Guru tak hanya memberi Ilmu

Guru tak hanya memberi Ilmu
Sumber image: gentamerah.com

Berawal dari unggahan cerita dari saudara sepupuku dari Muntilan di grup WA keluarga besar Darmo Soemarto, tentang guru honorer bergaji Rp.267.000,- per bulan. Sebuah video yang menyentuh rasa, menguras air mata. Guru di sebuah sekolah di Sukabumi, pergi mengajar memakai sepatu usang yang sudah bolong aus dimakan jalan. Singkat cerita bapak guru itu mendapat kejutan hadiah dari teman-teman guru lainnya sepasang sepatu baru dan satu lagi yang paling mengharukan, di dalam kardus sepatu itu ada sebuah "mock up" kunci sepeda motor. Pada saat pak guru itu mengambil dan memandang mock up kunci dengan wajah kebingungan, dari ujung lapangan sekolah masuklah seorang laki-laki naik sepeda motor memboncengkan istrinya.
Sudah bisa ditebak, happy ending penuh haru.
Beberapa komentarpun masuk.

Seperti ga mau kalah dengan cerita diatas, salah satu sepupuku dari Lampung yang beberapa hari yang lalu mengunggah foto syukuran sederhana tumpeng nasi kuning yang dinikmati bersama keluarga dirumah bapaknya, om Pratignyo, syukuran atas diangkatnya Dik Lukas Christiawan yang akrab dipanggil Dik Aris menjadi Kepala sekolah SMA 2 Tanjung Bulan, Kecamatan Kasui, Way Kanan di pedalaman Lampung.

Kali ini dia mengunggah sebuah video yang menunjukkan pemandangan jalan tak beraspal, dengan kiri kanan hanya hutan sepi tak berpenghuni. Tak ada kawan, hanya suara mesin sepeda motor yang terdengar. Hanya beberapa kalimat singkat yang dia ucapkan, tapi cukup "bercerita" menurutku. Selanjutnya beberapa foto pendukung dikirimkannya pula.

SMA 2 Kasui cukup jauh dari rumah Dik Aris yang tinggal di Baradatu, Lampung Utara.
Perjalanan selama kurang lebih 1 jam dari rumahnya, ditempuh dengan sepeda motor menembus jalan berbatu, membelah hutan karet dan sawit jauh dari layak.

Tidak seperti layaknya seorang kepala sekolah pergi ke sekolah membawa tas kantor atau laptop ditangan. Dik Aris memboncengkan sebuah mesin babad rumput.
Ternyata sekolah SMA yang dia pimpin saat itu kurang terawat. Rumput tinggi bahkan melebihi tinggi badan orang dewasa. Lapangan rumput tidak terawat, tidak ada pagar, apa lagi taman. Bangunan kotor, lantai keramik pecah-pecah, plafon ambrol, lingkungan dan pembuangan air tidak layak. Menyedihkan. Seperti bangunan lama tak tersentuh sapu dan alat pembersih lain.

Bulan pertama sambil membenahi kinerja sekolah, administrasi, juga lingkungan sekolah, pak kepala sekolah memberi contoh babad rumput untuk membuat lapangan upacara dan olahraga untuk murid-muridnya dan halaman parkir sepeda motor agar rapi. Pak kepala sekolah jadi tukang batu dibantu guru-guru dan murid-murid membuat pondasi untuk pagar sekolah, mencangkul membuat taman sekolah, agar murid-murid dan guru nyaman di sekolah. Semua dia kerjakan dan pimpin langsung, mengajak gotong royong guru-guru dan murid selepas sekolah.

Saat ini sekolah sudah sedikit lebih enak dilihat, dan digunakan untuk belajar mengajar walau perbaikan fisik belum dilakukan. Aku tahu itu perlu dana yang tidak sedikit dan mendapatkannya perlu proses, perlu perencanaan dan pengajuan.

Dari foto yang dikirimkan, tampaknya sudah ada lapangan upacara merangkap lapangan olah raga, ada taman dengan pembatas dari ban bekas dicat berwarna biru, cukup asri dipandang mata. Pagar bambu memberi kesan sekolah yang tertata, tak lagi liar tanpa batas. Area parkir sepeda motor yang apik rapi berjajar dipinggir bangunan kelas.

Itu baru langkah perdanamu dik Aris, jalan masih panjang, setelah itu kamu harus membenahi kinerja guru dan sistem administrasi sekolahmu, jangan sampai terjadi lagi seperti yang sudah-sudah honor guru yang hanya ratusan ribu itu tertunda pembayarannya hingga 3 bulan lamanya. Salut mereka masih mau kembali ke sekolah untuk mencerdaskan anak bangsa.

Tugasmu memang berat Dik Aris, tapi tabungan amalmu luar biasa.
"Wani perih luuuur" itu kata-kata yang terucap dari bibirmu diakhir video itu. Tapi aku berdoa "manis tembe mburimu, adikku".
(Artinya: "Berani pedih di depan, saudaraku". Tapi aku berdoa "manis dikemudian hari").
Tuhan memberkati.