Goodbye Writers Block

Lewat hypnotic writing, temukan deep relax, lalu menjadi automatic writing.

Goodbye Writers Block

Goodbye Writers Block 

Kamu mungkin perlu coba. Saya ini belum merasa mahir menulis. Apalagi otomatis menulis. Automatic writing, istilahnya Kang Asep Herna. Makanya saya ikutan kelas menulisnya Om Bud dan Kang Asep: The Writers. Dan level 2, sebagai lanjutannya.

Saya ini termasuk yang 5%. 

Jadi, ada 10% orang yang termasuk mudah untuk masuk alam bawah sadar. Trance. Lalu 85% termasuk moderate, dan 5% golongan sulit.

Artinya, dengan sugesti apapun, alam bawah sadar saya itu bentrok dengan logika. Apalagi sugesti itu lewat tulisan. Sesi Kang Asep ini, karena medianya WAG, jadi sugestinya memang lewat teks.

Dan logika saya, rasanya terlalu kuat.

Aneh juga saya pada anggota grup, ternyata lumayan jumlah yang mudah dan moderat itu mencapai 95%. Saya kira orang-orang yang sulit kena sugesti itulah yang banyak. Nyatanya, sedikit saja.

Untuk masuk kondisi trance, dibutuhkan relaksasi. Sedalam mungkin. Deep relax.

Di situlah saya mulai menggali diri sendiri. Mencari trigger, atau pemicu, pemantik. Apa yang bisa membuat saya masuk ke dalam kondisi relax, bahkan sangat relax.

Jadi hypnotic writing, itu bukan berarti kita tidak sadar. Itu yang saya pelajari insightnya. Tapi kondisi kita dalam keadaan sangat tenang. Sehingga pikiran kita mungkin bisa terbang ke suatu masa. Atau mata kita melayang ke kejadian yang diharapkan. Atau tiba-tiba saliva ini mengalir karena ada koordinasi pikiran, indera penciuman, dan pengecap saat di hadapan indera penglihatan ada makanan yang sungguh menggugah. Walau itu semua aslinya tidak ada di depan mata secara nyata. Semua itu hanya di pikiran.

Saya ngulik diri sendiri, apa tombol ON-nya, supaya kondisi deep relax itu cepat terkoneksi. Sepuluh hitungan, bahkan lebih cepat dari itu.

Setelah 9 dari 12 sesi, akhirnya saya temukan tombol ON, sebagai trigger, pemicu yang dapat secara cepat membawa saya ke dalam kondisi deep relax.

https://youtu.be/77ZozI0rw7w

Link itu, bagi saya dahsyat sekali.

Ternyata saya perlu bantuan, tambahan suasana pembawa, yang mengantarkan pada kondisi sangat tenang.

AIR MENGALIR.

Setiap orang bisa jadi berbeda tombol ON-nya. Trigger bisa bervariasi. Kalau saya, suara air mengalir itu.

Kalau saya pasang ear phone, lalu putar audio di link tersebut, kondisi deep relax dapat tercapai dengan 2 kali tarikan napas. Tarik dan buang lewat hidung. Dan embusan terakhir, bisa sangat panjang. Saat itu, kecepatan jantung berdetak melambat.

Dan satu tarikan napas panjang, untuk membuat semua keadaan nyaman. Sangat nyaman.

Selepasnya, menulis pun lebih lancar dari biasanya. Tulisan ini pun, saya buat sambil mendengarkan air mengalir dari link di atas.

Jadi writers block, sebenarnya bisa dengan mudah dihilangkan.

Buat saya, kondisi sangat tenang begitu sudah didapatkan dengan bantuan audio air mengalir, selanjutnya mengajak pikiran ke satu titik. Apa tulisan tentang kenangan? Momen bahagia? Kesedihan? Apa saya mau lanjutkan cerita dalam novel Tuing? Atau kisah-kisah baru. Semua bisa ditulis. Asal: deep relax. 

Coba deh. Ya mungkin gak semua berhasil. Mungkin trigger kita berbeda. Yang perlu dilakukan adalah ngulik diri sendiri. Kecuali sudah termasuk ke yang 95%.

Saya enggak ahli untuk soal ini: hypnotic writing, automatic writing. Biarlah jadi expertisenya Kang Asep. Tapi saya coba berbagi ceritanya, bahwa ada metode lain untuk membuat menulis selancar air mengalir di sungai.

Banyak kelas menulis online, tapi The Writers ini punya cara unik, untuk mendobrak writers block. 

Saya tidak sedang promokan kelas ini yang bayarnya terserah, tapi rasanya sebagai penulis perlu dapat insight lain. Dari seorang copywriter, storyteller, macam Om Budiman Hakim. Dan urusan hypnotic writing dari Kang Asep Herna.

Buat yang sudah lancar menulis, bahkan hanya dengan jentikan jari Thanos, tulisan pun mengalir deras, jemari tap dance di atas kibor, kamu beruntung.

Saya, rupanya masih harus banyak belajar.

Bagi yang mau coba belajar di kelas menulisnya Om Bud dan Kang Asep --The Writers-- saran saya ikut dulu batch normalnya, lalu ikut kelas lanjutannya: Level 2. Karena di level 2 itulah ada automatic writing, yang dasarnya sudah dipelajari di batch yang normal.

Selamat mencari trigger.