seketika. Entah kenapa. Seperti ada kekhawatiran mereka akan memandangku sebagai ‘orang asing’ atau ‘orang aneh’ karena belum ada sebelumnya yang berhijab, apalagi bagian Humas. Aduh gimana ini?

“Why, what happened Sylvi? You usually very cheerful and enthusiastic.” Richard memecah kesunyian yang tiba-tiba terjadi tadi. Kami biasanya memang suka bercanda saking akrabnya. Mungkin dia bingung melihat reaksiku kali ini yang diam seperti patung.

“No, nothing. I’ll prepare everything once I got your email,” jawabku sambil segera meninggalkan ruangannya.

Richard terlihat bingung sambil mengangkat bahunya. Tapi kemudian dia memandangi laptopnya dan kembali bekerja.

***
Seperti yang kuduga sebelumnya. May, kolega dari kantor pusat perlu beberapa saat untuk mengenaliku. “You look very different, Sylvi. It’s nice.” sapanya akhirnya berbasa-basi. Brian dari UK malah bertanya,”Can we still shake hand?” Hanya Husein   dari Dahran dan Mahmoud dari Bahrain yang bersikap normal seperti biasa. Mungkin karena bagi mereka hal yang lumrah jika wanita muslim berhijab. Sementara Hatoru dari Tokyo serta Yongyut dari Bangkok yang biasanya menyapa dan bercanda kini hanya tersenyum dari jauh. Akhirnya kuputuskan untuk berkumpul bersama tim Indonesia saja.

Setelah penjelasan dari para pelatih, seluruh Tim bersiap-siap untuk melakukan simulasi menghadapi Media saat terjadi krisis. Ruangan pelatihan sudah disulap sedemikian rupa seperti sebuah Command Centre untuk berbagai kegiatan Tim dalam menghadapi Media. Beberapa layar kaca dipasang dan menayangkan berita dari berbagai media internasional. Ada pesawat telpon yang tak hentinya berdering membawa berbagai pertanyaan dari awak Media. Ruangan press conference pun sudah disiapkan jika diperlukan. Semua dibuat seolah-olah kami sedang menghadapi Crisis karena terjadinya kecelakaan pesawat kami. Situasinya dibuat sedemikian rupa hingga terasa begitu menegangkan dan mencekam karena semua berlangsung dengan cepat sementara semua yang terucap haruslah akurat. Bukanlah hal yang mudah untuk menghadapi awak media yang berkerumun dan menghujam dengan pertanyaan bertubi-tubi. Untuk itulah latihan ini diperlukan.

“Sylvi, you’re going to be our spoke person at the press conference,” suara Richard mengagetkanku dan membuatku merasa semakin tegang. Kenapa harus aku? Kan Ada Nick atau Vince yang lebih senior daripada aku. Mereka yang seharusnya jadi juru bicara. Nick dan Vince pun terlihat bingung kenapa bukan salah satu dari mereka yang dipilih oleh Richard selaku Accident Manager yang mengatur semua anggota Timnya. Lagi-lagi bayangan akan pendangan aneh kolega dari berbagai negara yang kualami di awal tadi terus menempel di kepala. Membuat rasa percaya diriku makin remuk luar biasa. Padahal sebelum hijab ada di kepala, bagiku menjadi juru bicara adalah pekerjaan biasa saja. Kali ini aku begitu tersiksa, tapi apa daya perintah sudah dititah.

Hanya lima menit persiapan dilakukan untuk simulasi Press Conference. Setelah team briefing, sambil menghela nafas pajang kulangkahkan kaki menuju meja pembicara. Aku didampingi dua kolega yang bertugas untuk mencatat pertanyaan dari awak media yang diperankan oleh para kolega dari berbagi negara. Kupandangi mereka, aduh rasanya seperti terdakwa! Tak ada pilihan bagiku. Aku pasrah dan kumulai dengan memanjatkan doa,  berharap aku dapat lancar berbicara menjawab semua pertanyaan yang diajukan mereka.

Alhamdulillah selamat. Sampai waktu yang diberikan selesai  berbagai pertanyaan lewat dan bisa terjawab. Aku akhirnya bisa bernafas lega.  Namun tiba-tiba Richard berdiri dan mengacungkan tangan dan mengajukan pertanyaan yang membuatku mati rasa, “We heard that this accident is a terorist attact. How can you explain this?” 

Yaa Tuhan, kenapa sih Richard? Tak seharusnya dia bertanya karena kami satu Tim. Dan kenapa pula pertanyaan sensitif seperti itu yang diajukan: pake teroris segala, aduh.  Sebagai atasanku seharusnya dia mendukungku, bukan malah menjatuhkanku seperti itu.

“I think it’s too early to speculate on the cause of the accident. Our team at the moment are working 24/7 with the authority to help the affected passengers, crew and their family.” Jawabku akhirnya atas pertanyaan Richard yang di luar dugaanku sama sekali. Richard yang duduk di posisi belakang mengangguk-angguk sambil tersenyum-senyum dan mengacungkan jempol. Apa maksudnya aku tak mengerti. Kenapa lagi ini.

Dengan selesainya simulasi press confrence tadi, usai pula training hari itu. Sudah tak sabar aku dengan tindakan Richard, dari meja pembicara tadi aku langsung bergabung dengan Tim dari Indonesia dimana Richard ada di sana bersama mereka.

“Richard, how could you? You’re not supposed to ask questions, right? Not that kind of question”, tak tahan aku langsung nyerocos. Teman-temanku yang lain hanya diam saja melihatku seperti itu. Dan  Richard hanya senyum-senyum dan tidak meladeniku sama sekali. Betul-betul menyebalkan!

Satu persatu semua peserta training bubar dan meninggalkan ruangan. Saat aku akan melangkah meninggalkan ruangan tiba-tiba Richard menghampiriku dengan wajah yang serius, berbeda sekali dengan yang kulihat tadi.

“You did an excellent task, Sylvi. You nailed it. Very proud of you. Congratulations!” katanya sambil mengulurkan tangan untuk menyalamiku. Aku yang masih kesal hanya menjawab singkat tanpa senyum sama sekali, “Thank you”, itu saja dan ingin segera pergi dari situ.

“I know you’re upset. I did it in purpose because I want you to show them that a moslem lady is smart and credible. But most important is you gain your self confidence back”, aku  terdiam, terharu biru dan tak terasa air mata hangat mengalir di pipiku.

Terima kasih Richard. Maafkan atas prasangka burukku.

Bassura, 03 April 2020

Dedicated to my ex Boss, Richard.