Here Comes the Queen…

Here Comes the Queen…

Here Comes the Queen…
Sumber imaji: instagram Europe on Screen
Ini film kedua yang saya tonton di festival film online Europe on Screen 2020—berlangsung 16-30 November 2020. Film yang berasal dari Porturgal, dengan judul The Dead Queen (judul asli "Pedro e Inês") (2018). Genre drama, durasi tayang 120 menit, berbahasa Portugis. Disutradarai oleh António Ferreira.
 
Di awal film, belum apa-apa saya sudah cukup merasa bingung. Karena, pergantian masa dan universe yang terjadi berulang kali, berlangsung dengan cepat dan tanpa penjelasan. Tapi, dengan mengamati perbedaan kostum, saya ahirnya bisa lebih fokus menonton. Berdasarkan perbedaan kostum tersebut, saya lalu berpendapat bahwa dalam film ini terdapat tiga masa dan empat universe yang berbeda.
 
Universe pertama adalah, yang terjadi atau berlangsung di sebuah institusi kesehatan jiwa alias rumah sakit jiwa (RSJ). Masanya saya duga pada masa kini. Kedua, masa medieval, yang berlangsung dalam sebuah lingkungan istana kerajaan. Lalu, ketiga, adalah dunia moderen di masa kini. Masa yang sepertinya kira-kira sama atau tak jauh beda dengan universe pertama yang di RSJ itu.
 
Universe keempat, menilai dari kostumnya, terjadi pada sebuah masa yang entah futuristik atau bahkan terjadi di sebuah planet di luar bumi—ya, saya membiarkan imajinasi saya berjalan terserah ke mana saja. Akan tetapi, melihat adegan awal cerita di universe ini, yang cukup mengejutkan, saya pikir mungkin merupakan masa prasejarah. Sebuah masa yang berlangsung jauh sebelum masa medieval. Ketika peradaban manusia masih dalam tingkat yang rendah.
 
Benang merah dari semua cerita dan segala universe itu adalah tokoh utama laki-lakinya, yang semua bernama Pedro. Saya segera menduga, bahwa semua Pedro diperankan oleh pemain yang sama (aktor Diogo Amaral)— dugaan yang sesungguhnya sama sekali tak sulit dilakuan.
 
Demikian juga dengan tokoh-tokoh lainnya. Ayah, ibu, istri Pedro, dan tokoh yang datang belakangan dalam hidup setiap Pedro, di semua masa dan universe kecuali saat di RSJ; Inês (diperankan oleh Joana Verona).
 
Dalam bingung, daripada menghabiskan waktu berpikir dan terlalu sibuk bertanya-tanya lalu malah kehilangan momen menonton, saya membiarkan saja diri saya berpetualang dalam imajinasi bersama film ini. Tokh pada akhirnya, pasti akan ada penjelasan tentang semua itu. Demikian harapan saya.
 
Terbawa oleh narasi yang bagaikan berpuisi—dengan membaca subtitle berbahasa Inggris-nya karena saya tak paham Porto—saya menangkap bahwa si pembawa narasi off camera adalah Pedro yang di RSJ. Dalam petualangan imajinasi ini, di satu titik kemudian saya berani menyimpulkan bahwa semua Pedro adalah tokoh yang sama. Satu orang, dia-dia saja. Yang hidup sejak jaman pre-medieval, sampai ke masa kini. Macamnya tokoh Highlander. Dia manusia abadi yang tak bisa mati.
 
Dalam hidupnya di masa moderen, sebuah sebab telah melemparkannya ke RSJ. Mungkin gara-gara dia menyebut jati diri sejatinyanya, atau lainnya. Membuka kenyataan ke publik bahwa usianya sudah ribuan tahun. Alih-alih disanjung, malah berakhir di RSJ.
 
Seru rasanya menonton sambil berpetualang dalam imajinasi seperti ini. Bisa bebas menduga-duga. Bila salah, ya tak masalah. Dugaan saya yang berikutnya adalah, semua universe yang berbeda itu hanyalah mimpi kosong belaka dari Pedro si pasien RSJ. Di mana ia membayangkan dirinya menjadi semua tokoh Pedro yang penonton saksikan dalam film.
 
Di ujung film, akhirnya terjawab bahwa Pedro di masa moderen merupakan masa lalu dari Pedro di RSJ. Jadi, dua universe itu ternyata satu. Terjawab juga bahwa ia ternyata bukan seorang Highlander. Tetap saja sampai akhir film tak jelas untuk saya, apakah semua cerita dari berbagai masa dan universe itu merupakan mimpi dan khayalan si Pedro RSJ atau bukan.
 
Selesai menonton, ternyata masih tersisa rasa penasaran yang cukup besar. Siapa tahu dapat pencerahan, saya coba lirik catatan di pedoman Europe on Screen. Serta sumber lainnya macam IMDb dan Wikipedia. Tersebutkan bahwa dalam film ini ada tiga cerita dengan tiga masa waktu yang berbeda.
 
Yaitu, masa lalu yang tadi saya sebut sebagai masa medieval. Lalu, masa kini dengan kisah Pedro di RSJ sebagai cerita utamanya. Dan, masa depan yang tadi antara lain saya sebut bagai kehidupan entah di planet mana.
 
Pada masa depan ini, ceritanya umat manusia sudah meninggalkan perkotaan, meninggalkan kehiduan dengan tenologi tinggi. Mereka hidup secara komunal demi bertahan hidup. Yang di mata saya, mereka sepertinya kembali ke masa silam. Kembali ke awal. Kembali ke alam.
 
Kemudian, melalui film talk webinar di zoom datang menyusul informasi lain. Ferreira, si sutradara, mengungkapkan bahwa tiga dunia Pedro di film ini merupakan tiga dunia yang paralel. Sama sekali tak saling menyambung, bukan garis lurus seperti yang tadinya saya kira. Bukan pula mimpi dan khayalan Pedro RSJ.
 
Film ini sendiri diangkat dari buku yang berjudul "A trança de Inês". Cerita yang terinspirasi dari sejarah Portugis. Kisah nyata tentang seorang Raja Portugis pada abad ke-14. Di mana Dom Pedro, raja tersebut, menggali makam simpanannya, Inês de Castro, yang mati dibunuh dalam sebuah konspirasi politik. Ia lalu menjadikan mayat Inês sebagai ratunya.
 
Pada setiap Pedro, selalu ada tokoh bernama Inês yang datang belakangan—ingat, judul asli dari film ini adalah "Pedro e Inês" yang berarti "Pedro dan Inês"). Mereka jatuh cinta, dan terjadilah perselingkuhan. Semua Pedro sudah beristri pada saat ia bertemu Inês. Inês di semua cerita akhirnya hamil, dan semua konflik perselingkuhan berakhir dengan terbunuhnya Inês sebelum sempat melahirkan.
 
Pedro di masa depan membuka rahim Inês untuk menyelamatkan bayinya yang masih hidup. Pedro di masa medieval menjadi raja yang kejam akibat dibunuhnya Inês. Sedangkan Pedro di masa kini, bepergian dengan mobilnya sambil membawa jenazah Inês yang dibunuh oleh istrinya. Itu sebab yang mengantarnya ke RSJ.
 
Baguskah film ini? Burukkah? Saya takkan menilainya. Bagi saya, menonton film ini saja sudah merupakan sebuah petualangan tersendiri. Saya pahami saja semua yang bisa saya pahami. Saya kernyitkan kening pada hal-hal yang tidak. Misalnya, pada adegan awal masa depan. Cerita penguburan, tapi lelaki tua yang hendak dikubur masih hidup. Ia lalu disuntik mati setelah semua berpamitan padanya.
 
Adegan tersebutlah yang membuat saya sempat berpikir bahwa universe-nya adalah masa prasejarah. Masa di mana persembahan jiwa manusia masih sering dipraktekkan. Setelah tahu bahwa ini berlangsung pada masa depan, saya memutuskan bahwa mereka itu kelompok cult. Yang punya cara hidup aneh dan sadis. Begitu.
 
Dalam Q&A dengan sutradara Ferreira, saya sempat bertanya tentang maksud dari adegan ini. Dijelaskan bahwa lelaki tua itu adalah seseorang yang sudah sangat sakit dan karenanya menderita. Apa yang dilakukan padanya adalah euthanasia atau assisted death.
 
Kematiannya itu tak hanya mengakhiri penderitaanya, tapi juga berarti memberi ruang hidup untuk mereka yang masih muda usia. Meski, tetap saja terasa sadis buat saya. Terlebih, euthanasia itu dilakukan tepat di samping lubang kuburnya.   =^.^=