Hati Riang, Batin Tenang, Badan Sehat

Ketika saya melihat foto-foto Bapak dari sebelum sakit hingga sekarang, saya melihat betapa drastisnya perubahan fisik Bapak. Dari segi mentalitas, saya merasa Bapak punya beban di pikirannya yang selama ini disimpannya sendiri.

Hati Riang, Batin Tenang, Badan Sehat
Image by Devanath from Pixabay

Bapak saya sudah sakit sekitar lima tahun lamanya. Pemicu penyakitnya, meskipun Bapak tidak mengakuinya, adalah dari stress di pikirannya yang sudah menumpuk lama. Ini terungkap dalam salah satu sesi terapi dengan salah seorang psikolog.

“Mel, papa masuk rumah sakit,” satu telepon dari mama langsung membawa saya terbang pulang ke kampung menyeberangi pulau. Tiba di kampung, saya tidak pulang ke rumah sama sekali, tetapi setiap hari menunggui bapak di rumah sakit. Tiga hari kemudian, sesuai kemauan Bapak, beliau langsung diterbangkan ke negeri jiran untuk mendapatkan penanganan dari dokter di sana atas penyakit ambeinnya.

Saya menemani Bapak ke sana. Saudara-saudara saya juga kemudian menyusul ke sana. Sekitar seminggu Bapak di sana, membuat kondisi mentalnya menurun drastis. Di saat yang sama, perusahaan besar tempat Bapak bekerja bertahun-tahun sebagai salah satu kepala cabangnya memberhentikan Bapak dan menolak memberikan bantuan apa pun untuk pengobatan Bapak. Kalau teringat, masih sakit hati saya karena alih-alih menanyakan kabar Bapak, pimpinan perusahaan malah menyalahkan Bapak yang berobat ke RS di luar negeri dibandingkan RS milik pimpinan perusahaan.

Sekitar seminggu di sana, secara fisik dan mental Bapak semakin drop. Penyakit ambeinnya sudah ditangani oleh tim dokter, tetapi Bapak merasa tidak sembuh. Secara mental, saya tidak tahu apa yang ada di benak Bapak waktu itu. Tetapi aura mukanya semakin hari semakin suram, hingga satu titik Bapak mengancam hendak bunuh diri.

Akhirnya kami memutuskan membawa Bapak kembali ke Indonesia. Bapak girang bukan kepalang tetapi perasaan was-was menyertai kami karena perilaku Bapak tidak bisa diprediksi. Kami takut Bapak tidak bisa terbang. Untungnya klinik di bandara mengijinkan Bapak untuk terbang. Kami lega sekali. Tetapi di ketika pesawat sedang mengudara, Bapak tiba-tiba berbisik pada saya, “Pramugari itu cantik. Papa pengen pegang pantatnya.”

Saya terkejut dan takut sekali Bapak akan melakukan niatannya. Untung saja tidak. Dan begitu tiba di tanah air, saya sangat lega sekali.

Singkat cerita, setelah sebulan lebih saya menemani Bapak yang sakit, saya kembali ke kota saya tinggal. Bapak dan Ibu kembali ke kampung. Tapi sekitar beberapa bulan kemudian, saya mendapat kabar bahwa ada penyakit lain menyerang Bapak. Setelah berobat ke berbagai dokter, akhirnya nama penyakitnya ditemukan. Dystonia, penyakit yang menyerang saraf motorik.

Ketika saya melihat foto-foto Bapak dari sebelum sakit hingga sekarang, saya melihat betapa drastisnya perubahan fisik Bapak. Dari segi mentalitas, saya merasa Bapak punya beban di pikirannya yang selama ini disimpannya sendiri.

Ketika hatinya riang, kondisi fisiknya membaik. Tetapi ketika suasana hatinya buruk, kondisi fisiknya menurun drastis dan semua terapinya jadi sia-sia. Dan sayangnya Ibu dengan berbagai keterbatasannya  tidak banyak membantu dalam menciptakan suasana hati Bapak yang riang.


Di luaran sana ada banyak tulisan yang menjelaskan bagaimana emosi mempengaruhi gelombang otak dan kemudian mengirimkan sinyal ke tubuh sehingga tubuh menjadi sehat atau sakit.

Dari sebuah artikel di tahun 2020 tentang COVID-19 oleh Flura Gilmutdinova, calon Ilmu Kedokteran, karyawan Institut Medis Universitas RUDN (disclaimer: saya belum berhasil menemukan artikel aslinya, yang saya baca adalah artikel yang menyebutkan sumber ini), dikatakan bahwa virus COVID-19, seperti yang lainnya, memiliki frekuensi rendah (5,5-14,5 Hz). Virus corona memaksa frekuensi sel manusia ke frekuensi yang mengarah pada penyakit. Virus ini menjadi pasif atau tidak bisa bertahan di frekuensi 25,5 Hz ke atas.

Jadi salah satu cara agar tubuh kita tidak dimasuki oleh virus Corona ini adalah dengan meningkatkan vibrasi frekuensi tubuh kita. Ketika kita penuh rasa syukur, rajin berdoa, bermeditasi atau melakukan hal lainnya yang membuat kita bahagia, vibrasi frekuensi yang dipancarkan tubuh akan mampu membuat virus corona menjauh dari kita.

Sebagai gambaran, frekuensi dari emosi-emosi adalah:

  • Duka: 0,1-2 Hz
  • Takut: 0,2-2,2 Hz
  • Murka: -0,5 Hz
  • Menyesal: 3,0 Hz dan lebih tinggi
  • Tersinggung:  0,9 -3,8 Hz
  • Marah: 1,4 Hz
  • Bersyukur: 45 Hz
  • Murah hati: 95 Hz
  • Terima kasih yang tulus: dari 140 Hz dan lebih tinggi
  • Merasa sama dengan orang lain: 144 Hz atau lebih tinggi
  • Welas asih: 150 Hz dan lebih tinggi
  • Cinta: 150 Hz dan lebih tinggi
  • Cinta sejati: 205Hz dan lebih tinggi

Jadi, selain meningkatkan imun tubuh kita dengan konsumsi ramuan herbal seperti empon-empon yang khasiatnya sudah diulas di berbagai tulisan, melaksanakan protokol pencegahan COVID 19 dan tentu saja dengan menerima vaksin COVID19, kita juga perlu meningkatkan imun emosi kita agar semua penyakit, bukan hanya COVID 19, menjauh.

Kenalan saya yang pernah terkena COVID19 dan sudah sembuh, tidak henti-hentinya berkata, "Jaga pikiran tetap positif, jangan stress. Kalau sudah kena, yakini kalau pasti bisa sembuh." 

Mari kita tebar emosi positif dan jadi manusia yang positif!