Hari Kopi Internasional

Tujuan Hari Kopi Internasional bukan terutama untuk mempromosikan perusahaan kopi besar, melainkan untuk mengampanyekan perdagangan kopi yang adil dan peningkatan kesejahteraan para petani kopi, termasuk kaum petani perempuan.

Hari Kopi Internasional

 

Kasihan temanku Sarah, ia seorang pemilik kafe. Sudah lama tutup kafenya sejak COVID-19 merebak.


“Aku hanya bisa melayani pesan-antar beberapa bungkus biji kopi,” jelasnya dalam percakapan video call kami tadi sore.


“Padahal hari ini tanggal 1 Oktober, Hari Kopi Internasional. Biasanya kami mengadakan diskon dan kafe ramai,” tambahnya.

“Sekarang gak ada siapa-siapa di kafeku, hanya petani-petaniku yang cantik saja.”

“Petani-petani cantik??” tanyaku dengan heran.

“Nanti deh gue jelasin… hahaha,” jawab Sarah.

Malam itu ketika saya baru mau membuat secangkir kopi, saya menerima sebuah pesan dari Sarah. Ia mengirim sebuah gambar interior kafenya. Di salah satu sisi temboknya tergantung beberapa foto perempuan sedang tersenyum. Tampaknya mereka sedang berada di sebuah perkebunan.

Owh "petani-petani cantikku"… aku baru nyambung

Saya sudah beberapa kali bertamu di kafenya Sarah, tetapi tidak pernah terlalu memperhatikan foto-foto tersebut.

Para penggemar kopi, seperti saya, yang senang menikmati kopi di kafe, mungkin hanya memperhatikan secangkir kopi yang berada di hadapannya dan tidak memikirkan bagaimana minuman hitam pekat itu bisa sampai di situ. Mungkin kita hafal nama merek dan pengusaha kopi terkenal, serta follow barista-barista mancanegara, tetapi kita melupakan mereka yang berada di balik layar dan tidak disorot media–para petani kopi.

 

 

Kondisi kesejahteraan petani kopi Indonesia dapat ditelusuri dari sejarah masa penjajahan Belanda. Biji kopi asal Yemen dibawa oleh pihak VOC dari India Selatan ke Batavia dan kemudian ke Priangan, Jawa Barat pada abad ke-17. Dari hasil menanam kopi di tanah jajahannya itu, Belanda menjadi salah satu produsen kopi terbesar abad ke-18.

Di balik kesuksesan perdagangan kopi Belanda adalah penderitaan yang ditanggung oleh rakyat Indonesia. Para petani dipaksa untuk menanam kopi dan menjualnya dengan harga murah kepada pihak VOC. Di bawah VOC dan kemudian pemerintah kolonial Belanda, perkebunan kopi menjadi ajang eksploitasi petani dan buruh perkebunan.

Eksploitasi terhadap petani bukan saja dilakukan oleh pihak penjajah semata, tetapi ada suatu sistem eksploitasi berlapis yang melibatkan penguasa lokal. VOC memanfaatkan raja sebagai pemasok hasil tani rakyat. Seterusnya, melalui hubungannya dengan pemerintah kolonial, para elite lokal mendapat keuntungan dari penanaman kopi. Dikuasainya hasil produksi kopi terutama oleh pemerintah kolonial Belanda dan sebagian oleh elite lokal telah menjerat petani dalam kemiskinan.

 

 

Selanjutnya di bawah pemerintah kolonial Belanda, para buruh yang bekerja di perkebunan juga hidup dalam kondisi yang buruk. Selain mendapat upah rendah, kekerasan fisik yang dilakukan majikannya adalah penderitaan sehari-hari yang harus mereka rasakan. Di antara para buruh tersebut banyak yang merupakan buruh perempuan yang mengadu nasib dengan bekerja di perkebunan.

Desakan ekonomi menyebabkan perempuan di Pulau Jawa meninggalkan rumah dan bermigrasi ke luar Jawa untuk bekerja di perkebunan swasta yang mulai dibuka di Sumatra pada akhir abad 19. Sebagian dari perempuan ini dipekerjakan di perkebunan-perkebunuan di luar Jawa, termasuk di perkebunan kopi. Mereka akhirnya terjebak dalam kondisi kehidupan yang sangat tidak manusiawi.

 

Sebagian perempuan dijadikan pekerja rumah tangga dan sekaligus pelayan seks oleh para majikan Belanda.

 

Kalau buruh laki-laki diupah rendah, maka pekerja perempuan diupah lebih rendah lagi. Perempuan diupah sedemikian rendah hingga mereka terpaksa menjadi pekerja seks di area perkebunan untuk bertahan hidup. Sebagian perempuan dijadikan pekerja rumah tangga dan sekaligus pelayan seks oleh para majikan Belanda.

Pola penindasan yang melibatkan peran elite lokal terus dilanggengkan hingga setelah kemerdekaan. Pola hubungan yang sudah begitu mengakar dalam struktur dan kultur masyarakat berdampak pada kondisi kesejahteraan petani.

Ketidakadilan yang dialami petani perkebunan kopi tidak hanya terjadi di Indonesia. Petani di berbagai negara juga dirugikan oleh pola hubungan yang tidak adil–hal yang mencetuskan Hari Kopi Internasional.

Salah satu masalah penting yang menjadi sorotan Hari Kopi internasional adalah hambatan yang khusus dialami perempuan petani kopi. Masalah ini tidak lepas dari budaya feodal dan ketimpangan hubungan gender yang telah lama mengakar dalam masyarakat.

 

 

Menurut International Coffee Organization (2018), perempuan memiliki kontribusi besar terhadap sektor kopi. Produksi kopi di berbagai negara bisa melibatkan hingga 70 persen tenaga kerja perempuan. Namun, petani perempuan memiliki akses yang lebih rendah daripada petani laki-laki terhadap tanah, bantuan keuangan, dan informasi.

Masalah akses telah menghambat kemajuan petani perempuan dan berdampak pada penghasilan mereka yang lebih rendah. Untuk mengatasi hal ini, menurut ICO, perlu keterlibatan aktif pemerintah, sektor swasta, dan para konsumen. Selain itu, peran sektor nonpemerintah juga penting.

Oleh karena itu, bisnis kopi kini di berbagai belahan dunia membawa misi untuk memberdayakan petani dan pegiat kopi dengan memberi perhatian pada kaum perempuan yang terlibat.

Di Indonesia, organisasi kopi petani perempuan pertama di Asia Tenggara, Koperasi Kopi Wanita Gayo (KKWG), didirikan di Provinsi Aceh pada 2014. Pada 2017, Koperasi Java Mountain Coffee dan pada 2018, Koperasi Kopi Perempuan Bali juga didirikan untuk mengatasi ketaksetaraan antara pegiat kopi laki-laki dan perempuan dalam rantai pasokan kopi. Turut membanggakan adalah prestasi Koperasi Produsen Kagho Masa, koperasi perempuan yang bergerak sebagai produsen kopi di Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, NTT, yang telah berhasil lolos seleksi dalam ajang lelang kopi tingkat dunia.

 

 

Dengan banyaknya pemangku kepentingan kopisalah satu minuman terpopuler di duniaHari Kopi tidak saja diperingati secara internasional pada 1 Oktober. Berbagai negara juga memiliki Hari Kopi Nasional-nya sendiri. Indonesia pernah memperingati Hari Kopi Nasional pada 17 Agustus, tetapi sejak 2018, Hari Kopi Nasional ditetapkan jatuh pada 11 Maret setelah pameran dan Ekspo Kopi Nusantara yang diselenggarakan pada 9 –11 Maret 2018.

Indonesia sebagai penghasil kopi terbesar keempat di dunia, setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, tentunya turut menyambut Hari Kopi Internasional. Sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar, pemerintah layaknya memperhatikan para petani dan pegiat kopi yang membawa kopi Indonesia ke kancah internasional. Masyarakat pun perlu belajar dari sejarah dan memahami dampak budaya dalam upaya memutus rantai hubungan eksploitatif, memberdayakan semua kelompok miskin terkait, dan menggalang perdagangan kopi yang berkeadilan. Selamat Hari Kopi!

 

Terkait: Hari Kopi dan Kemerdekaan

 

Sumber:

Besttoppers (2020) Top 10 Widely Consumed Drinks in The World. https://besttoppers.com/top-10-widely-consumed-drinks/ [Diakses 1 Oktober 2020].

Fairtrade International (n.d.) ‘Koperasi Kopi Wanita Gayo (Indonesia).’ https://www.fairtrade.net/news/koperasi-kopi-wanita-gayo-indonesia [Diakses 30 September 2020].

IndonesiaBaik.id (2019) Indonesia Negara Penghasil Kopi Terbesar Keempat Dunia. http://indonesiabaik.id/infografis/indonesia-negara-penghasil-kopi-terbesar-keempat-dunia  [Diakses 1 Oktober 2020].

Indonesia.rikolto.org (2016) A Woman, A Farmer, A Leader. https://indonesia.rikolto.org/en/news/woman-farmer-leader [Diakses 1 Oktober 2020].

International Coffee Organization (2018) ‘Gender Equality in the Coffee sector.’ http://www.ico.org/documents/cy2017-18/icc-122-11e-gender-equality.pdf [Diakses 27 September 2020].

Java Mountain Coffee (2020) https://javamountaincoffee.org/id [Diakses 1 Oktober 2020].

Kontan.co.id (2018) ‘Tanggal 11 Maret diusulkan menjadi Hari Kopi Nasional.’ https://industri.kontan.co.id/news/tanggal-11-maret-diusulkan-menjadi-hari-kopi-nasional [Diakses 27 September 2020].

Maharni, Ega (2019) ‘Kerja Sama Menguntungkan untuk Petani Kopi Wanita Indonesia.’ fimela.com https://www.fimela.com/lifestyle-relationship/read/3939196/kerja-sama-menguntungkan-untuk-petani-kopi-wanita-indonesia [Diakses 27 September 2020].

Mukthi, M.F. (2017) ‘Rezim Kopi di Priangan.’ Historia. https://historia.id/ekonomi/articles/rezim-kopi-di-priangan-vZ5ZQ  [Diakses 30 September 2020].

Rosidah, Iyos (2012) ‘Eksploitasi Pekerja Perempuan di Perkebunan Deli Sumatera Timur 1870-1930.’ Masters thesis, Program Pascasarjana Undip. http://eprints.undip.ac.id/42535/ [Diakses 30 September 2020].

Wikipedia (2020) International Coffee Day. https://en.wikipedia.org/wiki/International_Coffee_Day [Diakses 30 September 2020].

 

Sumber Gambar

Gambar: Gambar utama, 1, 3. 4: Pinterest

Gambar 2: fimela.com